Skip to content

Kesempatannya Sangat Terbatas

 

Kekristenan hari ini, bagi banyak orang Kristen, telah menjadi sekadar agama, bukan jalan hidup Yesus yang harus dikenakan. Hanya jika kita semakin serupa dengan Yesus, barulah kita dapat berdamai dengan Allah secara proporsional. Ketika seseorang dapat berkata, “Hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku,” barulah terjadi keseimbangan dengan Allah. Memang ini berat, tetapi tidak ada pilihan lain. Jika kita tidak sungguh-sungguh mau berubah, kita tidak akan pernah menjadi orang Kristen yang sejati.

Kekristenan hari ini, bagi banyak orang, hanya menjadi agama yang membungkus kehidupan keberagamaan mereka. Namun, esensi Kekristenan yang sejati telah ditinggalkan, yaitu perubahan perilaku agar semakin sesuai dengan rancangan Allah semula, dengan Yesus sebagai modelnya. Rancangan Allah semula adalah manusia yang berkenan kepada Allah, yang dalam segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Kita semua memang belum sempurna. Kita pun sering merasa frustrasi ketika melihat diri sendiri. Namun, kita harus berani bertekad, “Tuhan, aku tidak mau salah. Bukan hanya hari ini, tetapi sampai aku mati. Aku mau hidup tidak bercacat.” Karena itu, jangan ada celah atau kesempatan yang kita buka untuk berbuat salah. Kita tidak mau memberi ruang bagi dosa. Setiap kali kita jatuh, kita harus segera bertobat. Bahkan, seharusnya kita berani berkata, “Tuhan, aku sudah selesai dengan diriku sendiri dan dunia ini. Aku belum selesai dengan Engkau. Aku sudah puas dengan diriku sendiri, dengan apa yang kumiliki, bahkan aku telah melakukan banyak kesalahan di mata-Mu demi memuaskan diriku sendiri. Sekarang aku tidak mau salah lagi.”

Ingatlah, bagian Tuhan telah selesai dalam menyediakan sarana pendamaian. Bagian kita adalah mengubah diri agar dapat hidup seimbang dengan Allah. Kita harus menyadari bahwa kesempatan untuk mengalami perubahan demi dapat mengimbangi Allah sangat terbatas. Tidak ada keadaan yang lebih mengerikan dan lebih disesali daripada kehilangan kesempatan. Jika momentum ini berlalu, tidak ada kesempatan kedua, sebab hidup ini hanya satu kali. Dalam satu kesempatan ini, kita harus memilih untuk bersekutu dan berdamai dengan Allah.

Allah telah menyediakan sarana pendamaian melalui darah Tuhan Yesus. Namun, jika seseorang tidak mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, tidak mau hidup suci, tidak mempersembahkan hidup sepenuhnya bagi Allah, dan tidak memindahkan hatinya kepada Kerajaan Surga—yang berarti tidak melakukan kehendak Bapa—maka Yesus dapat berkata, “Aku tidak mengenal kamu.” Ini sungguh mengerikan.

Allah tidak merancang keselamatan dan perdamaian secara sepihak. Jika Allah secara sepihak memaksa seseorang berdamai dengan-Nya, maka perdamaian itu bukanlah perdamaian yang tulus, benar, dan alami. Itu seperti seseorang yang dipaksa berdamai oleh pihak yang lebih kuat. Allah tidak demikian. Karena itu, jangan berpikir bahwa Allah menentukan secara sepihak siapa yang diselamatkan. Allah merancang keselamatan bagi semua orang, artinya setiap orang memiliki kesempatan untuk berdamai dengan Allah. Namun, apakah seseorang mau diselamatkan dan berdamai dengan Allah secara proporsional, itu adalah keputusan pribadi masing-masing.

Itulah sebabnya firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:19–20 mengatakan, “Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah.” Be reconciled. Orang percaya adalah orang-orang yang menerima hak istimewa berupa karunia sulung, yaitu potensi untuk menjadi pewaris Kerajaan Allah dan hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Karena itu, ketika Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku,” ayat ini tidak sekadar berarti bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju surga. Pernyataan ini bersifat sangat eksklusif. Hanya melalui Yesus seseorang dapat sampai kepada Bapa. Seperti yang diungkapkan dalam doa Tuhan Yesus, “Engkau di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya mereka juga di dalam Kita.” Ini adalah persekutuan yang eksklusif. Maka, seseorang harus melalui jalan itu—hodos—dan hidup dalam kebenaran itu—alētheia—untuk dapat sungguh-sungguh berdamai dengan Allah.