Ketika Musa pertama kali dipanggil oleh Allah di hadapan semak duri yang menyala tanpa hangus, ia secara halus menolak panggilan tersebut dan berkata, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Kel. 4:1). Perkataan ini sering ditafsirkan sebagai keraguan Musa terhadap kemampuan dirinya untuk mengemban tugas yang berat dan penuh risiko. Banyak pengkhotbah juga merujuk ayat ini untuk menggambarkan bahwa Allah dapat memakai orang yang minder, tidak cakap, atau kurang diperhitungkan.
Namun jika menimbang latar belakang Musa sebagai putra Firaun yang tumbuh dalam lingkungan penuh keistimewaan, penggambaran tersebut menjadi kurang tepat. Sebagai seseorang yang diangkat menjadi bagian keluarga kerajaan Mesir, Musa tentu mengenyam pendidikan ala bangsawan, yang memberinya akses pada pengetahuan dan keterampilan tinggi. Dengan demikian, besar kemungkinan Musa memiliki kepercayaan diri yang baik dan tidak minder seperti yang sering dilukiskan.
Kalimat penolakannya lebih tepat dipahami sebagai penolakan halus yang lahir dari trauma penolakan. Pada pasal sebelumnya (Kel. 2:11–15), Musa ditolak oleh bangsanya sendiri ketika ia melerai dua orang Israel yang sedang berkelahi. Alih-alih disyukuri, ia justru ditolak dan dihakimi melalui kejadian masa lalunya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, seperti engkau membunuh orang Mesir itu?” Perkataan ini membangkitkan “hantu masa lalu” dalam diri Musa.
Ketika Musa membunuh orang Mesir yang menganiaya orang Israel, ia mungkin bermaksud baik dan berharap dihargai sebagai pahlawan. Namun yang terjadi sebaliknya—ia ditolak oleh saudara sebangsanya. Musa menjadi pahlawan yang tertolak. Penulis Keluaran mencatat bahwa Musa menjadi takut dan melarikan diri dari Mesir. Karena itu, ketika Allah hendak mengutusnya kembali kepada bangsa Israel, ia menolak secara halus. Penolakan Musa adalah buah dari penolakan sebelumnya; ia ragu apakah orang Israel akan menerima dirinya sebagai nabi Allah.
Kembali ke Keluaran 4, Allah ternyata tidak menyerah. Ia tidak menerima keberatan Musa begitu saja, tetapi justru meyakinkannya melalui tiga mukjizat yang dapat ia tunjukkan jika bangsa Israel meragukan panggilannya (Kel. 4:2–9). Namun Musa tetap lebih memilih percaya pada masa lalunya daripada percaya pada Allah. Ia kembali menyodorkan penolakan, kali ini dengan alasan bahwa ia tidak mahir berbicara (Kel. 4:10). Allah kembali menguatkannya: Ia akan menyertai Musa. Meski demikian, Musa masih menolak, dan penolakan terakhirnya ini menunjukkan keadaan hatinya yang sebenarnya—ia dihantui rasa takut akan penolakan. Tetapi Allah bukanlah Allah jika Ia menyerah. Ia menawarkan Harun sebagai juru bicara bagi Musa, dan akhirnya Musa bersedia.
Dari kisah ini kita melihat betapa kuatnya kuasa penolakan dalam hidup seseorang. Penolakan dapat membuat seseorang meragukan diri sendiri, merasa tidak layak, dan memandang dirinya tidak pantas. Namun sebesar apa pun kuasa penolakan, lebih besar kuasa kasih Allah. Kuasa kasih Allah terletak pada keteguhan hati-Nya untuk tetap memercayai orang yang telah dipilih-Nya. Ia terus berkomitmen memelihara dan memberdayakan manusia yang dikasihi-Nya. Meski manusia berusaha menjauh dan bahkan mengkhianati-Nya, Ia tidak lelah mencari mereka.
Bukankah ini menjadi pelajaran penting tentang komitmen bagi kita? Sering kali kita merasa kehabisan alasan untuk mempertahankan komitmen kita kepada Allah. Suasana dunia berhasil memalingkan wajah kita dari-Nya. Kita menjadi tidak setia dan menyerah pada komitmen yang telah kita bangun dengan air mata dan kesungguhan. Hari ini, belajar dari keteguhan komitmen Allah, kita perlu meneguhkan kembali pendirian kita: bahwa kita tidak akan berpaling dari janji dan komitmen kita kepada Dia. Percayalah, komitmen Allah yang teguh hanya pantas dibalas dengan keteguhan yang serupa.