Kesempatan untuk Berubah

Mencari Tuhan artinya berusaha untuk mengalami Tuhan di dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup dan nyata itu, serta berjalan bersama dengan Dia setiap hari. Dalam hal mencari Tuhan, pada dasarnya sama dengan berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang Tuhan rencanakan untuk kita lakukan dan kita penuhi dalam hidup ini. Tentu kehendak dan rencana Allah dalam hidup masing-masing kita itu berbeda. Maka, setiap orang harus menemukan apa kehendak Allah dalam hidup kita masing-masing, dan apa yang Allah rencanakan dalam hidup kita masing-masing untuk kita penuhi. Jadi, ketika kita hidup dalam kehendak dan rencana kita sendiri dan kita tidak merasakan tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, kita sebenarnya terhilang. Walaupun kita ada di lingkungan pelayanan, namun kalau kita tidak mengerti apa kehendak Allah untuk kita lakukan, tidak mengerti apa rencana Allah untuk kita penuhi, dan kalau kita tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan, tidak berjalan bersama dengan Dia, sejatinya kita itu terhilang.

Sangatlah berbeda antara menemukan pengetahuan mengenai Tuhan dan menemukan Tuhan. Tetapi selama ini banyak orang merasa kalau sudah menemukan pengetahuan mengenai Tuhan, seakan-akan sudah menemukan Tuhan sendiri. Itulah sebabnya, banyak orang sudah merasa puas ketika bisa berbicara mengenai Tuhan. Semakin banyak pengetahuannya mengenai Tuhan, ia merasa semakin puas dan semakin sudah menemukan Tuhan. Biasanya orang-orang yang belajar teologi merasa lebih menemukan Tuhan dibanding mereka yang tidak belajar teologi, karena mereka merasa semakin banyak ilmu teologinya, berarti semakin menemukan Tuhan. Ini adalah pikiran picik, seakan-akan Tuhan cukup dibungkus dengan kotak teologinya dan merasa sudah menemukan dan memilikinya. Memang diyakini bahwa Tuhan Mahahadir, Tuhan sangat dekat, bahkan dikatakan lebih dekat daripada nafas kita sendiri. Tuhan hanya sejauh doa, dan lain sebagainya, tetapi kalau jujur, tidak banyak orang telah benar-benar menemukan Dia atau memiliki pertemuan dengan Dia. Bahkan, tidak sedikit orang beragama—termasuk orang Kristen—yang sebenarnya belum menemukan Tuhan. Tetapi, mereka merasa cukup nyaman dengan keadaan tersebut, sebab mereka merasa sudah percaya.

Percaya bahwa Allah itu ada, sudah cukup membuat mereka merasa tidak menciderai Tuhan seperti orang ateis yang tidak memercayai Tuhan. Dengan memercayai identitas-Nya tersebut, mereka merasa sudah menjadi umat Tuhan yang sudah selamat. Orang-orang seperti ini berpikir sudah cukup menjadi orang beragama yang baik dan bertuhan. Jika demikian keadaannya, mereka tidak akan mengisi hidupnya dengan mencari Tuhan. Mereka akan menghabiskan umur hidupnya menemukan banyak hal dalam hidup ini, tetapi tidak pernah menemukan Tuhan. Betapa jahatnya gereja jika mengesankan pula bahwa mereka sudah menemukan Tuhan dan tidak perlu khawatir menghadapi hidup di bumi ini serta kekekalan nanti. Memang mereka bukan menjadi orang jahat, juga bukan orang yang tidak peduli kegiatan sosial atau pelayanan gereja, tetapi mereka gagal menjadi manusia Allah yang berstandar anak-anak Allah seperti Tuhan Yesus. Ini berarti keselamatan tidak terealisasi dalam kehidupan mereka. Harus dimengerti bahwa kekristenan memiliki tujuan menjadikan manusia berkodrat ilahi, yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus semasa hidup-Nya di bumi. Masalahnya, kalau keadaan mereka berlarut-larut demikian, mereka tidak akan pernah mengerti isi karya salib secara utuh. Hati mereka menjadi buta terhadap kasih karunia Allah yang sangat luar biasa, yang menyediakan anugerah dimana seseorang dapat menjadi anak-anak Allah yang berkodrat ilahi seperti Bapa di surga.

Mereka pun akhirnya tidak tertarik sama sekali menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Mereka berharap dengan kualitas hidup yang mereka miliki, nanti mereka dilayakkan masuk Rumah Bapa. Padahal yang Tuhan kehendaki adalah sempurna seperti Bapa di surga. Untuk ini, Allah sudah menyediakan fasilitas keselamatan-Nya. Kalau orang percaya mau mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, maka kesempurnaan seperti Bapa pasti dapat dicapai. Kalau kesempatan untuk berubah dan bertumbuh dalam kesempurnaan berlalu, berarti mereka menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar (Ibr. 2:1-3). Pada dasarnya, mereka seperti Esau yang menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-17). Keagungan sebagai anak-anak Allah telah digantikan dengan kewajaran hidup seperti anak-anak dunia yang tidak memiliki kasih karunia di dalam Tuhan Yesus. Hal ini sangat memuaskan kuasa gelap. Sebab, bagi kuasa gelap, yang penting adalah dapat mencegah umat pilihan menjadi sempurna seperti Bapa. Gagal menjadi sempurna seperti Bapa sudah cukup menggagalkan maksud keselamatan itu diberikan. Sebaliknya, hal ini akan sangat mengecewakan hati Tuhan, sebab berarti kurban Tuhan Yesus bagi orang itu sia-sia. Oleh sebab itu, betapa berharganya kesempatan dan waktu yang Tuhan berikan.

Kalau kesempatan untuk berubah dan bertumbuh dalam kesempurnaan berlalu, berarti mereka menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar.