Dalam tulisannya, David Platt—seorang pendeta Baptis dari Amerika—dalam bukunya Radical mengangkat sebuah analogi menarik tentang perbedaan antara orang Kristen yang benar-benar mengikut Tuhan dan mereka yang hanya menjadi penggemar-Nya. Platt menggambarkan orang Kristen yang sungguh-sungguh sebagai mereka yang hidup di kapal perang, sedangkan orang Kristen yang tidak sungguh, yang larut dalam kecintaan pada dunia, digambarkan berada di kapal pesiar. Kita dengan mudah dapat membayangkan ketegangan, kesungguhan, dan kewaspadaan orang yang berada di kapal perang, sebaliknya juga dapat membayangkan betapa mudah, nyaman, dan santainya hidup di kapal pesiar.
Gambaran kehidupan Kristen sebagai kehidupan di atas kapal perang yang penuh pergumulan nampak selaras dengan kehidupan Yesus yang menjadi pola bagi kita. Karena itu tidak sedikit orang Kristen yang mencobai diri secara berlebihan untuk “memaksakan” gaya hidup keras demi menyerupai gambaran ideal ini. Tidak dapat dimungkiri bahwa menjadi pengikut Kristus berarti bersedia hidup seperti tentara di kapal perang: siap menghadapi serangan, siap bertempur, dan siap kehilangan kenyamanan. Tiada mahkota tanpa perjuangan. Namun pertanyaannya: apakah kapal perang itu sedang berlayar atau tidak? Jika berlayar, apakah ia karam atau tetap teguh mengarungi lautan? Menjadi Kristen “kapal perang” memang baik, tetapi yang lebih penting adalah konsistensi dalam bertempur dan tidak karam.
Krisis konsistensi ini dialami jemaat Efesus. Mereka adalah jemaat yang cepat melawan orang jahat, sabar menderita demi nama Tuhan, dan tidak mengenal lelah melayani sesama (Why. 2:2–3). Jika memakai ilustrasi Platt, jemaat Efesus benar-benar pantas disebut “Kristen kapal perang.” Namun demikian, gelar itu ternyata tidak cukup. Rasul Yohanes melalui ilham Roh mencatat bahwa Tuhan mencela mereka karena telah meninggalkan kasih mereka yang semula (Why. 2:4). Artinya, menjadi militan saja tidak cukup—militansi itu harus konsisten. Konsistensi sering kali lebih penting daripada capaian rohani di masa lalu.
Banyak orang Kristen merasa telah menderita atau melayani Tuhan begitu luar biasa di masa lampau. Namun kini, api penderitaan dan pengorbanan itu telah padam dan tergantikan oleh kenyamanan hidup. Kenyamanan itu bahkan dilegitimasi dengan pemikiran bahwa Tuhan sedang “mengganti” penderitaan masa lalu dengan kenyamanan masa sekarang. Ironisnya, hal ini paling banyak terjadi di kalangan hamba Tuhan. Pada awal pelayanan, mereka merintis dengan air mata, tekanan, dan cercaan. Tuhan terasa begitu dekat, militansi begitu nyata. Tapi seiring waktu, ketika jemaat bertambah, persembahan meningkat, dan aset gereja berlipatganda, militansi itu perlahan digantikan oleh ambisi pribadi dan agenda pelayanan.
Tentu kita tidak mengatakan bahwa melayani Tuhan harus selalu dilakukan dalam kemiskinan dan penderitaan. Pemahaman seperti itu dapat menyeret seseorang ke asketisme ekstrem yang memandang penderitaan sebagai kondisi ideal. Kita tetap dapat merasakan kenyamanan dan kelegaan sebagai dampak perubahan situasi, namun jangan sampai api yang menyala di dalam hati meredup. Militansi kita dalam mengiring Tuhan tidak boleh digantikan dengan jiwa kompromistik terhadap keindahan dunia yang mengarahkan kita untuk tinggal diam dalam kenyamanan semata. Yang dimaksud di sini adalah kesediaan untuk terus mengobarkan hati yang rela berkorban—hingga menggugah kita hidup “tidak wajar,” tidak sama dengan dunia.
Secara lahiriah, kita mungkin menjalani kehidupan yang tampak normal. Namun secara batiniah, kita membatasi diri terhadap pengaruh dunia dan keindahannya. Misalnya, secara finansial kita sebenarnya mampu membeli rumah seharga puluhan miliar. Tetapi karena kita menyadari bahwa kita hidup di atas kapal perang, kita memilih membeli rumah secukupnya, sementara sisa uangnya digunakan untuk pekerjaan Tuhan—baik untuk keluarga, masyarakat, maupun gereja. Inilah wujud konsistensi hidup di kapal perang: ketika api penderitaan, kesediaan berkorban, dan kemauan hidup tidak wajar tetap menyala di dalam hati.