Skip to content

Kapasitas Diri

 

Ketika kita sungguh-sungguh memercayai Allah, mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, hidup suci, berkomitmen untuk benar-benar hidup kudus dan melayani Dia, keadaan kita sering tidak dibuat Tuhan istimewa di mata orang. Baik secara materi, bahkan secara rohani kadang-kadang Tuhan juga menyembunyikan hal itu sehingga mungkin hanya beberapa orang yang tahu bahwa kita secara rohani istimewa. Tapi, sebagian besar orang di sekitar kita tidak melihat keelokan, keindahan hidup kekristenan dan kerohanian kita. Bahkan, kadang-kadang kondisi hidup secara finansial kita lebih rendah, lebih sulit dibanding mereka yang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, yang tidak bergaul dengan Tuhan dengan sungguh-sungguh, yang tidak hidup suci, yang tidak berkomitmen untuk melayani Tuhan. 

Dalam keadaan seperti ini, kita harus belajar untuk tetap memercayai Allah dan tetap bertekun, jangan menjadi lemah. Ketika kita hidup suci, lalu ekonomi kita cepat bertambah maju, berkat-berkat finansial berlimpah, tubuh kita tidak pernah sakit, situasi hidup jadi menyenangkan, mudah dijalani, maka nanti motivasi untuk hidup di dalam kesucian bisa menjadi tidak murni dan bisa saja hal itu berarti kurang atau tidak berkualitas. Tetapi, ketika kita hidup suci, mencari Tuhan sungguh-sungguh, berkomitmen melayani Tuhan, namun keadaan kita sama dengan orang lain, tidak dipromosikan di pekerjaan, bahkan terancam untuk di-PHK, terancam digusur oleh orang-orang yang tidak menyukai kita, dan seakan-akan Tuhan tidak di pihak kita, tapi kita tetap percaya kepada Tuhan, itu indah sekali. 

Di sisi lain, ketika kita sudah mulai mencari Tuhan, rajin ke gereja, doa pagi, tapi situasi hidup kita tidak ada perubahan, keadaan hidup kita tidak ada pergerakan, maka kita mulai meragukan dan mulai ada suara yang mengatakan, “Jangan-jangan Tuhan tidak ada. Kalaupun ada, jangan-jangan Tuhan tidak peduli.” Kita bingung, mumet, tidak tahu jawabnya apa, tapi kemudian tanpa kita sadari, kita menjadi kecewa terhadap Tuhan. Kita memang tidak menunjukkan kekecewaan dengan ucapan, tapi kita mulai kendur, mulai tidak tekun, tidak mendesak Allah. Hal ini sebenarnya tergambar dalam kehidupan tokoh-tokoh iman seperti Abraham, Yusuf, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel, di mana mereka menjaga kesucian, tapi bukannya dipromosikan, malah masuk gua singa, dibuang ke dapur perapian. 

Apalagi gereja mula-mula, benar-benar menakjubkan. Mereka baru menjadi Kristen, mereka meyakini bahwa Yesus itu Raja yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan akan turun menjemput mereka. Dan sesuai janji Tuhan bahwa Tuhan akan datang kembali dan membawa mereka supaya di mana Tuhan berada, mereka juga berada. Namun yang pasti kita tidak akan dipermalukan, walaupun kita nyaris dipermalukan. Dan yang pasti kita tidak akan jatuh tergeletak, walaupun nyaris tergelincir. Yang pasti juga, kita tidak akan jatuh ke jurang walaupun nyaris jatuh karena kita berjalan di pinggir jurang, tapi kita tidak akan jatuh. Tuhan pasti menyertai, memproteksi kita, tapi jangan berharap keadaan menjadi baik seperti yang kita ingini atau seperti yang kita mau. 

Satu dua bulan, satu dua tahun, tiga tahun, empat tahun keadaan bisa biasa-biasa saja. Yang tadinya pegawai rendahan masih tetap menjadi pegawai rendahan, masih terseok-seok menyekolahkan anak. Sehingga kita bertanya-tanya, “Apa bedanya saya dengan orang yang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh?” Di sini seakan-akan kita memiliki alasan untuk menjadi lemah. Kita mulai mencurigai Tuhan. Sebenarnya, hal ini terkait dengan kapasitas diri kita. Sebaliknya, ada orang yang sebenarnya tidak siap untuk menerima berkat finansial, kehormatan, dan pujian. Tuhan tidak mau membuat kita mengalami ini, karena membahayakan untuk kita. Kalau kita dibuat mudah melewati hari, bahaya. Maka melalui perjalanan waktu, kita dipersiapkan Tuhan menjadi orang yang tangguh untuk memikul kepercayaan dari Tuhan. 

Sebenarnya, Tuhan itu mau memakai kita secara luar biasa dan sebisa-bisanya maksimal. Sebab Allah itu besar, pekerjaan-Nya besar, kita pun juga boleh berpikir besar. Allah itu besar, tapi orang percaya yang jadi besar tidak banyak, bahkan hampir tidak ada rasanya. Kenapa? Karena untuk menjadi besar harus disertai dengan kapasitas diri yang besar pula. Sebab kalau kita tidak memiliki kapasitas diri yang besar, maka ketika Tuhan memercayakan perkara besar, pekerjaan Tuhan akan hancur.