Pernahkah kita memperkarakan, apakah kita dipandang Tuhan bernilai, berkualitas, menyenangkan, dan berkenan di hadapan-Nya? Jika tidak demikian, pasti ada yang salah dengan kekristenan kita. Apa bidang atau bagian kita di gereja ini? Apa bidang kita yang kita semua harus menggelutinya? Tak lain dan tak bukan adalah menjadi manusia yang berkualitas, manusia yang berkenan di hadapan Allah atau menjadi manusia yang melakukan kehendak Bapa. Matius 7:21-23 berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.”
Namun ironis, banyak hamba Tuhan yang mengajar begini, “Kamu yakin-yakin saja masuk surga karena Alkitab berkata: Yang percaya itu diselamatkan.” Tapi percaya yang dimaksud Alkitab dengan percaya yang dipahami orang hari ini berbeda atau pada umumnya berbeda. Percaya yang dimaksud Alkitab dalam konteks zaman itu, bobotnya tinggi sekali. Sebab, kalau ada orang berani percaya kepada Tuhan Yesus di abad 1, pertaruhannya harta, keluarga, dan nyawa; mati secara fisik karena dipersekusi dan dianiaya. Jadi, kalau ada orang percaya, pertaruhannya adalah seluruh hidup, tidak bisa setengah-setengah.
Hari ini, karena keturunan, kita otomatis jadi orang Kristen. Atau kalau pasangan kita Kristen, maka kita pun jadi Kristen dengan begitu mudahnya. Lalu gereja melegalisir kalau kita pasti masuk surga. Hal inilah yang membuat kekristenan kita jadi murahan. Padahal percaya itu dalam bahasa Yunani pisteuo (πιστεύω) artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai. Itu bukan hanya kegiatan pikiran atau nalar; pasti ada urusannya. Kalau kita berkata kepada seseorang, “Dia percaya, lho, sama saya. Saya juga percaya sama dia.” Pasti ada urusan kenapa sampai ada pertalian percaya itu. Jadi, ketika kita mengaku bahwa kita percaya Tuhan Yesus, itu urusannya apa?
Percaya kepada Tuhan Yesus artinya mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus, yang berkata; “Ikutlah Aku.” Menjadi Kristen itu artinya seperti Kristus. Jadi, kalau orang Kristen tidak makin seperti Kristus berarti ada yang salah. Dengan kata lain, jika kita tidak makin seperti Kristus berarti kita belum selamat. Oleh karena itu, jangan merasa sudah pasti masuk surga. Pertanyaan selanjutnya, “Seperti Kristus itu yang bagaimana?” Karakteristik atau kepribadian masing-masing kita berbeda. Maka, seperti Kristus artinya segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Dan Bapa memiliki Roh Kudus atau Roh Allah atau Roh-Nya Bapa di dalam hidup kita.
Oleh sebab itu, kita harus memiliki kecerdasan rohani supaya kita tahu apakah tindakan kita sudah presisi atau tidak, sudah sesuai kehendak Allah atau tidak. Karenanya, kita harus hidup dengan segala kegiatan. Sebab kalau tidak ada kegiatan, kita tidak tahu apakah tindakan yang kita lakukan, keputusan yang kita buat, dan pilihan-pilihan kita dari berbagai kasus dan persoalan yang kita hadapi sesuai kehendak Allah atau tidak. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat dengan segala dinamikanya, kita dilatih untuk bertindak selalu sesuai dengan kehendak Allah. Inilah yang dikatakan dalam firman Tuhan di Matius 7 tadi.
Seharusnya urusan gereja adalah membuat orang menjadi cerdas, peka, tajam, sensitif terhadap kehendak Allah, dan bisa melakukan kehendak Allah. Kalau kita menjadikan ini sebagai isi atau konten pelayanan kita, maka hal itu akan membuat kita maksa diri untuk hidup berkenan di hadapan Allah. Kita tidak main-main lagi dengan hidup. Mau senang seberapa sih hidup ini? Meskipun kita hidup masih susah, kita juga harus membelaskasihani orang. Jadi, kita bisa mengerti bahwa hidup yang elok adalah kalau kita bisa berurusan dengan Allah semesta alam, Allah Khalik langit dan bumi yang sudah ada dari kekal sampai kekal. Kita bisa berurusan dengan Dia, dan memanggil Dia Bapa, dan Bapa tidak menuntut apa-apa dari kita kecuali hidup makin benar. Tidak melukai orang dan selalu mendatangkan keteduhan bagi sesama.