Selagi kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, berarti kita masih memiliki napas hidup dan Tuhan mau mengoreksi catatan hidup kita. Hal-hal yang tidak patut kita lakukan, Tuhan mau menghapus dengan darah Yesus. Tuhan juga mau menunjukkan hal-hal yang tidak patut tercatat di dalam kitab kehidupan kita, yang nantinya dikehendaki akan dilestarikan di kekekalan. Firman Tuhan yang mengatakan, “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan,” artinya orang-orang yang hidup dalam penghormatan dan kecintaan kepada Tuhan, menyenangkan hati-Nya serta melayani-Nya. Tidak mati konyol di dunia, tetapi mati dalam percintaan dengan Tuhan.
Dan mereka adalah orang-orang yang disebutkan Alkitab, mendapat penegasan dengan kalimat “sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka.” Tidak sia-sia usaha untuk hidup suci, usaha untuk takut akan Allah, usaha melepaskan percintaan dunia lalu mencintai Tuhan, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka. Maka sejak sekarang, kita mau mengubah sejarah hidup kita, mengubah lembar-lembar hari hidup kita. Kita minta Tuhan mengoreksi apa yang telah kita lalui. Tuhan berkuasa menghapus dengan darah-Nya, darah Yesus. Dan Tuhan mau kita memiliki catatan yang baru. Dan kiranya ini menjadi kegemaran kita, menjadi kesukaan kita lebih dari apa pun.
Sadari bahwa kita sedang menoreh dan menggoreskan sejarah kehidupan dalam kitab kehidupan kita masing-masing. Ayo kita berubah. Ubahlah rutinitas hidup kita. Harus ada respons dari pihak kita, langkah dari pihak kita untuk mengalami perubahan dan bisa mengubah sejarah hidup kita. Kita harus memiliki langkah konkret. Jangan hanya mengaminkan apa yang kita baca atau dengar, tetapi melangkahlah.
Wahyu 14:12, “yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.”
Ayat 13 tentu tidak bisa lepas dari ayat yang ke-12. Ada kata-kata yang patut mendapat perhatian kita, yaitu ketekunan. Ketekunan bicara soal konsistensi untuk mengisi hari hidup kita dalam pencarian akan Tuhan, usaha menjaga kesucian hidup, yaitu ketegasan kita menolak dosa dan pengaruh dunia. Kata yang berikut adalah “orang-orang kudus.” Ini bukan untuk orang sembarangan. Sebab catatan hidup yang berharga di hadapan Allah dan dilestarikan di dalam kekekalan adalah catatan hidup orang-orang kudus.
Mendengarkan kata “orang-orang kudus,” jangan kita merasa asing. Orang-orang kudus atau orang-orang suci, itulah kita. Bukan orang-orang khusus di dalam gereja yang mendapat jabatan oleh sinode. Semua kita adalah orang-orang kudus. Rasul Paulus menulis, Tuhan memberikan rasul, nabi, gembala, penginjil, pengajar, memperlengkapi orang-orang kudus. Orang kudus itu bukan orang-orang tertentu yang disahkan gereja sebagai orang kudus, melainkan semua orang percaya yang ditebus oleh darah Yesus, yang memberi diri dididik dan dibentuk oleh Tuhan.
Jadi, mestinya kita menyadari bahwa kita orang kudus. Jangan takut, jangan ragu-ragu mengatakan: “aku orang kudus.” Kita tidak mengatakannya kepada orang lain, tetapi kita mengatakan kepada diri kita sendiri, supaya kita bisa menjaga martabat kita. Sejujurnya, banyak di antara kita yang tidak pernah mengatakan itu, bahkan kita takut untuk mengatakannya karena kita merasa tidak layak. Tetapi sebenarnya orang-orang yang ditebus oleh darah Yesus adalah orang-orang yang dikuduskan dan harus menjadi benar-benar kudus.
Kalau kita membaca Alkitab, kita menemukan kata “dikuduskan.” Ini dikuduskan oleh darah Yesus. Apakah orang yang dikuduskan sudah benar-benar kudus? Belum. Dari perbuatan dosa, darah Yesus menguduskan. Tetapi manusia memiliki kodrat; kodrat dosa inilah yang akan terus melukis, menggoreskan perbuatan-perbuatan yang mendukakan hati Allah. Ini harus dikuduskan oleh firman Tuhan. Jadi buku kehidupan kita—yang merupakan gambaran kehidupan dan jejak rekam kita—bisa dikoreksi oleh Tuhan. Perbuatan-perbuatan kita yang salah, Tuhan mau menghapus dengan darah-Nya. Tetapi masalahnya sekarang adalah bagaimana dengan isi lembar-lembar hidup kita ke depan?