Skip to content

Jangan Berhenti Berseru

 

Matius 9:27

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”

“Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Demikianlah seruan dua orang buta ketika mereka mengikuti Yesus setelah Ia membangkitkan anak seorang kepala rumah ibadat. Alkitab tidak mencatat berapa jauh jarak yang mereka tempuh, berapa lama mereka mengikuti Yesus, atau berapa kali mereka harus berseru. Namun, satu hal yang jelas: mereka tidak berhenti sampai Yesus mendengar dan menjawab mereka.

Secara umum, ke mana Yesus pergi, Ia selalu dikelilingi orang banyak. Bayangkan dua orang yang tidak dapat melihat harus berjalan mengikuti kerumunan sambil terus berseru. Mereka mungkin tidak tahu persis ke mana Yesus pergi. Mereka mungkin harus mendengarkan suara orang-orang di sekitar mereka untuk memastikan arah langkah. Namun, keterbatasan mereka tidak menghentikan langkah mereka. Justru, keterbatasan itu membuat mereka semakin menyadari bahwa hanya Yesus yang dapat menolong mereka.

Menariknya, kedua orang buta itu tidak hanya meminta pertolongan kepada Yesus dari kejauhan. Mereka mengikuti Yesus. Ada tindakan nyata yang menyertai seruan mereka. Mereka tidak sekadar berkata, “Tuhan, tolong kami,” lalu berhenti dan menunggu. Mereka mengambil langkah untuk mendekat kepada Yesus. Mereka memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada keterbatasan mereka, yaitu iman kepada Yesus. Mereka percaya bahwa Yesus sanggup melakukan apa yang tidak sanggup mereka lakukan bagi diri mereka sendiri. Karena itu, mereka tidak memilih diam. Mereka berseru, mengikuti, dan terus mencari kesempatan untuk datang kepada Yesus.

Sering kali kita juga berada dalam keadaan yang membuat kita ingin berhenti berharap. Doa yang belum terjawab, pergumulan yang belum selesai, keadaan yang tidak kunjung berubah, atau kelemahan yang terus kita rasakan dapat membuat kita berkata, “Percuma berdoa lagi.” Kita kemudian memilih diam dan berhenti berharap. Kadang-kadang bukan karena kita tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena kita merasa sudah terlalu lama menunggu. Di sinilah sebenarnya iman kita sedang diuji. Mudah untuk percaya ketika jawaban Tuhan sudah terlihat. Namun, tetap berseru ketika jawaban belum terlihat membutuhkan ketekunan. Iman tidak selalu berarti melihat dengan mata jasmani. Mereka tidak dapat melihat Yesus, tetapi mereka percaya bahwa Yesus ada di dekat mereka. Mereka tidak dapat melihat mukjizat yang akan terjadi, tetapi mereka percaya bahwa Yesus sanggup melakukannya.

Bukankah sering kali kita juga demikian? Kita ingin melihat terlebih dahulu, baru kemudian percaya. Kita ingin melihat pintu terbuka sebelum berani melangkah. Kita ingin melihat jalan keluar sebelum kembali berharap. Padahal, iman justru mengajarkan kita untuk tetap berjalan bersama Tuhan sekalipun kita belum mengetahui bagaimana akhir dari perjalanan itu.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam situasi yang membuat kita lelah. Sudah berdoa berkali-kali, tetapi keadaan belum berubah. Sudah berusaha, tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Sudah berharap, tetapi seolah-olah Tuhan diam. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mendengar. Diamnya Tuhan bukan berarti ketidakhadiran-Nya dan penundaan bukan berarti penolakan. Mungkin hari ini jawaban itu belum terlihat. Namun, tetaplah berseru. Mungkin jalan keluarnya belum terbuka. Namun, tetaplah melangkah. Mungkin keadaan belum berubah. Namun, jangan biarkan iman kita berubah.

Kedua orang buta itu akhirnya mengalami buah manis dari ketekunan mereka. Mata mereka dicelikkan dan hidup mereka mengalami perubahan. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa ada kalanya mukjizat dimulai dari hati yang menolak menyerah dan terus berseru kepada Tuhan. Karena itu, apa pun yang sedang kita hadapi hari ini, jangan berhenti berseru dan berharap kepada Tuhan. Teruslah datang kepada-Nya dengan iman. Sebab, sekalipun kita belum dapat melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan, kita dapat tetap percaya kepada Dia yang memegang seluruh perjalanan hidup kita.