Matius 8:23
Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.
Murid-murid tentu bersukacita ketika masuk ke dalam perahu bersama Guru mereka. Sebab, perjalanan yang menyenangkan bukan semata-mata tentang tempat atau destinasi yang akan dituju, melainkan dengan siapa perjalanan itu dilakukan. Walaupun perjalanan mencapai ribuan kilometer, jika dijalani bersama teman atau sahabat yang menyenangkan, jarak yang jauh dapat terasa pendek dan tidak berarti. Sebaliknya, perjalanan yang hanya beberapa kilometer, tetapi dijalani bersama orang yang tidak kita sukai, dapat terasa begitu panjang dan seolah-olah tidak kunjung sampai. Demikian pula, murid-murid tentu tidak berharap bahwa perjalanan bersama Guru mereka akan menghadapi masalah atau hambatan. Namun, kenyataan sering kali berbeda dengan harapan.
Matius 8:24 mencatat, “Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.” Manusia tidak dapat mengatur eskalasi atau datangnya sebuah masalah. Masalah dapat tiba-tiba datang menghampiri tanpa jeda dengan tekanan yang maksimal. Para murid menghadapi kenyataan yang berbeda dengan harapan awal mereka. Perahu mereka ditimbus gelombang serta diterpa angin ribut atau badai yang mengamuk. Ini bukan sekadar gambaran tentang cuaca buruk, melainkan keadaan yang sangat mematikan. Satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bahwa sebagian murid berprofesi sebagai nelayan. Mereka tentu mengenal cuaca dan mengetahui bagaimana menghadapinya. Namun, kali ini tampaknya mereka kewalahan. Di tengah kepayahan dan keputusasaan, mereka membangunkan Tuhan Yesus seraya berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Dalam Markus 4:38 dicatat, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan mereka sudah hampir habis dan segala usaha yang dilakukan tampaknya sia-sia.
Dari peristiwa ini kita melihat bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya hanya mengandalkan kekuatannya dalam menghadapi berbagai peristiwa hidup yang menyakitkan dan menakutkan. Amsal 3:5 mengatakan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Jangankan sepenuhnya bersandar atau percaya kepada orang lain, firman Tuhan bahkan menasihati kita untuk tidak bersandar kepada pengertian sendiri. Pengalaman, kemampuan, dan pengetahuan tetap berguna, sebagaimana pengalaman para murid sebagai nelayan. Namun, semuanya memiliki batas. Ada keadaan ketika manusia harus menyadari keterbatasannya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada pertolongan Allah.
Ketenangan Tuhan Yesus di tengah badai hingga membuat-Nya terlelap di perahu bukan menandakan ketidakpedulian-Nya terhadap nasib atau keadaan murid-murid-Nya. Tuhan Yesus tidak terbangun oleh badai yang mengamuk, angin yang menerjang, dan gelombang yang menimbus perahu, tetapi Ia bangun ketika murid-murid datang membangunkan-Nya dan meminta pertolongan. Sekali lagi, bukan berarti Tuhan Yesus tidak peduli. Peristiwa tersebut justru menunjukkan kedaulatan-Nya atas keadaan yang tampaknya telah berada di luar kendali manusia. Apa yang membuat para murid begitu ketakutan ternyata tetap berada di bawah kuasa-Nya.
Dalam kehidupan orang percaya, badai dapat hadir dalam berbagai bentuk: keharmonisan rumah tangga yang terguncang, kekerasan dalam rumah tangga yang terus terjadi, ketidaksetiaan pasangan, persoalan keuangan yang mengguncang sendi-sendi keluarga, penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh, atau usaha yang semakin sulit di tengah krisis mencari nafkah. Doa sudah dinaikkan berulang kali dan pengharapan terus dipanjatkan, tetapi pertolongan tampaknya belum juga datang. Dalam keadaan demikian, dapat muncul suara di dalam hati yang berkata, “Tuhan, apakah Engkau tidak peduli terhadap keadaanku?” Gereja tidak selalu memiliki jawaban atas setiap pertanyaan dan pergumulan hidup jemaatnya. Pendeta juga setali tiga uang, tidak selalu memiliki jawaban atau solusi atas setiap permasalahan. Namun, Tuhan selalu memiliki jawaban atas apa pun yang kita alami. Tidak mungkin Tuhan menutup mata dan telinga terhadap apa yang sedang kita hadapi. Ia bukan Allah yang mati, melainkan Allah yang hidup dari dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya, dari kekal sampai kekal.
Pertolongan Tuhan datang dengan cara dan pada waktu-Nya. Di sinilah dibutuhkan kesabaran sekaligus kepercayaan untuk menantikan pertolongan-Nya. Jeda waktu dalam penantian bukan berarti Tuhan membiarkan kita semakin tenggelam. Justru dalam masa penantian itulah kepercayaan kita kepada Allah diuji dan dibuktikan. Kenyataan memang dapat berbeda dengan harapan, tetapi perbedaan itu tidak berarti Allah kehilangan kendali. Ketika keadaan belum berubah sebagaimana yang kita harapkan, tetaplah percaya kepada-Nya. Tuhan mengetahui keadaan kita dan Ia akan bertindak menurut cara serta waktu-Nya.