Skip to content

Kedisiplinan dalam Komitmen

 

Tidak sulit memiliki niat baik, tetapi menjadikannya tindakan nyata adalah hal yang berbeda. Sulit dipungkiri bahwa hanya sedikit orang yang berhasil melakukannya. Niat tidak pernah menjamin terjadinya pertumbuhan yang ditandai dengan perubahan nyata. Hanya orang-orang yang disiplinlah yang menghasilkan perubahan. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, menggambarkan hidup Kristen seperti seorang atlet yang berlari di arena pertandingan. “Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Kor. 9:24).

Tidak cukup bagi seorang atlet hanya punya niat untuk menang; ia harus “berlari begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” Atlet yang baik menyadari adanya kemungkinan untuk gagal, tetapi terus berlari sedemikian rupa sampai memperoleh mahkota kemenangan. Karena itu, pada ayat selanjutnya Paulus menuliskan, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan menguasai dirinya dalam segala hal” (ay. 25a). Alkitab bahasa Inggris versi NIV menerjemahkan bagian ini dengan “…goes into strict training” (menjalani pelatihan yang ketat).

Di awal tahun, kita biasanya memiliki semangat yang bergelora; cenderung menggebu-gebu, dan segalanya terasa mungkin untuk dicapai. Namun, tanpa dibarengi kedisiplinan, semangat awal akan padam—mungkin tidak lebih dari dua minggu. Komitmen sejati tidak bisa dilepaskan dari kedisiplinan, dan disiplin selalu berhubungan dengan keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari. Disiplin adalah komitmen yang diterjemahkan menjadi tindakan konkret, dimulai dari hal-hal kecil, tetapi dilakukan secara terukur dan berulang.

Paulus berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya” (ay. 27). Dalam salah satu versi Alkitab, ayat ini diterjemahkan “But I discipline my body and bring it into subjection” (Aku mendisiplinkan tubuhku dan menaklukkannya). Dalam konteks yang lebih luas, “tubuh” bukan hanya fisik, melainkan juga mencakup keinginan, kebiasaan, waktu, dan arah hidup kita. Komitmen rohani berarti mendisiplinkan diri untuk mengizinkan Roh Kudus menguasai hidup kita seutuhnya. Kita tidak mungkin menjadi lebih dewasa secara rohani, semakin kokoh dalam pengiringan kepada Tuhan, apabila tidak memiliki kedisiplinan dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan, berdoa, menjaga hati, dan mengendalikan lidah.

Kadang kita menganggap disiplin sebagai sesuatu yang kaku, tetapi sejatinya disiplin adalah bentuk kasih. Tuhan mengasihi kita, karena itu Ia melatih dan membentuk kita melalui disiplin. Kita mendisiplinkan diri karena kita mengasihi Tuhan. Tanpa disiplin, komitmen hanyalah omong kosong—mimpi di siang bolong. Dengan disiplin, komitmen dapat bertumbuh menjadi karakter.

Di awal tahun yang baru ini, marilah kita berhenti hanya membuat sederet daftar niat baik dan mulai melatih diri dalam hal-hal kecil. Bangun tidur sepuluh menit lebih awal dari biasanya, untuk mengawali hari dengan berdoa. Membaca satu pasal setiap hari, lalu merenungkan apa yang Tuhan ingin kita kerjakan sepanjang hari. Menata ulang prioritas hidup kita agar hidup semakin menyenangkan hati Tuhan. Ingat, komitmen tidak diukur dari besarnya langkah yang diambil, melainkan dari konsistensi langkah itu.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan beberapa hal berikut. Disiplin rohani apa yang Tuhan ingin saya mulai, agar hidup saya semakin serupa dengan Kristus? Disiplin apa yang dahulu pernah tumbuh tetapi layu akibat ketidakkonsistenan, dan kini perlu saya hidupkan kembali?

Pada akhirnya, perjalanan komitmen bukanlah tentang seberapa sempurna kita menjaga setiap janji, melainkan seberapa teguh kita bersandar pada kasih karunia Tuhan dalam setiap langkah. Marilah kita melangkah dengan hati yang terus diperbarui, disiplin yang dibangun kembali, dan keyakinan bahwa Tuhan yang memulai, Dia pula yang akan memampukan kita untuk menyelesaikannya.