Saudaraku,
Sesungguhnya, kekristenan bukanlah sekadar agama, melainkan jalan hidup. Dalam hidup kekristenan, yang penting dan utama—bahkan satu-satunya—adalah menjalani sebuah cara hidup istimewa seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus harus mengikuti jejak-Nya, sehingga pantas disebut sebagai Kristen. Inilah tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Jadi, sebenarnya pelayanan pekerjaan Tuhan adalah mengajarkan atau menunjukkan bagaimana tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Bapa itu. Tata laksana kehidupan yang benar artinya bagaimana menyelenggarakan hidup yang diciptakan oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Tata laksana hidup seperti ini telah dikenakan oleh Tuhan Yesus. Inilah sebenarnya bentuk atau warna hidup ideal yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan dalam hidup setiap manusia. Tentu saja sejak semula Allah sudah memiliki rancangan tentang bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidupnya. Namun oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia tidak memiliki tata laksana kehidupan yang benar itu.
Banyak orang berpikir bahwa Adam sudah pernah mencapai tata laksana hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah. Namun, kesalahan Adam mengakibatkan tata laksana hidup yang telah dicapai Adam menjadi rusak. Pandangan ini tidak tepat. Sebenarnya, tata laksana kehidupan yang ideal—yang seharusnya dikenakan manusia—belum pernah dimiliki manusia, sebab Adam belum pernah mencapai kualitas kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah tersebut. Sebelum manusia mencapai standar hidup yang seharusnya dikenakan manusia, Adam sudah berdosa. “Berdosa” berarti meleset atau tidak kena sasaran (Yun. hamartia) Kemelesetan tersebut sudah cukup membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah.
Kata “kehilangan kemuliaan” dalam Alkitab Bahasa Indonesia mengesankan bahwa Adam sudah mencapai kemuliaan yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan dalam hidupnya. Dalam teks asli Alkitab, kata “kehilangan” ini adalah hustereo (ὑστερέω) yang berarti kekurangan atau bisa berarti juga tidak mencapai target. Hal ini sejajar dengan pengertian kata “dosa” yang artinya meleset atau tidak kena sasaran.
Keadaan manusia yang berdosa ini menempatkan manusia pada kehidupan yang tidak sesuai dengan standar yang Allah kehendaki untuk dimiliki manusia. Hal inilah yang menyebabkan manusia tidak memiliki tata laksana kehidupan sesuai dengan kehendak Allah. Inilah keadaan manusia yang tidak memiliki kemuliaan Allah. Kalau manusia hidup dalam tata laksana kehidupan yang benar, manusia akan memiliki kemuliaan Allah. Tata laksana kehidupan yang dirancang oleh Allah adalah tata laksana kehidupan yang memancarkan kemuliaan Allah atau keagungan Sang Pencipta. Peta yang jelas dari tata laksana kehidupan yang rusak yang ditampilkan pertama kali oleh manusia yang berdosa adalah pembunuhan manusia pertama oleh saudaranya sendiri: Kain membunuh Habel. Betapa tragisnya peristiwa pembantaian tersebut. Itulah peristiwa tragis pertama yang dialami manusia, khususnya Adam dan Hawa setelah keluar dari Eden. Allah Bapa tidak pernah merancang kehidupan seperti itu.
Tindakan Kain membunuh adiknya adalah tindakan yang tidak memancarkan kemuliaan Allah. Ini adalah salah satu contoh ekstrem dari kehidupan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Sejatinya, kehidupan manusia yang tidak tepat sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah kehidupan yang telah kehilangan kemuliaan-Nya. Semua manusia yang hidup sebelum zaman Tuhan Yesus dan mereka yang tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus adalah orang-orang yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Sehebat apa pun kesucian dan kesalehan orang-orang yang dianggap benar di Perjanjian Lama, mereka belum memperoleh kemuliaan Allah yang hilang itu. Hanya mereka yang mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus yang berpotensi atau berpeluang menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Dikatakan “berpotensi” atau “berpeluang” sebab walaupun mengenal, tetapi kalau tidak mengerjakan keselamatan, berarti ia tidak akan mengalami dan memiliki keselamatan, sehingga tidak menemukan kemuliaan Allah.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Hanya mereka yang mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus yang berpeluang menemukan kemuliaan Allah yang hilang.