Pasti kita sudah pernah mendengar hukum tabur tuai. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Apa yang seseorang tabur, itu juga akan dituainya. Artinya, bahwa setiap kita akan memperoleh apa yang patut atau harus kita terima akibat dari apa yang telah kita lakukan. Untuk orang-orang Kristen yang belum dewasa, orang-orang Kristen yang belum akil balig, hukum tabur tuai dalam Galatia 6:7 hanya berlaku dalam atau ditarik dalam wilayah hidupnya. Kalau ia bekerja rajin, maka kebutuhannya akan terpenuhi. Kalau dia kerja keras, maka dia akan memperoleh lebih banyak. Kalau seorang mahasiswa atau pelajar rajin, maka lulus atau mendapatkan ranking. Kalau seseorang menjaga pola makan dan pola hidup yang baik, maka tubuhnya sehat, jauh dari sakit, atau memiliki imunitas yang tinggi.
Hukum tabur tuai hanya dikaitkan dengan kehidupan pribadi sebab proyeksi, dan orientasinya masih sekitar hidupnya pribadi. Masih sekitar pemenuhan kebutuhan jasmani bagi dirinya dan orang-orang yang dia kasihi di sekitarnya, terutama keluarga. Tetapi kalau seseorang mulai menginjak dewasa, hukum tabur tuainya akan berproyeksi lebih luas. Orientasinya sudah menjelajah kekekalan. Bukan hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani yang proyeksinya untuk diri pribadi dan orang-orang di sekitarnya yang dia kasihi, khususnya keluarga, tetapi sudah memiliki orientasi yang lebih luas. Proyeksinya kekekalan.
Oleh karena itu, jangan kita sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Artinya, Allah akan tegas terhadap tatanan-Nya. Allah tidak bisa dibujuk untuk melakukan apa yang tidak sesuai dengan tatanan-Nya, karena apa yang ditabur orang itu juga akan dituainya. Orang yang tidak menjaga pola makan dan pola hidup yang baik, yang satu kali harus terkena gula darah—misalnya diabetes sehingga kakinya harus diamputasi karena ada luka yang tidak pernah sembuh, kakinya mulai membusuk—maka hal ini lumayan menggetarkan. Jangan main-main!
Tetapi lebih menggetarkan kalau hukum tabur tuai ini dikenakan untuk jelajah yang lebih luas yang orientasinya sudah meliputi kekekalan. Apa yang kita lakukan selama hidup di dunia ini, harus kita tuai di kekekalan. Sejatinya, itu lebih menggetarkan. Namun herannya, manusia tidak lebih gentar terhadap tuaian di kekekalan daripada urusan jasmani. Orang bisa bekerja keras, rajin demi masa depan di bumi ini, menjaga pola hidup, pola makan yang baik supaya sehat. Tentu itu tidak salah, dan memang harus kita lakukan. Tetapi yang semestinya harus kita persiapkan lebih adalah kekekalan kita yang harus kita pandang sebagai sesuatu yang dahsyat.
Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur di Lukas 16 di mana tindakan si bendahara yang tidak jujur itu dipuji oleh majikan. Jika kita tidak menemukan pesan utamanya, maka kita bisa salah memahami; seakan-akan kecerdikan dari bendahara yang mengakali majikannya yang mana merupakan tindakan yang tidak jujur ini patut mendapat pujian dan dicontoh. Sebenarnya, maksud Tuhan Yesus tidaklah demikian. Tuhan tidak mengajarkan kepada kita ketidakjujuran, tetapi yang hendak Dia ajarkan adalah kesiapan menghadapi pemecatan. Ini sebenarnya sebuah contoh yang ekstrem. Jelas ketidakjujuran di Alkitab ditentang karena itu melanggar etika kehidupan.
Jadi rupanya Tuhan mau kita semua memberi perhatian kepada sikap bersiap, sikap berjaga menghadapi hari pemecatan. Jangan main-main! Kita pasti mempunyai hari pemecatan, dan kita tidak tahu kapan hari pemecatan itu. Kalau kita seorang pekerja, surat dilayangkan sebulan sebelum kita akan dipecat, diberhentikan dengan hormat dan lain sebagainya. Tapi kalau hari pemecatan umur hidup, Tuhan tidak memberitahu. Coba pikirkan, jangan main-main!