Skip to content

Kerinduan untuk Bertemu Tuhan

 

Betapa besar jebakan bagi seorang pendeta untuk merasa nyaman dalam pelayanan, dengan segala fasilitas hidup dan nafkah yang terjamin. Betapa besar pula korbannya jika seorang hamba Tuhan tidak sungguh-sungguh menggumuli kebenaran dan mengenakannya dalam hidup. Mereka dapat terjebak mengumpulkan kekayaan dalam bentuk aset yayasan maupun gereja, yang pada akhirnya diwariskan kepada keluarga. Mereka menimbun uang untuk hari esok di bumi, padahal hari ini begitu banyak pekerjaan Tuhan yang terbengkalai dan seharusnya kita topang.

Khususnya para hamba Tuhan, kita harus berani kehilangan—bahkan seperti kehilangan masa depan. Walaupun hati kita kadang-kadang ciut ketika memikirkan masa depan anak-anak kita. Pikiran seperti itu adalah pikiran yang berasal dari si jahat. Percayalah, anak-anak kita juga akan dipelihara oleh Tuhan. Orang yang tidak mengerti isi dan maksud perdamaian hanya sibuk menyusun deskripsi perdamaian dalam sistematika teologi. Mereka berkutat dalam doktrin, ribut, dan akhirnya saling menyerang. Bahkan, tidak jarang sampai saling menyesatkan. Kita tidak boleh lagi hidup seperti itu. Kita harus belajar menerima orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengubah karakter kita sendiri.

Kita harus memiliki ruang kebebasan dalam dinamika hidup. Kita belajar saling menghargai. Kita memegang prinsip bahwa kebenaran yang kita pahami adalah benar, tetapi terhadap orang lain kita harus memiliki toleransi. Toleransi bukan kompromi. Kita hidup di tengah masyarakat yang beradab, dan kita merindukan—bukan hanya orang Kristen yang berbeda aliran—bahkan saudara-saudara kita yang non-Kristen pun suatu hari dapat masuk ke dunia yang akan datang. Kita harus menjadi saksi bagi siapa pun. Yang utama bukanlah memenangkan perdebatan doktrin, melainkan memiliki karakter Kristus. Pembelaan kita bagi orang lain bukan terletak pada khazanah doktrin yang membuat kita bertengkar, tetapi pada kasih yang tulus, kerinduan agar semua orang diselamatkan, dan keteladanan hidup yang benar. Kita adalah warga negara surga. Kita harus memiliki martabat bangsawan surgawi. Kepada semua orang, kita menunjukkan karakter Allah yang lemah lembut, dengan roh yang lemah lembut dan tenteram.

Orang yang sungguh menghayati bahwa dirinya adalah warga negara surga pasti memiliki kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan Tuhan. Seperti yang Yesus katakan, Ia ingin bertemu muka dengan muka dengan kita setelah Ia selesai menyediakan tempat. Ia akan datang kembali dan membawa kita, supaya di mana Ia berada, di situ kita berada bersama-sama dengan Dia.

Jika sebagai mempelai perempuan kita tidak merindukan mempelai laki-laki, itu adalah tanda ketidaksetiaan. Itulah yang ditakutkan Paulus ketika ia berkata, “Aku takut, supaya pikiranmu jangan disesatkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdaya oleh ular.” Kita harus menjadi mempelai yang suci, tidak bercacat dan tidak bercela. Perawan suci berarti tidak ternodai oleh percintaan dunia dan dosa. Hanya dengan demikian kita layak menjadi mempelai Kristus, dan Bapa dapat berdamai dengan kita. Allah tidak akan berdamai dengan orang Kristen yang tidak hidup sebagai mempelai Kristus yang setia.

Faktanya, sebagian besar orang Kristen telah tertawan oleh dunia melalui percintaan dunia, sehingga tidak lagi merindukan pulang ke tanah air surgawi—melupakan homeland-nya. Hati mereka telah terikat oleh kenikmatan hidup di bumi. Hal ini sering terjadi pada mereka yang sukses dalam karier, bisnis, studi, keluarga, dan memiliki berbagai fasilitas hidup. Karena itu, jika Tuhan mengizinkan kita berada dalam keadaan seperti itu, jangan sampai kita tenggelam dalam dosa. Sesungguhnya, di titik ini kita dapat mengukur diri kita sendiri: apakah kita layak berdamai dengan Allah atau tidak? Ukurannya sederhana—apakah kita sungguh merindukan bertemu dengan Tuhan sebagai mempelai-Nya?

Ironisnya, sering kali justru orang-orang yang memiliki banyak masalah—gagal dalam karier, studi, rumah tangga, atau memiliki keterbatasan fisik—lebih mudah patah hati terhadap dunia. Dan ketika seseorang patah hati terhadap dunia, ia lebih mudah mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Kiranya melalui renungan ini, banyak di antara kita yang mau berubah dan sungguh-sungguh mengadakan perdamaian dengan Tuhan.