Skip to content

Kesombongan

 

Kata ptokoi dalam Ucapan Bahagia tidaklah dikaitkan dengan harta. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan” tidak hanya ditujukan kepada orang yang miskin secara harta, tetapi juga kepada orang-orang yang tidak berdaya, walaupun secara materi ia kuat. Mengapa orang kaya sukar masuk surga? Karena ketika ia merasa kuat, kekayaan tersebut menjadi andalan dan kekuatannya; maka terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri atau yang mengandalkan kekuatan di luar Tuhan. Kesombongan dapat berangkat dari beberapa landasan. Pertama, orang yang tidak mengakui bahwa keberadaannya itu dari Tuhan. Kedua, kesombongan juga dapat berangkat dari seseorang yang merasa mampu hidup tanpa Tuhan.

Namun, jika kita melihat secara jujur fakta hidup, kita tidak bisa menjadi sombong. Orang bisa memiliki banyak uang, tetapi banyak kejadian atau peristiwa terjadi di luar prediksi; manusia itu sangatlah terbatas. Walaupun mempunyai kekuatan finansial, haruslah diingat bahwa hal itu tidak bisa menjawab kebutuhan kekal. Kesombongan berangkat dari ketidaksadaran bahwa keberadaannya itu hanya karena anugerah Tuhan. Kesombongan juga berangkat dari perasaan mampu menjalani hidup secara mandiri. Memang tidak bisa dibantah bahwa orang yang mempunyai uang akan merasa mampu menghadapi hidup dengan kekuatan uang; uang juga memiliki kekuatan sosial yang luar biasa.

Tanpa disadari, orang yang memiliki kekuatan uang, ketika menjalani hidup dan membuktikan bahwa kekuatan uang bisa menyelesaikan segala sesuatu, maka irama jiwanya—yang terbiasa melihat segala sesuatu dapat diselesaikan dengan kekuatan uang yang dimilikinya—akan menganggap bahwa semuanya bisa ia selesaikan. Padahal, kebutuhan kekalnya tidak bisa dijawab dengan uang. Mungkin nanti pada hari tuanya ia mulai menyumbang gereja, membangun rumah ibadah, membuat foundation, mulai beramal; tetapi itu tidak menjawab, sebab keselamatan adalah dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, dan hal ini tidak bisa ditempuh dengan cara menyuap Tuhan.

Supaya tidak menjadi sombong, kita harus selalu mengingat dua hal ini, yaitu: Pertama, banyak kejadian atau peristiwa yang bisa terjadi di luar prediksi kita. Namun, apabila kita berada dalam genggaman tangan Tuhan, percayalah kita akan aman sampai kapan pun. Oleh karena itu, persekutuan dengan Tuhan adalah segalanya. Walaupun keadaan kita seperti telur yang berada di ujung tanduk, apabila Tuhan menggenggam kita, kita tetap aman. Kedua, yang dapat menjawab kebutuhan kekal kita hanyalah Tuhan semata, sehingga kita sungguh-sungguh dapat berkata, “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.”

Kalimat “miskin di hadapan Tuhan”—dari bahasa aslinya ptokoi to pneumatiτωχο τ πνεματι)—dapat diterjemahkan secara bebas sebagai miskin dalam roh. Ayat itu secara tidak langsung menggiring orang untuk tidak mengaitkan hal ini dengan berkat jasmani. Kata ptokoi itu sendiri memiliki pengertian yang lebih luas daripada penikros dan penes tadi.

Namun sebelumnya, kita harus mengerti terlebih dahulu apa itu basileia ton ouranon (βασιλεα τν ορανν) yang diterjemahkan sebagai Kerajaan Surga. Apa bedanya Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga? Selain karena penulisan dalam kitab Matius ditujukan kepada para pembaca Yahudi yang menghormati nama “YHWH” secara literal, penggunaan frasa “Kerajaan Surga” lebih menunjuk kepada penyataan dari Kerajaan Tuhan Yesus di langit dan bumi baru.

Tentu saja kedua frasa ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan, sebab keduanya memiliki satu unsur yang sama, yaitu pemerintahan Allah. Baik Kerajaan Allah maupun Kerajaan Surga, keduanya memiliki unsur kuat yang sama, yaitu pemerintahan Allah, di mana Allah memerintah sebagai Penguasa tertinggi. Namun, sekali lagi ditekankan bahwa penggunaan kata “Surga” lebih menunjuk kepada suasana, selain kepada pemerintahan Allah, yaitu suasana dan penyataan-Nya secara fisik. Sedangkan Kerajaan Allah lebih menunjuk kepada pemerintahan Allah dan pengaturan Tuhan, yang bukan hanya akan terwujud nanti, tetapi juga sekarang.