Skip to content

Ketekunan

Melalui proses panjang belajar firman Tuhan dan menghampiri takhta Tuhan setiap hari, diharapkan kita bisa mencapai “kewajaran” di hadapan Tuhan. Kewajaran ini ditandai dengan berbagai hal. Di antaranya adalah perasaan puas, bahagia, tenang dan cukup dengan Tuhan Yesus. Perasaan seperti ini sebenarnya tidak mudah dimiliki, sebab ia harus meninggalkan segala kesenangan dunia barulah bisa menikmati kesenangan dari Tuhan. Ini hal yang penting, banyak orang mencoba mencari Tuhan dan beragama untuk menemukan ketenangan. 

Berbeda dengan kekristenan, justru ketika seseorang berjumpa dengan kekristenan, maka akan terjadi guncangan-guncangan. Guncangan itu dimaksudkan agar “selera” jiwa seseorang diubah. Apakah seseorang berhasil lolos atau tidak, tergantung ketekunannya belajar kebenaran Tuhan dan menikmati kehadiran Tuhan. Seperti yang terjadi dalam perjalanan Tuhan Yesus di bumi ini. Ketika banyak orang datang berbondong-bondong kepada-Nya, Ia mengatakan sesuatu yang membuat “iman mereka terguncang.” Iman di sini maksudnya adalah hidup keberagamaan mereka. 

Seperti orang-orang beragama pada umumnya, mereka menganut suatu agama supaya mendapat ketenangan. Demikian pula orang banyak mengikut Tuhan Yesus berharap bahwa mereka akan mendapat ketenangan versi mereka. Ternyata Tuhan Yesus malah menyampaikan suatu pernyataan yang mengguncang mereka, yaitu ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa darah-Nya adalah benar-benar minuman dan daging-Nya adalah benar-benar makanan (Yoh. 6:54-61). Ini bertentangan dengan pengharapan mereka. 

Bukan hal yang mudah menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan harapan dan keinginan banyak orang. Tetapi demi kebenaran dan keselamatan mereka sendiri, maka Tuhan Yesus mengatakannya. Sebab banyak ketenangan semu atau palsu yang mereka anggap sebagai “karunia ilahi.” Di sini terjadi penyesatan atas orang-orang beragama. Sejatinya, itu bukan ketenangan yang sejati dari Tuhan. Ketenangan dari Tuhan hanya dialami oleh mereka yang sudah mengosongkan bejana hatinya dari cara berpikir anak dunia dan mengenakan cara berpikir Tuhan. 

Selama seseorang belum mengenakan pikiran dan perasaan Kristus, ia tidak akan pernah memahami damai sejahtera Tuhan atau ketenangan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya kita harus belajar dari Tuhan Yesus untuk dapat memiliki dan menikmati kelegaan-Nya (Mat. 11:28-29). Demikianlah pada kenyataannya, perlu perjuangan untuk mengalami ketenangan-Nya. Di Lukas 18:8 Tuhan Yesus menunjukkan kekhawatiran-Nya dengan pernyataan, “… jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Hal ini harus benar-benar kita perhatikan. 

Pernyataan Tuhan Yesus ini memberi peringatan yang sangat jelas bahwa menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati—yang memiliki iman seperti yang dikehendaki oleh Dia menjelang kedatangan Tuhan Yesus—adalah sesuatu yang sangat langka. Janda dalam Lukas 18 ini menunjukkan perjuangannya yang berat supaya hak-haknya dibenarkan. Perumpamaan mengenai janda dalam Lukas 18 hendak menunjukkan kepada kita betapa pentingnya ketekunan dan keberanian untuk mempertahankan integritas. Integritas sebagai anak-anak Allah yang memiliki kualifikasi “wajar di hadapan Tuhan.” Tentu saja ukuran wajar di hadapan Tuhan sama dengan sempurna seperti Bapa.

Suatu hari nanti Tuhan akan membenarkan umat pilihan-Nya (Luk. 18:8). Kata membenarkan dalam teks aslinya adalah ekdikesis (ἐκδίκησις) yang juga bisa berarti avenge, vengeance, punishment (membalas, membalas dendam, penghukuman). Maksud pernyataan ini adalah Tuhan akan menunjukkan yang benar dan salah serta memberi konsekuensinya. Kalau hari ini seakan-akan Tuhan bungkam, tetapi suatu hari nanti Ia pasti berbicara. “Bungkamnya” Tuhan harus kita waspadai sebagai sesuatu yang “mengerikan.” Kita harus berusaha mendengar Tuhan berbicara memberi penilaian-Nya kepada kita. Kita harus selalu bersedia dievaluasi oleh Tuhan, bagaimana penilaian Tuhan terhadap kita sekarang. 

Hidup ini berkonsekuensi, apa yang yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensi. Konsekuensi yang diterima seseorang pasti sesuai atau berdasarkan pilihan, keputusan dan segala tindakannya. Kalau seseorang sungguh-sungguh berusaha mengikut Tuhan Yesus atau berusaha terus menerus untuk memahami jalan hidup Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya serta berjuang terus untuk dapat meneladani-Nya, pasti ada buah atau dampak yang diakibatkannya. 

Tetapi rupanya sedikit sekali orang yang berani mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan Yesus dengan benar. Karena dunia yang fasik telah mewarnai jiwa dan seluruh kehidupan banyak orang, sehingga mereka telah menjadi rusak. Selain itu, jarang orang berani memiliki gaya hidup yang dipandang “weird” (aneh) di mata manusia lain, karena sebagian besar manusia tidak mengikuti jalan Tuhan. Walaupun yang mengikut jalan Tuhan sangat sedikit, tetapi kita harus tetap di jalan ini.

Apakah seseorang berhasil mengubah selera jiwanya atau tidak, tergantung ketekunannya belajar kebenaran Tuhan dan menikmati kehadiran Tuhan.