Skip to content

Hubungan Eksklusif

 

“Sekalipun Allah tidak menolong kami, kami tetap tidak akan menyembah patung yang tuanku dirikan,” merupakan jawaban Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun kecurigaan terhadap Allah. Sekalipun Allah tidak menolong, mereka tetap tidak mau menyembah patung itu. Inilah yang disebut unconditional submission, yaitu ketaatan yang tidak bersyarat. Karena itu, dalam hubungan kita dengan Tuhan, tidak boleh ada kecurigaan sama sekali, walaupun keadaan hidup semakin memburuk, seolah-olah Tuhan tidak peduli dan Tuhan seperti menghilang.

Dalam Yohanes 2:23–24 tertulis, “Dan sementara Ia di Yerusalem selama Hari Raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka dan karena Ia tidak memerlukan kesaksian dari siapa pun tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”

Tuhan Yesus mengetahui motif di balik kepercayaan mereka. Dalam perjalanan hidup-Nya sebagai manusia, Yesus mempelajari firman Tuhan dan memahami keadaan hati manusia. Orang-orang itu percaya, tetapi Tuhan Yesus tidak menerima kepercayaan mereka. Pernahkah kita mempersoalkan apakah percaya kita kepada Tuhan sungguh diterima oleh Allah? Apakah percaya kita adalah percaya yang benar? Selama ini, kata percaya menjadi sangat mudah diucapkan, mudah diakui, dan banyak orang Kristen merasa bahwa kepercayaannya sudah memenuhi syarat keselamatan. Ternyata, di balik kata percaya itu, ada sesuatu yang harus dinilai oleh Allah.

Sebab, di dalam kekristenan, pada akhirnya Tuhan menghendaki adanya hubungan yang eksklusif antara kita secara pribadi dengan Allah. Jalan menuju hubungan itu adalah pengurbanan Yesus di kayu salib. Melalui pengurbanan Yesus, dosa dunia—sejak dosa Adam hingga manusia terakhir—telah dipikul oleh Tuhan Yesus. Dengan kematian-Nya di kayu salib, Ia menanggung dosa dunia, seperti yang dikatakan Yohanes, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Dengan adanya pengurbanan Yesus ini, maka ada pengadilan. Orang-orang di luar kekristenan pun dapat diadili, dan mereka yang mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dapat diperkenankan masuk ke dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat.

Di dalam hubungan inilah Allah Bapa menghendaki agar tidak ada dusta, melainkan kepercayaan penuh bahwa Allah itu baik, sempurna, cerdas, dan tidak bercela. Dan setiap orang harus mengalami hal ini secara pribadi. Masalahnya muncul ketika orang gagal memahami maksud dan tujuan keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Mereka tidak memahami bahwa Yesus membawa kemerdekaan dari dosa, bukan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing atau kemerdekaan secara politis. Allah Bapa menghendaki agar keselamatan membawa kita ke dalam hubungan eksklusif dengan Dia, di mana kita memercayai Allah sepenuhnya tanpa meragukan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti memiliki pengalaman ketika kita tidak dapat memercayakan diri atau menjalin persahabatan dengan seseorang karena orang tersebut tidak dapat dipercaya. Demikian pula, jika kita memercayai Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka kita harus mencapai kehidupan rohani di mana kita pun dapat dipercayai oleh Allah, sehingga terbangun relasi yang sejati antara kita dengan Dia. Ingatlah apa yang tertulis dalam Kitab Yakobus: “Itulah sebabnya ia disebut sahabat Allah,” yaitu ketika Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak. Abraham lulus dalam ujian itu; tidak ada kecurigaan terhadap Allah apa pun yang harus ia lakukan. Karena itulah ia disebut sahabat Allah.

Jika seseorang tidak sungguh-sungguh mau hidup suci dan tidak sungguh-sungguh mau meninggalkan percintaan dunia, maka kepercayaannya belum dapat diterima. Keselamatan harus membawa kita kepada hubungan dengan Allah Bapa sebagai Bapa dan anak, di mana tidak ada kecurigaan sama sekali terhadap Dia. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Kita harus memiliki pengalaman langsung ketika Tuhan membawa kita ke dalam keadaan-keadaan yang ajaib, sulit, dan tidak masuk akal menurut manusia, namun kita tetap memercayai-Nya. Dengan kualitas percaya seperti inilah, kesetiaan dan ketaatan kita akan memiliki kualitas yang sejati.