Filipi 3:18
“Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”
Jadi, kalau fokus hidup seseorang kepada perkara-perkara duniawi, maka berkat-berkat berharga yang Tuhan sediakan kepadanya di setiap hari, tidak dapat dikenali, bahkan diinjak-injak, dicampakkan, direndahkan. Puji Tuhan, Tuhan panjang sabar. Walau kita tidak setia, Dia tetap setia, tetapi tidak bisa terus-menerus begitu. Sampai satu titik, kita akan kehilangan kesempatan kalau tidak bertobat. Dan Iblis dengan kecerdikannya bermanuver, bergerak bagaimana membuat kita sibuk dengan banyak masalah; masalah ekonomi, masalah anak, masalah mertua, dan masalah yang lain. Bagi yang tidak punya masalah, mereka disibukkan dengan kesenangan satu ke kesenangan dua ke kesenangan tiga.
Salah satu ciri kedewasaan rohani adalah makin tidak melihat kemungkinan kebahagiaan dari dunia ini. Sebaliknya, orang yang tidak bertumbuh dewasa, dia akan terus mencari apa yang belum dia capai, yang membuat dia merasa lebih bahagia, lebih lengkap, lebih utuh kalau mencapainya. Bagi anak muda, mereka merasa belum bahagia belum punya pacar. Setelah punya pacar, belum bahagia kalau belum menikah. Setelah menikah, belum bahagia kalau belum punya anak. Sudah punya anak, kalau belum punya fasilitas yang lengkap, dan seterusnya. Kalau uang makin banyak, “sayap duniawinya” makin lebar, makin tinggi ia terbang. Barang apa yang belum dimiliki, barang apa yang belum dia beli, wilayah mana yang belum menjadi objek wisata, dan lain sebagainya.
Pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Tuhan lakukan kepada kita, di mana kita menghadapi masalah-masalah sulit, masalah-masalah berat, kekecewaan, kepedihan namun itu menggiring kita untuk melihat Tuhan sebagai kebahagiaan. Bersyukur, kita dibawa kepada suatu kondisi yang memaksa kita memandang Tuhan, yang akhirnya kita berkata, “Aku taruh hatiku kepada-Mu, Tuhan, dan aku minta tempat di hati-Mu.” Bersyukurlah jika kita diberi anugerah melalui situasi seperti itu.
Tapi ada orang yang situasinya seperti itu, masih saja tidak mau bertobat. Akhirnya menjadi stres, depresi. Waktu tua menjadi garang dan marah-marah. Karena apa yang dia mimpikan waktu dia masih muda atau masih sehat tidak tercapai. Kalau kita tidak punya masalah, hidup kita baik-baik saja, ya hati-hati. Karena kita bisa tidak merasa memerlukan Tuhan. Dan memang Alkitab berkata bahwa orang kaya sukar masuk surga. Kalau pikiran seseorang semata-mata tertuju kepada perkara duniawi, maka dia tidak menemukan, tidak melihat berkat abadi yang Tuhan sediakan dan pembentukan-Nya untuk menjadikan kita ini mulia.
Tuhan ingin agar nurani kita menjadi nurani ilahi—nurani yang seperti milik Allah. Firman Tuhan mengatakan, roh manusia adalah pelita Tuhan. Dalam hal ini, roh menggunakan kata asli neshamah. Kalau diterjemahkan ruakh, ini lebih menunjuk pada unsur kehidupan. Akan tetapi jika diterjemahkan neshamah, lebih menunjuk kepada unsur kesadaran. Dan di dalam roh ini ada nurani. Nurani dalam bahasa Yunaninya, suneidesis. Sun artinya bersama, eidesis dari kata eido artinya tahu, menjadi bersama tahu atau ikut tahu, kata nurani itu. Apa yang masuk ke dalam jiwa, nurani ikut tahu. Jadi, jika jiwa diisi dengan sesuatu yang buruk, nuraninya juga rusak, rohnya mati, tidak menjadi roh yang layak diberi tubuh kemuliaan nanti.
Namun, untuk menjadikan nurani ini sebagai nurani ilahi—untuk menjadikan neshamah ini pelita Tuhan—dibutuhkan proses. Dan Allah memiliki kurikulum untuk membuat manusia memiliki nurani ilahi atau kodrat ilahi atau hakikat Allah. Jadi, Allah menanggulangi kerusakan manusia yang disebabkan karena benih dosa Adam. Dengan melalui segala perkara, Allah bekerja, (Rom. 8:28) sampai orang tersebut serupa dengan Yesus.