Skip to content

Kepenuhan Allah

 

Sebelum kita memiliki beban untuk menyelamatkan jiwa—karena jiwa itu sangat berharga—kita harus terlebih dahulu berjuang menyelamatkan jiwa kita sendiri.  Dalam Matius 22 tertulis: “Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” Standar dalam mengasihi sesama adalah mengasihi diri sendiri. Namun, seseorang yang belum mengasihi dirinya secara benar, tidak akan mampu mengasihi orang lain dengan benar.  Tentu yang dimaksud mengasihi diri sendiri di sini adalah mengasihi menurut standar Tuhan, yaitu ketika seseorang mengusahakan keselamatan dirinya—itulah bentuk kasih terhadap diri sendiri yang benar.

Sebaliknya, mengasihi diri sendiri menurut kodrat dosa adalah egoisme. Contohnya adalah orang yang sibuk mengumpulkan harta, membeli barang mewah, memiliki aset atas namanya, serta mengejar kehormatan di mata manusia. Ini adalah bentuk cinta diri yang antroposentris (berpusat pada manusia) atau egosentris, bukan teosentris (berpusat pada Allah).  Mengasihi diri sendiri secara benar bukanlah hal yang sederhana. Seseorang harus mengerti makna hidup, belajar kebenaran, memahami kekekalan, serta mempelajari nilai-nilai rohani secara benar. Dengan demikian, ia akan mengusahakan keselamatan dirinya secara sungguh-sungguh dan benar.

Proses ini tidak pernah berhenti, sebab orang seperti ini akan terus haus dan lapar akan kebenaran, bukan sekadar ingin menjadi “baik”. Ia akan senantiasa melihat potret Juru Selamatnya, Tuhan Yesus Kristus, sebagai model atau prototipe manusia yang dikehendaki Allah. Menjadi serupa dengan Yesus adalah standar keselamatan, dan setiap orang harus mengupayakan hal ini sampai akhir hayatnya.  Jika proses ini sungguh terjadi dalam hidup seseorang, maka ia akan berjuang agar proses yang sama juga terjadi dalam hidup orang lain.

Tuhan telah memberikan karunia dan talenta kepada setiap orang. Gereja pun harus dilengkapi dengan berbagai karunia: ada gembala sidang, guru, penginjil, dan nabi. Namun, pada akhirnya, kita semua harus diarahkan kepada satu tujuan: kepenuhan Allah.  Yesus memperjuangkan kemuliaan itu dengan cara mengenakan firman (logos) dalam diri-Nya, sehingga kepenuhan Allah hadir dalam diri-Nya. Dia adalah Anak Manusia yang mengenakan kepenuhan Allah. Demikian pula kita, seharusnya terus berjuang untuk mencapai kepenuhan Allah itu dalam hidup kita.

Tidak ada yang lebih mulia daripada kehidupan seseorang yang dipenuhi Allah dan memancarkan kemuliaan-Nya. Orang seperti ini akan terus bertumbuh, karena Tuhan akan membukakan rahasia kebenaran, kesucian, keagungan, dan kemuliaan-Nya, agar terus dicapai dan dihidupi.  Dengan begitu, kita menjadi manusia-manusia yang mulia. Dan hanya manusia yang mulia yang layak menerima tubuh kemuliaan. Dari manusia dengan kodrat berdosa (sinful nature), kita diubah menjadi pribadi yang memiliki kodrat ilahi (divine nature).  Apabila kita benar-benar menjadi anak-anak Allah yang sejati, maka setiap orang yang kita temui harus tertular kemuliaan itu.

Apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam hidup ini? Sehebat apa pun kita menjadi kaya atau terpandang, jika kita hidup mendukakan Roh Kudus, maka kita masih menjadi duri bagi hati Allah. Sebaliknya, bila kita berubah menjadi pribadi yang menyukakan hati Tuhan—itulah yang sungguh mulia.  Kita harus menyuarakan pekik perang rohani terhadap dunia. Ketika hidup kita berbeda warna dari dunia, kita menantang dunia, dan bahkan menantang orang-orang Kristen yang masih hidup sewarna dengan dunia.  Sementara dunia berusaha menarik kita, biarkanlah kita memilih direnggut oleh Tuhan.  Jangan berpikir bahwa mencari uang itu lebih sulit daripada hidup suci. Jangan juga menganggap bahwa mencari uang lebih sukar daripada mencari Tuhan. Firman Tuhan berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah…” Sebab inilah yang paling sulit dan paling utama.

Kalau hari ini Tuhan berurusan dengan kita, adakah sesuatu dalam diri kita yang masih mengecewakan-Nya? Tuhan memang mengampuni dosa-dosa kita dan melupakannya. Tetapi apakah kita sungguh-sungguh memiliki tekad untuk meninggalkan dosa itu? Apakah kita berani berjanji di hadapan Tuhan untuk meninggalkannya?  Dan, apakah kita sungguh-sungguh membuka diri untuk diperiksa oleh Tuhan, kalau-kalau masih ada sikap atau bagian dari diri kita yang belum pantas?  Kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan yang mutlak—sekudus-kudusnya, sesuci-sucinya.