Kita harus bertumbuh terus sampai kita benar-benar bisa merasakan, menghayati, dari pengalaman konkret hidup di hadirat Allah. Hidup yang selalu dalam ketercekaman, tetapi dalam damai sejahtera di hadirat Allah. Di situ kita baru bisa mengerti apa artinya berada di dalam dimensi hidup anak Allah atau dimensi hidup anggota keluarga Kerajaan Allah. Sejatinya, ketika Tuhan Yesus mengajar kita Doa Bapa Kami: “Bapa kami yang di surga, dipermuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu…,” Tuhan mau membawa kita ke suatu dimensi hidup anak Allah, dimensi hidup yang tidak pernah dimiliki oleh siapa pun dan kapan pun, hanya dialami yang pertama oleh Tuhan Yesus, Anak Allah, yang dalam segala hal disamakan dengan kita dan kita semua yang mengikuti jejak Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menjadi yang sulung, lalu kita mengikuti.
Itulah sebabnya kita harus memiliki kualitas hidup seperti kualitas hidup Tuhan kita Yesus Kristus. Di sinilah perjuangan kita lakukan, memenuhi yang dikatakan oleh firman Tuhan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa dan Tuhan Yesus menjadi gambar Allah yang mencapai kesempurnaan (Ibr. 5:7-9) sehingga kita bisa menjadi Bait Allah. Tuhan Yesus berkata, “Rubuhkan Bait Allah ini, Aku akan membangunnya dalam tiga hari.” Itu bukan bait Allah secara fisik, melainkan Tubuh Yesus sendiri yang menjadi Bait Allah; dibunuh, tapi pada hari ke-3 Dia bangkit. Yesus adalah bait Allah yang hidup, yang pertama. Setelah itu kita semua menjadi bait Allah-bait Allah.
Jika kita adalah bait Allah, maka seluruh hidup kita milik Tuhan. Mestinya hidup orang-orang yang benar-benar menjadi bait Allah dicengkeram oleh kehadiran Tuhan. Karena seperti bait Allah di Yerusalem, ada ruang maha kudus yang menunjukkan kehadiran Allah. Ruangan hidup kita harus kita serahkan semua sehingga tidak ada siapa pun yang memiliki ruangan dalam hati kita kecuali Tuhan yang memang menempatkan bait atau ruang maha suci-Nya di dalam diri kita. Maka tidak berlebihan kalau setiap saat kita harus bisa menghayati kehadiran Tuhan. Setiap saat, bukan hanya pada waktu kita di gereja atau pada waktu kebaktian doa atau di kebaktian rumah tangga. Setiap saat kita selalu dalam penghayatan bahwa kita ada di hadirat Allah.
Apalagi bagi para pendeta dan hamba Tuhan yang berkhotbah di mimbar, atau yang mendoakan orang sakit, yang mengusir kuasa kegelapan, harus tetap ada di hadirat Allah, supaya di mana mereka berada, di situ hadirat Allah mengalir. Di mana seorang hamba Tuhan hadir, di situ dia mewakili Allah. Ketika dia berbicara di mimbar, bukan ucapan pikiran dan perasaannya sendiri, melainkan pikiran dan perasaan Tuhan serta firman dari hati Tuhanlah yang disampaikannya.
Kalau setiap saat kita ada di hadirat Allah, kita mengalami apa yang disebut “drunk in the Holy Ghost.” Kalau orang minum anggur menjadi mabuk, tapi kita dipenuhi Roh Kudus. Seperti orang mabuk, kesadaran kita rendah bahkan bisa hilang. Maka jika kita dipenuhi oleh Roh Kudus, kesadaran kedagingan kita makin ditundukkan, makin dimatikan dan kesadaran ilahi makin dibangkitkan. Untuk kita semua, kita harus tahu bagaimana meletakkan, menempatkan dan bersikap, berkata bahkan berpikir tepat, dalam situasi yang tepat, di mana kita berada, dalam situasi yang bagaimana; itulah hikmat.
Kalau kita dipenuhi Roh Kudus, kalau kita ada di hadirat Allah, bukan saja sulit untuk berbuat dosa tetapi tidak bisa berbuat dosa. Rasanya mau membenci pun tidak mampu; bukan tidak mau membenci, tetapi tidak bisa membenci. Hati kita penuh belas kasihan kepada semua orang, bahkan kepada orang-orang yang berusaha menjahati dan menjatuhkan kita. Kita berbelas kasihan dan ini tidak bisa dibuat-buat, tidak bisa dipaksakan, tapi ada di dalam diri kita sendiri. Ini otomatis akan mengalir ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus. Pikirkanlah Allah siang dan malam. Jadi kita setting pikiran kita hanya ada pada Yesus, hanya ada pada Allah Bapa. Jadi kita 24 jam ada di hadirat Allah, sampai di kekekalan. Kita bisa meninggal setiap saat tetapi kalau kita berada di hadirat Allah, kapan pun meninggal, kita siap, bahkan kematian menjadi saat yang menyenangkan.