Skip to content

Ketepatan

 

Dulu, kita terbiasa melakukan apa pun sesuka hati, sesuai selera kita sendiri. Tapi sekarang, kita harus bertobat sebelum meninggal dunia, sebelum pulang ke rumah Bapa. Jangankan orang tua, orang muda yang tidak terbiasa hidup menurut pimpinan Roh pun akan kesulitan untuk bisa berjalan seiring dengan Tuhan.  Masalahnya, kita telah di-“setting” oleh dunia untuk menjadi alat dunia, sehingga yang kita pikirkan dan rasakan adalah perasaan dunia yang kita serap. Hal itu diperoleh melalui pergaulan, tontonan, media sosial, dan lain sebagainya—sehingga kita menjadi bejana dunia.  Di Matius 16, Yesus berkata,      “Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”  Apa yang dipikirkan manusia bukanlah yang dipikirkan Allah.

Terlalu banyak pengaruh dunia yang kita serap dan masuk ke dalam pikiran kita. Namun, setelah kita sadar, kita mulai mengoreksi dan membersihkan diri. Kita mulai menyadari bahwa ketika kita mengucapkan suatu kata, kita bisa membedakan: yang ini bukan dari Tuhan, yang itu dari Tuhan. Keputusan ini bukan dari Tuhan, tapi dari diri sendiri—didorong oleh emosi, ego, dan sebagainya.  Kita mulai bisa membedakan dan sadar bahwa begitu banyak kesalahan kita; banyak hal yang meleset—mungkin bukan pelanggaran hukum atau pelanggaran moral, tetapi tidak presisi, tidak tepat. Dalam bahasa Yunani disebut hamartia (ἁμαρτία).

Itulah kata yang paling sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menyebut “dosa”. Secara etimologis (asal-usul kata), hamartia tidak mengandung unsur kejahatan. Hamartia berarti meleset, tidak kena sasaran, atau luput. Sebagai tambahan, dalam Alkitab Perjanjian Baru, terjemahan kata “dosa” ada beberapa:      Parabasis, artinya pemberontakan. Adikia, artinya ketidakadilan atau kejahatan. Kakos, artinya jahat  Namun, yang paling sering digunakan adalah hamartia. Jadi, sebenarnya orang Kristen mestinya sudah tidak lagi mempersoalkan hal-hal seperti membunuh, mencuri, atau berzina, tetapi harus masuk pada urusan ketepatan. Maka, setiap hari kita harus belajar, supaya tidak ada satu kata pun yang kita ucapkan yang meleset dari kehendak Tuhan.

Sejatinya, “Serupa dengan Kristus” adalah hal yang abstrak—tidak ada kalimat yang benar-benar bisa menjelaskan secara tuntas. Setebal apa pun buku, tidak ada yang bisa menjelaskan seperti apa Kristus itu; sama halnya dengan “berkenan kepada Allah”. Karena hal ini tidak bisa dituliskan di buku, melainkan tertulis di dalam perasaan Tuhan—abstrak. Tapi ini tidak akan menjadi abstrak bagi kita jika kita mengalaminya secara nyata. Kita bisa merasakan: “Ini berkenan, ini tidak; ini tepat, ini meleset.” Hal itu menjadi riil bagi orang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan.

Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, artinya Allah yang tidak kelihatan ditampilkan dalam wujud Yesus. “Engkau telah melihat Aku, berarti engkau telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).  Itu ucapan Tuhan Yesus. Lalu, sebelum naik ke surga, Yesus berpesan:      “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21).  Artinya, kitalah yang harus memperagakan sifat dan karakter Bapa. Bangsa Israel menjadi saksi siapa Allah yang benar; tetapi orang Kristen menjadi saksi bagaimana Allah yang benar. Maka, Tuhan Yesus berkata: “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” (Mat. 5:48)

Jadi, pergi ke gereja sepuluh kali seminggu pun tidak ada artinya jika setiap hari kita tidak mewujudkan, menerjemahkan, mengungkapkan, dan mengekspresikan perasaan Bapa dalam tindakan nyata. Percuma jadi aktivis, jadi pendeta—semua percuma. Sebab yang membuat Bapa puas adalah ketika perasaan-Nya diterjemahkan dalam tindakan kita.  Ketika kita diperhadapkan dengan seseorang, kita harus bertanya: bagaimana perasaan Bapa terhadap orang ini? Itu yang harus kita lakukan! Dan untuk bisa mengerti hal itu, kita harus belajar setia. Sehingga, suatu hari ketika kita meninggal dunia, Bapa menemukan wajah Tuhan Yesus dalam wajah kita—wajah batin kita. 

Memang sejatinya, kita menjadi Kristen hanya untuk memperagakan perasaan Bapa. Kita telah dibeli dengan harga, sehingga kita bukan milik kita sendiri. Kita menjadi alat peraga-Nya Tuhan.  Kita harus hidup kudus sebelum mati, supaya wajah Yesus nyata dalam hidup kita. Maka, kita harus terus berjuang. Serupa dengan Kristus memang terdengar abstrak, tetapi ketika kita belajar melakukannya, hal itu tidak lagi abstrak—karena kita bisa merasakan kapan kita tepat dan kapan kita meleset.  Mari kita berubah, agar kita menjadi cantik secara rohani di mata Tuhan.