Skip to content

Jika Tuhan Menghendaki

 

Orang yang tidak memiliki kepastian menurut ukuran dunia justru sering kali lebih terbuka terhadap Kerajaan Surga. Sebaliknya, kepastian yang dibangun manusia—kekayaan, kuasa, relasi, keamanan—sering kali memicu kesombongan di hadapan Tuhan. Demi mempertahankan rasa aman, manusia dapat menghalalkan segala cara dan mengabaikan relasi dengan Allah. Tanpa disadari, mereka terjerat dalam jebakan yang membahayakan jiwanya sendiri.

Gereja pun tidak kebal terhadap pola pikir ini. Ironisnya, banyak gereja masa kini justru menyerupai agama-agama lain: Tuhan dijadikan sarana untuk menopang kehidupan duniawi, kontributor bagi kesuksesan ekonomi, kesehatan, dan kenyamanan hidup. Padahal Injil tidak pernah mengajarkan bahwa dunia ini adalah rumah manusia. Dunia bukan pelabuhan terakhir, melainkan tempat persinggahan.

Firman Tuhan dengan tegas menyatakan: “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Karena itu, setiap rencana manusia seharusnya selalu diiringi dengan kesadaran: jika Tuhan menghendaki. Prinsip ini bukan sekadar kalimat religius, melainkan sikap batin yang menerima sepenuhnya kedaulatan Allah.

Masalah muncul ketika manusia menjadi kuat—kuat uangnya, relasinya, kekuasaannya, atau perlindungan hukumnya. Pada titik ini, kalimat “jika Tuhan menghendaki” menjadi semakin tipis, bahkan nyaris hilang. Yang membahayakan bukan kekuatan itu sendiri, melainkan hilangnya kesadaran akan kekekalan. Karena itu, ketika Tuhan mengizinkan kesulitan dan keadaan yang tidak menentu, sesungguhnya itu adalah nutrisi bagi jiwa. Tuhan sedang menjaga agar manusia tidak melupakan prinsip kekal ini.

Mengandalkan relasi, kuasa, atau pengaruh manusia demi kepastian hidup sangat mendukakan Tuhan. Tidak salah memiliki koneksi atau dukungan, tetapi mengandalkannya sebagai sumber kepastian berarti menggeser posisi Tuhan. Orang percaya dipanggil untuk berkata: “Jika Tuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Artinya, apa pun yang terjadi diterima sebagai bagian dari kehendak Allah yang terbaik.

Banyak orang hidup dengan pola pikir seolah-olah dunia ini adalah satu-satunya tempat hidup. Surga dianggap abstrak dan jauh. Padahal Kerajaan Allah yang akan datang—Langit Baru dan Bumi Baru—adalah realitas yang sangat konkret. Dunia baru itu seperti bumi ini, tetapi tanpa dosa, tanpa pemberontakan, dan tanpa kematian. Di sanalah kepastian sejati berada.

Karena itu, sebaik apa pun keadaan hidup di bumi—sehat, bahagia, mapan—semuanya bukan kepastian. Bahkan dapat membahayakan jika membuat manusia melekat pada dunia. Injil menegaskan bahwa dunia bukan rumah kita. Namun ironisnya, banyak gereja justru mengajarkan sebaliknya: bagaimana menikmati dunia dengan bantuan Tuhan.

Sesungguhnya, manusia berurusan dengan Tuhan bukan untuk memperoleh kepastian hidup di bumi, melainkan untuk menemukan dan menggenapi rencana Allah. Prinsip “jika Tuhan menghendaki” berarti hidup difokuskan pada kehendak Allah, bukan sekadar keuntungan. Tuhan tidak boleh direduksi menjadi alat untuk sukses duniawi. Jika demikian, Tuhan bukan lagi Tuhan, melainkan hamba bagi ambisi manusia.

Orang-orang yang sungguh dikasihi Tuhan sering kali digoncang dengan masalah-masalah yang tidak terduga. Sengatan-sengatan ini dimaksudkan untuk menyadarkan bahwa di dunia ini tidak ada kepastian sejati. Sebaliknya, orang yang dibiarkan tanpa guncangan sering kali menjadi sombong dan merasa mampu mengatur segalanya. Kondisi inilah yang paling mengerikan, sebab menunjukkan hati yang semakin jauh dari Kerajaan Allah.

Satu-satunya kepastian yang sejati hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Segala sesuatu yang lain akan berlalu. Oleh karena itu, hidup dalam ketidakpastian duniawi, tetapi bersandar pada kepastian Allah, justru merupakan jalan yang sehat bagi jiwa dan satu-satunya jalan menuju kekekalan.