Skip to content

Kehilangan Kemuliaan Allah

 

Kejatuhan manusia ke dalam dosa berakibat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Kata “kehilangan” dalam teks aslinya adalah hysterountai (ὑστεροῦνται), dari kata hystereō (ὑστερέω), yang memiliki beberapa pengertian: to be inferior, to fall short, be deficient, be destitute, fail, lack, suffer need, worse; artinya menjadi rendah, gagal karena kekurangan, menjadi miskin, menderita, kekurangan, dan menjadi lebih buruk. Dengan demikian, keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa adalah keadaan yang tidak mencapai maksud atau rancangan Allah semula. Keadaan manusia menjadi tidak utuh, tidak lengkap, dan tidak memadai. Keselamatan di dalam Yesus Kristus bertujuan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu agar manusia kembali berkeadaan memiliki kemuliaan Allah. Keselamatan dimaksudkan untuk memberi manusia kesempatan menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang, kesempatan untuk mencari dan mengenakan kembali kemuliaan Allah tersebut.

Namun, kemuliaan Allah ini tidak diperoleh secara otomatis. Ketika seseorang menjadi Kristen atau mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, itu tidak berarti ia otomatis memiliki kemuliaan Allah. Semua itu harus ditempuh melalui perjuangan. Hal ini paralel dengan Kerajaan Allah yang diberikan secara cuma-cuma, tetapi hidup di dalam pemerintahan Kerajaan Allah bukan sesuatu yang gratis, melainkan harus diperjuangkan. Ikan air laut tidak akan bisa hidup di air tawar. Kodratnya harus diubah terlebih dahulu agar ia dapat hidup dan berenang di air tawar. Demikian pula dengan keselamatan. Jika keselamatan dipahami sebagai upaya Allah mengembalikan manusia ke rancangan semula, maka keselamatan bukan sekadar tiket masuk surga. Untuk membuka pintu surga, memang tidak ada yang dapat melakukannya selain Yesus Kristus. Tanpa jasa, tanpa amal, pintu itu dibukakan.

Itulah sebabnya Paulus berkata, “Jangan memegahkan diri,” sebab keselamatan itu bukan hasil usaha manusia. Namun, untuk masuk dan hidup di dalam Kerajaan Allah, kodrat manusia harus diubah. Maka ketika Efesus 2:8–9 mengatakan, “Itu bukan hasil usahamu; jangan memegahkan diri,” ayat itu tidak boleh dipahami bahwa keselamatan otomatis dimiliki. Justru ayat-ayat berikutnya—Efesus pasal 3 dan 4—menegaskan, “Tanggalkan manusia lama, kenakan manusia baru untuk hidup di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya, dan jangan beri kesempatan kepada Iblis.” Banyak orang berhenti hanya pada kalimat “bukan hasil usahamu” dan “bukan karena perbuatan baik.” Padahal, pertanyaan yang mendasar adalah: apa yang dimaksud dengan keselamatan itu sendiri? Keselamatan harus dipahami dengan benar.

Jangan kita berpikir bahwa asal percaya kepada Yesus, lalu ketika mati otomatis masuk surga. Tidak demikian. Jika keadaan hidup kita masih berantakan, kita tidak akan masuk surga. Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa “tidak semua orang yang berseru: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.” Tidak ada sesuatu yang najis yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Jika seseorang masih mencuri, masih menyimpan kebencian dan dendam, masih hidup dalam perzinahan, mulutnya kotor, suka melukai orang lain, dan tidak peduli terhadap perasaan sesama, ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Seseorang tidak mungkin hidup dalam perdamaian dan persekutuan dengan Allah jika ia tidak berkeadaan layak di hadapan-Nya. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,” dan Tuhan Yesus memerintahkan, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.”

Namun, sangat sedikit orang yang sungguh-sungguh mengerti hal ini dan benar-benar mengusahakannya. Banyak orang Kristen merasa telah memiliki anugerah dan merasa sudah berdamai dengan Allah, sehingga tidak lagi memiliki perjuangan yang serius dalam mengisi hidup kekristenannya. Akibatnya, tidak sedikit orang Kristen hidup dalam kewajaran yang sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka hidup seperti Esau, yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Esau sebenarnya memiliki hak kesulungan, tetapi ia tidak menghargai, tidak mempertahankan, dan tidak mengisinya dengan benar. Ia meremehkan dan menukarnya dengan kesenangan sesaat.

Demikian pula, ketika kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, pengakuan itu harus disertai dengan perjuangan untuk memperoleh kembali kemuliaan Allah—the glory of God; tēs doxēs tou Theou (τῆς δόξης τοῦ Θεοῦ). Kata doxēs berasal dari doxa (δόξα), yang berarti brightness, radiance, splendor—kecerahan, cahaya, dan kemegahan. Karena itu, kita harus berjuang mengerjakan keselamatan agar hidup kita menjadi manifestasi kemuliaan Allah, a manifestation of God’s excellent power, glory, and majesty. Sekalipun kita miskin secara materi, tidak berpenampilan menarik, atau tidak memiliki jabatan tinggi, kita tetap dapat memancarkan kemuliaan Allah melalui kehidupan yang diubahkan.