Skip to content

Kasih Karunia

 

Roma 5:20–21

“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

 

Seseorang bisa berkeyakinan menjadi orang Kristen, atau mengaku percaya kepada Yesus Kristus, karena faktor keturunan atau faktor lain, misalnya menikah dengan orang Kristen. Namun, itu belum tentu merupakan iman yang benar. Iman yang benar adalah iman yang mengambil keputusan dan bertindak untuk mengikut Yesus.

Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang, yaitu Adam, semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu Pribadi, yaitu Tuhan Yesus Kristus, manusia menjadi benar. Namun, menjadi benar bukan sekadar dibenarkan. Oleh satu orang, Adam, semua orang menjadi berdosa. Sekarang, oleh Yesus, manusia menjadi benar. Benar di sini bukan hanya berarti “dianggap benar,” melainkan sungguh-sungguh menjadi benar.

Oleh karena Adam, kita semua menjadi tidak benar: berkodrat dosa, rusak, dan tidak layak memperoleh hidup yang kekal, sebab tidak ada yang najis yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekarang, karena ada Yesus, manusia memiliki kemungkinan untuk menjadi benar, namun proses menjadi benar tersebut tidak berlangsung secara otomatis.

Konteks ayat-ayat ini adalah jemaat Roma yang sedang berjuang. Paulus berbicara kepada jemaat Roma yang hidup dalam iman yang aktif, iman yang diwujudkan dalam ketaatan dan kesetiaan. Karena itu, jangan kita mengambil alih kalimat-kalimat ini lalu mengenakannya secara sembarangan dalam hidup kita, padahal kita tidak menjalani apa yang dijalani jemaat Roma. Sikap seperti itu menyesatkan. Kita harus memahami konteksnya. Kisah-kisah dalam Alkitab harus kita ambil ekstraksi kebenaran dan hikmahnya, itulah kebenaran sejati.

Jemaat Roma beriman dan dibenarkan. Beriman artinya bertindak, seperti Abraham yang bertindak berdasarkan iman. Jadi, jika seseorang mengaku beriman, ia harus bertindak seperti Abraham. Oleh satu orang, Adam, semua orang berdosa; oleh satu Pribadi, Yesus, manusia menjadi benar. Menjadi benar bukan hanya dibenarkan, melainkan benar-benar menjadi benar. Untuk apa? Untuk hidup yang kekal.

Oleh sebab itu, pengertian kasih karunia tidak boleh dipersempit hanya sebagai pemberian cuma-cuma yang membuat manusia terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Pemahaman seperti ini menyesatkan dan membodohi banyak orang. Seolah-olah manusia tidak perlu berjuang karena Yesus sudah berjuang untuknya. Itu keliru. Kita juga harus berjuang. Di dalam kasih karunia terdapat kemungkinan untuk memiliki kualitas hidup seperti yang dimiliki Yesus.

Kasih karunia bukan hanya pemberian cuma-cuma yang memungkinkan manusia masuk surga dan terhindar dari neraka, melainkan di dalam kasih karunia terdapat potensi dan kuasa untuk memiliki kualitas hidup seperti Yesus. Dalam kasih karunia ada kuasa (exousia) untuk menjalani kehidupan dengan kualitas yang sama seperti yang dijalani Yesus.

Jika kasih karunia hanya dipahami sebagai pemberian cuma-cuma agar manusia terhindar dari neraka tanpa dikaitkan dengan perubahan kualitas hidup menjadi serupa dengan Yesus, maka itu bukan pengertian kasih karunia yang utuh. Kasih karunia yang dipahami sekadar pemberian cuma-cuma agar manusia terhindar dari neraka adalah kasih karunia tanpa tanggung jawab, itu sia-sia. Hal itu sama dengan keselamatan yang begitu berharga, tetapi menjadi sia-sia karena tidak dikerjakan dengan takut dan gentar.

Itulah sebabnya, menjadi suatu keharusan mutlak bagi orang percaya untuk hidup di dalam kasih karunia. Hidup di dalam kasih karunia berarti tidak lagi hidup di dalam dosa. Hidup di dalam kasih karunia berarti hidup di dalam tanggung jawab: tidak hidup menurut daging, melainkan hidup menurut Roh.

Di dalam kasih karunia ada kuasa yang memungkinkan kita keluar dari kodrat dosa dan mengalami perubahan hidup, bahkan mengalami kelahiran baru. Namun, kelahiran baru itu bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Kelahiran baru adalah perjuangan, bukan peristiwa sepihak yang dikerjakan Allah tanpa keterlibatan manusia. Kesalahan inilah yang banyak dimiliki orang Kristen, sehingga banyak yang mati secara rohani karena menganggap bahwa semua telah dikerjakan Allah dan seluruh kehidupan Kristen hanyalah skenario Allah semata. Kekristenan yang dipahami demikian adalah kekristenan yang rusak.