Skip to content

Iman yang Kokoh

 

Iman yang kokoh pasti meyakini keberadaan dan kehadiran Allah, sehingga membuat seseorang menjadi kuat menghadapi segala kesulitan dan kesukaran. Ia tidak memiliki ketakutan terhadap apa pun. Jadi, jika kita masih merasakan ketakutan terhadap sesuatu, sejujurnya ada yang belum beres dalam hidup kita. Orang yang memiliki iman seperti ini tidak perlu lagi berusaha meyakinkan dirinya bahwa Allah itu ada, karena keyakinan itu sudah menjadi irama hidupnya, sudah menjadi bagian dari dirinya, dan telah menyatu dalam kehidupannya. Orang-orang seperti ini, ketika berdoa, biasanya mantap, karena mereka sudah terbiasa berdialog dengan Allah. Doanya tidak perlu dikemas dengan kata-kata yang indah; yang penting hatinya tulus. Coba pikirkan: siapa yang mengatur angin bertiup? Siapa yang mengatur oksigen? Siapa yang mengatur rotasi dan revolusi bumi? Siapa yang mengatur jagat raya ini? Ada Elohim Yahweh, Allah yang Mahamulia. Di situlah kita belajar meyakini bahwa Allah itu ada.

Ada orang yang hidupnya selalu merasa tertekan, gagal, tertindas, dan seakan-akan Tuhan tidak ada atau tidak peduli. Ketahuilah bahwa Tuhan itu peduli dan Tuhan itu ada. Kiranya setiap kita dapat mengalami kebangkitan iman. Mungkin di antara kita ada yang sedang mengalami krisis iman. Kita sudah berdoa, meratap, menangis, aktif dalam pelayanan gereja, bahkan berdoa dan berpuasa, tetapi hati masih ciut. Mengapa? Karena sebenarnya kita kurang yakin bahwa Allah itu ada. Masalah ini memang kompleks, walaupun terlihat sederhana. Meyakini bahwa Allah itu ada bukanlah hal yang mudah. Banyak orang mengatakan percaya kepada Allah, tetapi perilakunya tidak menunjukkan bahwa ia benar-benar percaya Allah itu ada.

Sekarang setiap kita harus belajar memiliki keyakinan yang sungguh bahwa Allah itu ada, dan keyakinan itu harus semakin hari semakin kokoh. Bagaimana caranya? Dengan hidup suci. Jangan hidup bercacat. Jika melakukan kesalahan sekecil apa pun, segera akui dan minta ampun kepada Tuhan. Jangan biarkan ada dosa sekecil apa pun tinggal di dalam diri kita. Hal ini harus dilatih. Dengan latihan seperti ini, keyakinan bahwa Allah itu ada akan semakin bertumbuh. Kita terus berurusan dengan Allah. Itulah sebabnya kita dapat tetap kokoh di tengah badai kehidupan yang menerpa kita. Kita menjadi kuat karena kita yakin bahwa ada Allah yang hidup. Dan tentu kita dibela oleh Allah, asalkan kita tidak melakukan sesuatu yang melukai hati Tuhan.

Kehidupan seseorang yang melatih dirinya untuk meyakini bahwa Allah itu ada pasti akan berbeda dengan kehidupan orang lain. Tidak mungkin sama. Mengapa bisa berbeda? Karena ia hidup di bawah pemerintahan Allah. Di balik pemerintahan manusia atau pemerintahan suatu negara, ada pemerintahan Allah di dalam hidup kita. Pemerintahan Allah inilah yang membuat gaya hidup kita berbeda dengan gaya hidup orang yang tidak hidup di bawah pemerintahan Allah. Gaya hidup orang yang hidup dalam pemerintahan Allah memang berbeda dengan mereka yang tidak hidup di dalamnya. Jangan heran jika orang yang berjalan dengan Allah kadang dianggap aneh oleh orang lain, seakan-akan seperti orang yang tidak normal atau sulit dimengerti. Kita sibuk dengan hal-hal yang orang lain tidak sibukkan.

Jika kita adalah orang yang bergaul dengan Allah, maka gaya hidup kita pasti berbeda. Firman Tuhan mengatakan dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Artinya kita harus memiliki cara hidup yang berbeda. Untuk itu kita harus mengalami perubahan pikiran secara terus-menerus (metanoia) melalui pertobatan. Transformasi (metamorphosis) terjadi melalui pertobatan yang terus-menerus. Pertobatan bukan hanya sekali. Setiap kali kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah, sekecil apa pun kesalahan itu harus kita akui dan kita minta ampun kepada Tuhan. Dan kita tidak boleh mengulangi dosa yang sama.

Perubahan yang terus-menerus ini membuat seseorang terlihat seperti paranoid—bukan terhadap manusia, melainkan terhadap dosa. Kita bisa dianggap nyentrik. Ketika orang lain korupsi, kita tidak korupsi; ketika orang lain bercanda jorok, kita tidak melakukannya. Memang jika kita ingin menjalani kehidupan rohani yang sungguh-sungguh, kita akan mengalami pengalaman hidup yang berbeda. Bahkan cara kita membela diri justru dengan tidak membela diri. Jika kita disakiti, dilukai, atau difitnah dengan perkataan jahat, kita tidak perlu membela diri. Jika kita percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Allah menyelenggarakan pemerintahan-Nya, maka biarlah Allah yang menjadi Hakim atas perbuatan mereka.