Skip to content

Kebahagiaan Sejati

Saudaraku,

Ketika Tuhan Yesus dikelilingi orang banyak orang dan para murid-Nya di salah satu perbukitan di Galilea, Tuhan Yesus begitu elegan dalam hikmat-Nya menjadikan waktu dan kesempatan yang tepat untuk mengajarkan ajaran-Nya yang sangat fundamental bagi kehidupan orang percaya dalam memaknai serta menikmati kebahagiaan sejati. Dunia sering mendikte kita bahwa bahagia itu kalau kita kaya, bahagia itu kalau kita sukses dan berhasil, bahagia itu kalau kita tidak punya musuh dan semuanya berpihak memuji kita.

Namun perhatikan, Tuhan Yesus menyapa orang banyak dan para murid dimana Ia tidak mengajarkan bagaimana menjadi kaya raya atau bagaimana menjadi berkuasa. Perkataan Tuhan Yesus yang lembut dan berkuasa sontak memecah keheningan dengan perkataan yang menjungkirbalikkan logika dunia. Tuhan Yesus katakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah….” Naluri kemanusiaan kita pasti kaget dan berontak, bagaimana miskin kok bahagia?

Saudaraku, mari dengan rendah hati kita belajar bahwa apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit bukan sekadar teori semata-mata. Hal ini merupakan deklarasi kemerdekaan seorang yang beriman. Sebenarnya Tuhan Yesus sedang memberitahukan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di sekeliling kita, melainkan oleh apa yang sedang Tuhan kerjakan di dalam hati kita.

Ucapan bahagia yang diajarkan Tuhan Yesus dalam perikop Khotbah di Bukit sangat terkenal dengan ciri khasnya, yaitu diawali dengan ucapan bahagia dan diakhiri dengan frasa Kerajaan Surga. Hal ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati adalah akibat dari perjalanan kehidupan yang mau belajar dan berjuang melakukan kehendak Tuhan hingga berkualifikasi dan berkarakteristik surgawi. Tuhan Yesus secara berkesinambungan mengajarkan para murid-Nya dalam menentukan kebahagiaan tidak meng-copy paste standar atau ukuran duniawi. Dimana kebahagiaan pada umumnya diidentikkan dengan keadaan yang baik, kekayaan, kesuksesan, popularitas dan kekuasaan; semua itu dijadikan sebagai prasyarat untuk mencapai kebahagiaan.

Padahal Alkitab menegaskan jangan menjadi serupa dengan dunia, melainkan sebaliknya kita harus berubah oleh pembaharuan budi oleh kebenaran. Dunia sangat memahami serta mengenal apa itu kemiskinan jasmani, tetapi tidak mengenal kemiskinan rohani. Kemiskinan rohani adalah sebuah kesadaran bahwa Tuhan adalah kebutuhan kita satu-satunya, Tuhan adalah kebutuhan mutlak, sedangkan yang lain relatif. Kebahagiaan sejati merupakan anugerah dari Allah kepada mereka yang membuka dirinya akan kebenaran melalui firman Tuhan supaya memiliki sikap pola tindak hidup yang benar dengan tidak mengikatkan diri dengan keindahan dunia.

Bukti keseriusan kalau kita menghidupi kebenaran Tuhan adalah ketika keindahan dunia menjadi pudar di mata kita. Sementara bagi kebanyakan orang, persoalan terberat dalam realita hidup ini adalah kemiskinan dengan pengertian belum memiliki ini dan itu, hidup dinilai belum lengkap, belum bahagia, kalau belum memiliki ini dan itu. Sedangkan kemiskinan yang dimaksud dalam Ucapan Bahagia ini adalah kebangkrutan total, ketidakberdayaan memenuhi apa yang diharapkan Allah, selain bergantung mutlak sepenuhnya kepada-Nya, tanpa mengesampingkan tugas dan tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh setiap kita.



Teriring salam dan doa,

Tim Penggembalaan Rehobot



Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di sekeliling kita, melainkan oleh apa yang sedang Tuhan kerjakan di dalam hati kita.