Seseorang yang mengambil sebuah keputusan tentunya harus didasari oleh perhitungan yang matang. Jika terjadi kerugian, kerugian tersebut dapat terukur tanpa merusak seluruh rencana yang ada. Sebaliknya, jika memperoleh keuntungan, hal itu menunjukkan bahwa perhitungan pada tahap awal dilakukan dengan tepat. Demikian pula, keputusan seseorang untuk menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus harus didasari oleh perhitungan yang matang. Misalnya, seseorang tersentuh oleh pemberitaan firman Tuhan, lalu berkata, “Aku ingin sungguh-sungguh mengikut Tuhan, tetapi nanti saja setelah urusan atau permasalahan ini selesai.” Tanggung jawab membesarkan anak, memenuhi berbagai kebutuhan hidup, dan beragam alasan lainnya dapat membuat seseorang menunda. Alasan-alasan itu sering kali terdengar masuk akal. Namun, tampaknya kata “nanti” itu tidak pernah benar-benar datang. Dinamika kehidupan tidak akan pernah surut, apalagi berhenti, selama manusia hidup. Suka dan duka, susah dan senang, sehat dan sakit akan terus menjadi bagian dari kehidupan. Berbagai dinamika tersebut akhirnya dapat mengubur, menutup, atau menimbun janji yang pernah diucapkan.
Matius 8:18–22 mengulas dua orang yang mengambil keputusan untuk menjadi murid atau pengikut Tuhan Yesus. Keduanya memiliki keinginan yang sama, tetapi menunjukkan sikap yang berbeda, dan Tuhan Yesus memberikan jawaban yang tegas, lugas, dan berintegritas. Seorang ahli Taurat berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Sementara itu, seorang lain yang merupakan salah seorang murid-Nya berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Namun, Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Dalam bacaan tersebut, Tuhan Yesus berhadapan dengan dua orang yang sebenarnya mewakili dua pola yang dapat menggagalkan seseorang dalam menjadi murid atau pengikut-Nya. Kisah ini bukan dimaksudkan untuk mempermalukan atau menyudutkan keduanya, melainkan menjadi pelajaran penting bagi orang percaya bahwa keputusan untuk menjadi murid dan mengikut Tuhan Yesus harus diambil dengan benar. Pola pertama terlihat pada ahli Taurat yang berkata dan berjanji terlalu cepat tanpa terlebih dahulu memperhitungkan keputusannya. Pola kedua terlihat pada seorang murid yang menunda dengan sebuah alasan. Tuhan Yesus tidak sekadar menolak keduanya, tetapi menyatakan harga dan konsekuensi menjadi pengikut-Nya. Jawaban Tuhan Yesus kepada keduanya sungguh di luar dugaan dan memaksa setiap orang untuk memikirkan kembali arti perkataan, “Aku mau mengikut Tuhan Yesus. Aku mau menjadi murid-Nya. Aku mau mengiringi ke mana pun Tuhan Yesus pergi.”
Latar belakang atau alasan seseorang menjadi orang Kristen, orang percaya, bahkan mengambil keputusan untuk melayani Tuhan Yesus dapat bermacam-macam. Ada yang mengambil keputusan karena telah merasakan dan mengalami kuasa Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya, disembuhkan dari penyakit yang mematikan, atau dilepaskan dari ikatan kuasa kegelapan dan dosa. Alasan-alasan tersebut tentu tidak salah atau keliru sebagai awal seseorang mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan Yesus. Namun, semua itu baru permulaan. Perjalanan waktu dan berbagai peristiwa kehidupanlah yang akan membuktikan kualitas pengiringan seseorang kepada Tuhan.
Karena itu, keputusan mengikut Tuhan Yesus tidak boleh lahir hanya dari dorongan emosi sesaat, tetapi juga tidak boleh terus-menerus ditunda dengan alasan menunggu keadaan menjadi lebih baik. Mengikut Tuhan membutuhkan perhitungan yang matang mengenai harga yang harus dibayar. Ada kenyamanan yang mungkin harus dilepaskan, kepentingan diri yang harus disangkal, dan kehendak pribadi yang harus ditundukkan. Menghitung anggaran bukan berarti mencari alasan untuk mundur, melainkan memahami sejak awal konsekuensi keputusan tersebut agar pengiringan kepada Tuhan tidak berhenti ketika keadaan menjadi sulit. Menjadi murid bukan sekadar berani berkata, “Aku mau mengikut Tuhan,” melainkan bersedia membuktikan perkataan itu melalui kesetiaan sepanjang perjalanan hidup.