Matius 5:3
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Dalam ayat ini, kata miskin menggunakan istilah Yunani πτωχός (ptōkhos), yang menunjuk pada kondisi kemiskinan yang sangat ekstrem, sampai pada keadaan harus meminta-minta demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, pada bagian lain istilah ini diterjemahkan sebagai “pengemis”, seperti ketika digunakan untuk menggambarkan Lazarus yang meminta sisa makanan dari meja orang kaya (Luk. 16:20).
Ucapan bahagia ini dicatat baik oleh Matius maupun Lukas dalam Injil mereka. Secara paralel dengan Matius 5:3, Lukas juga menuliskan ucapan bahagia tersebut dalam Lukas 6:20 dengan menggunakan kata yang sama, ptōkhos. Namun, Matius menambahkan frasa “di dalam roh” (τῷ πνεύματι, tō pneumati) setelah kata miskin, sedangkan Lukas hanya berhenti pada kata miskin tanpa tambahan tersebut.
Perbedaan frasa ini sekilas memberi kesan bahwa Matius hendak menekankan kemiskinan secara rohani, sementara Lukas lebih mengarah pada kemiskinan secara jasmani. Banyak penafsir mengafirmasi pandangan ini, salah satunya Cambridge Bible Commentary (CBC). Menurut CBC, Matius menekankan kemiskinan rohani sebagai titik awal pertobatan yang menjadi syarat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Imbuhan “di dalam roh”, menurut CBC, merupakan penegasan Matius yang ditujukan kepada orang-orang agamawi pada masa itu yang merasa “kaya” secara rohani dan tidak membutuhkan pertobatan. Dengan demikian, miskin di dalam roh menunjuk pada sikap hati yang merendah di hadapan Allah, suatu kebergantungan penuh dari seseorang yang tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan di hadapan-Nya. Orang dengan sikap hati seperti inilah yang, menurut Yesus, disebut berbahagia. Inilah kesimpulan pertama mengenai makna “miskin di hadapan Allah”.
Namun, jika kita memperhatikan konsistensi penggunaan kata ptōkhos dalam Injil Matius, sulit untuk tidak sampai pada kesimpulan lanjutan. Dalam Injil Matius, kata ptōkhos muncul sebanyak lima kali (Mat. 5:3; 11:5; 19:21; 26:9; 26:11). Dari kelima kemunculan tersebut, hanya dalam Matius 5:3 kata ini dilekatkan dengan nuansa rohani. Selebihnya, ptōkhos secara konsisten merujuk pada kemiskinan atau orang miskin secara jasmani.
Apakah artinya hal ini meniadakan makna kemiskinan rohani? Tidak. Di sini kita justru dapat menarik kesimpulan yang lebih utuh tanpa menolak penekanan sebelumnya. Kesimpulan tersebut ialah bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk berpihak kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan. Kalimat “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” merupakan undangan untuk mengosongkan diri dan bersolidaritas dengan mereka yang lemah, sebagaimana Allah sendiri berpihak kepada orang-orang yang lemah dan diperlakukan tidak adil. Undangan ini menghadirkan konsep kebahagiaan yang kontras dengan dunia: ketika dunia mencari yang kaya dan berpengaruh untuk disebut berbahagia, Allah justru menyatakan kebahagiaan-Nya kepada yang miskin dan terpinggirkan.
Mengapa kita dapat sampai pada kesimpulan ini? Sebab tidak mungkin seseorang yang sungguh miskin di hadapan Allah mencintai uang dan dunia. Orang yang miskin secara rohani akan menolak untuk mencintai dunia dengan segala kesenangannya, sekalipun ia memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Sikap ini tentu berdampak pada cara ia menjalani hidup sehari-hari, terutama dalam memandang penderitaan sesama sebagai bagian dari bebannya sendiri. Seseorang bisa saja kaya menurut ukuran manusia, tetapi tidak hidup dalam kekayaannya. Ia mengosongkan diri dengan memilih untuk tidak hidup mewah. Ia bersolidaritas dengan kesulitan orang-orang di sekitarnya dan menggunakan hartanya untuk melayani Tuhan melalui sesama.
Sebaliknya, bagi mereka yang miskin secara jasmani, kemiskinan tidak membuat mereka minder atau dikuasai oleh hasrat untuk menjadi kaya. Mereka justru melabuhkan hidupnya kepada Allah yang memelihara. Baik dalam kondisi memiliki maupun kekurangan, hidup mereka tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh kebergantungan kepada Allah.
Pengosongan diri dan keberpihakan kepada orang-orang terpinggirkan inilah yang disebut sebagai kemiskinan yang melindungi—kemiskinan yang membawa kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena Allah hadir di dalam dan bersama mereka (Mat. 25:40). Itulah sebabnya Yesus menyebut mereka berbahagia. Dalam kemiskinan semacam ini, seseorang menjadi lebih peka dan lebih dekat kepada sesama yang membutuhkan. Dan mendekat kepada sesama berarti mendekat kepada Tuhan. Dengan menerima kemiskinan ini dalam diri kita, sesungguhnya kita sedang menyatakan kesetiaan kepada Tuhan dengan menyangkal diri dan menjauhkan diri dari percintaan dunia.