Skip to content

Kemerdekaan Hidup yang Sesungguhnya

 

Orang yang benar-benar merdeka dalam hidup ini adalah orang yang melepaskan segala keinginan. Barangkali ada yang bertanya atau berkata, atau menanggapi, “Bukankah kita sebagai manusia boleh memiliki keinginan?” Amin. Memang manusia diciptakan Tuhan dengan pikiran dan perasaan, supaya manusia memiliki kehendak atau keinginan. Manusia tidak mungkin tidak memiliki keinginan, dan memang tidak seharusnya tidak memiliki keinginan. Tetapi masalahnya adalah: apa objek keinginan kita? Itulah pokok persoalannya. Jadi, bukan berarti kita meniadakan keinginan, melainkan keinginan kita diarahkan hanya kepada Tuhan.

Keinginan yang selama ini kita miliki—yang juga dimiliki oleh orang-orang di sekitar kita dan hampir semua manusia—pada hakikatnya membawa bencana. Sebab kita hidup di dunia yang telah jatuh, dunia yang terhukum, dunia yang terkutuk, sementara moral dan karakter kita pun masih berantakan atau sangat kacau. Maka, apa yang muncul dalam hati dan pikiran kita adalah produk dari dunia sekitar yang rusak, ditambah dengan ambisi pribadi yang keruh, sehingga melahirkan kejahatan dan dosa. Kalaupun secara hukum tidak melanggar, hal itu tetap tidak membuat kita melekat kepada Allah.

Kita akan selalu memiliki keinginan sampai selama-lamanya. Di surga pun keinginan atau kehendak individu tetap ada, dan kehendak itu selalu bebas. Allah memberi kedaulatan kepada manusia, meskipun dalam batas yang terbatas. Dan dalam kedaulatan itu, manusia memiliki keinginan. Maka, jika kita memiliki keinginan yang diarahkan kepada objek selain Tuhan dan Kerajaan-Nya, pasti kita akan terlepas dari hadirat Allah, pasti kita akan jatuh, pasti terbelenggu, pasti terikat.

Secara logika, kita hidup tidak lebih dari 70 atau 80 tahun. Setelah itu, kita akan masuk ke dalam dunia yang tidak mengenal dosa, dunia tanpa kejahatan, dunia tanpa kuasa kegelapan. Maka secara otomatis, keinginan-keinginan manusia di sana akan senantiasa baik.

Namun, untuk memiliki keinginan yang selalu baik, bukanlah sesuatu yang dimulai nanti saat di surga, melainkan harus dimulai sejak kita hidup di bumi. Sejak di bumi, kita perlu melokalisasi keinginan kita, mempersempit ruang keinginan itu, hingga akhirnya kita memfokuskan satu hal saja: Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Mungkin kita akan berkata, “Wah, ini berlebihan.” Tetapi jika kita membaca Mazmur 73:24–26, tertulis: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Itu firman Tuhan. Maka ketika seseorang benar-benar fokus pada kekekalan—dalam hal ini surga—ia tidak lagi mengingini apa pun di bumi ini.

Mungkin di antara kita ada yang sudah belajar bertahun-tahun untuk hidup seperti ini—benar-benar berat, sulit, jatuh bangun. Namun oleh kemurahan Tuhan, dan melalui izin-Nya atas berbagai kesulitan, kekecewaan, kepedihan, dan kepahitan, Tuhan menggiring kita kepada satu level: “Yang kuingini hanyalah Engkau.” Maka kita harus bertahan.

Tuhan pasti akan menghajar dan mendidik kita dengan pendidikan yang luar biasa. Namun sering kali kita masih belum taat, belum dengar-dengaran. Prosesnya masih panjang. Tetapi kita bersyukur, walaupun perjalanan ini masih jauh menuju stabilitas dan permanensi, setidaknya kita sedang diproses menuju arah yang benar.

Mari kita berjuang untuk memiliki kemerdekaan seperti ini: tidak mengingini apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kelak akan ada damai sejahtera yang luar biasa, sehingga kita bisa berkata, “Aku bahagia, Tuhan.” Kita pun dapat menikmati hadirat Tuhan lebih dalam daripada waktu-waktu yang telah kita lewati sebelumnya. Jadi, jangan mengingini apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Karena itulah kemerdekaan hidup yang sesungguhnya.