Skip to content

Kesetiaan dalam Sukacita

 

Terdapat kecenderungan di tengah orang Kristen dan gereja pada umumnya untuk mendorong jemaat agar tetap setia kepada Tuhan di tengah kesulitan dan penderitaan. Tentu hal ini tidak keliru. Sifat dasar manusia ialah menghindari kesulitan. Jika kesetiaan kepada Tuhan justru melanggengkan kesulitan tersebut, ada kemungkinan manusia akan meninggalkan Tuhan demi menghindarinya. Oleh karena itu, dorongan untuk tetap setia kepada Tuhan di masa-masa sulit perlu terus disuarakan guna menguatkan orang-orang Kristen yang berada dalam situasi tersebut. Namun, harus diakui secara jujur bahwa keadaan orang-orang Kristen pada masa kini telah jauh berbeda.

Dari segi pengakuan negara, Kristianitas telah memperoleh legal standing sebagai agama resmi. Dari segi keberadaan tempat ibadah, khususnya di Indonesia, telah ada dukungan pemerintah setempat dalam hal perizinan gedung gereja, meskipun di beberapa daerah masih terdapat kesulitan. Bahkan, tidak sedikit gereja di Indonesia—dan juga di dunia—yang telah memiliki gedung yang megah. Dari sisi sosial-politik, cukup banyak orang Kristen yang menduduki jabatan publik strategis sehingga dapat mewakili kepentingan umat Kristiani. Ditambah lagi, suasana dunia dewasa ini cenderung membuai banyak orang Kristen, alih-alih mendesak atau menganiaya mereka.

Di satu sisi, kondisi ini menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan kuantitas Kristianitas. Namun, di sisi lain, suasana tersebut secara sistematis dan masif menggiring orang-orang Kristen kepada status quo atau zona mediokritas. Dalam bahasa Alkitab, keadaan ini disebut sebagai hidup yang “suam-suam kuku”.

Status quo atau zona mediokritas ini tampak dalam kehidupan orang-orang Kristen yang tetap memiliki identitas dan rutinitas sebagai orang Kristen. Kemapanan identitas Kristiani tidak lagi menghadapi ancaman yang berarti. Peningkatan kesejahteraan hidup yang diupayakan oleh para pemimpin dunia di berbagai negara juga turut mengurangi tekanan terhadap kehidupan umat Kristen. Akibatnya, banyak orang Kristen hidup lebih baik dan tidak lagi mengalami masa-masa sulit seperti pada zaman dahulu, ketika kesejahteraan hidup rendah dan identitas Kristiani sangat rentan. Namun, tanpa disadari, mereka justru berselingkuh dengan dosa dan kenikmatan dunia.

Terhadap situasi mediokritas ini, gereja relatif jarang bersuara. Gereja lebih sering mendorong jemaat untuk setia di tengah kesulitan, sementara faktanya banyak jemaat justru hidup dalam sukacita, bahkan kelimpahan. Terhadap kondisi ini, hampir tidak terdengar seruan yang tegas untuk tetap setia di tengah sukacita. Kalaupun disampaikan, biasanya hanya sebatas imbauan untuk tetap beribadah dan tidak meninggalkan Tuhan. Belum ada konsep yang jelas dan kuat tentang bagaimana hidup setia di tengah sukacita. Bahkan, sukacita, kesejahteraan, dan kemapanan identitas sering kali dianggap sebagai tanda berkat Tuhan. Orang-orang yang hidup dalam kondisi tersebut pun dipandang sebagai orang-orang yang telah setia dan akan terus setia kepada Tuhan.

Padahal, situasi yang nyaman justru merupakan ancaman laten bagi Kristianitas. Tanpa bermaksud meromantisasi penderitaan—seolah-olah orang Kristen harus terus hidup menderita—kita perlu menyadari bahwa orang Kristen boleh mengalami kenyamanan, tetapi tidak boleh tenggelam di dalamnya. Ia harus dengan sadar dan waspada menjaga hatinya agar tidak larut dalam kemabukan dan pesta pora kesejahteraan hidup, seperti yang diperingatkan dalam Lukas 21:34. Hati harus terus berjaga-jaga, sebab kenyamanan dapat mengikis kesetiaan secara perlahan. Yang lebih mengerikan, seseorang dapat berselingkuh dengan dunia tanpa menyadarinya, sambil tetap merasa dirinya berada di dalam Tuhan.

Salah satu cara untuk memelihara kesetiaan di tengah sukacita dan keadaan yang baik ialah dengan memberi diri untuk melayani Tuhan. Seseorang yang telah mencapai kesejahteraan hidup, kemapanan, dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya, perlu dengan sengaja menyibukkan dirinya dengan “masalah orang lain”. Sebab di dalam masalah orang lain itulah kita menemukan pekerjaan Tuhan. Ungkapan “masalah orang lain” ini memiliki makna yang luas, sesuai dengan panggilan Tuhan bagi setiap pribadi. Misalnya, terlibat aktif dalam pelayanan gereja, mendukung para hamba Tuhan di garis depan, atau menolong mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Dengan demikian, seseorang tidak akan terlena oleh kenyamanan yang Tuhan izinkan untuk ia nikmati. Sebaliknya, ia menggunakan kenyamanan atau privilege tersebut sebagai sarana untuk melayani Tuhan. Inilah salah satu wujud nyata dari memelihara kesetiaan di tengah sukacita.