Skip to content

Hidup yang Disita

 

Untuk memiliki penyerahan diri sampai bisa mengenakan gaya atau cara hidup Yesus, hal itu tidak bisa diwariskan secara otomatis. Jika warisan yang diberikan orang tua hanya berupa status Kristen, kebiasaan pergi ke gereja, dan moral yang baik sebagaimana umumnya orang Kristen, itu belum menjamin seseorang menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih. Lihatlah iman Abraham. Iman yang membuat Abraham hidup menuruti kehendak Allah. Hidupnya disita sepenuhnya oleh panggilan yang ia terima dari Elohim Yahweh. Ia harus meninggalkan negeri asalnya menuju tempat yang bahkan tidak ia ketahui. Ia harus menunggu kelahiran anak yang dijanjikan selama seperempat abad, sementara namanya sudah diubah dari Abram menjadi Abraham. Hidupnya disita oleh penurutan terhadap kehendak Allah.

Demikian pula, jika seseorang beriman dengan benar kepada Tuhan Yesus, pasti hidupnya akan disita untuk menjalani iman yang benar itu. Iman sejati menuntut kehidupan yang ditundukkan sepenuhnya kepada Allah. Tidak bisa otomatis. Orang bisa menjadi Kristen tanpa harus memilih, hanya karena terlahir dalam keluarga Kristen. Ia bisa beribadah seminggu sekali, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi belum tentu menjalani gaya hidup yang dikenakan oleh Kristus. Tuhan kita, Yesus Kristus, ketika mengenakan tubuh manusia, taat kepada Bapa seperti halnya Abraham. Maka kita disebut anak-anak Abraham jika kita menuruti segala yang dikehendaki Allah. Abraham meninggalkan Ur-Kasdim bukan demi petualangan pribadi, melainkan untuk menemukan negeri yang Tuhan tunjukkan.

Memang, sangat istimewa jika seseorang terlahir dalam keluarga Kristen. Namun kelahiran itu bukan jaminan keselamatan. Ada banyak orang di daerah yang tidak pernah mendengar Injil hingga akhir hidupnya, bahkan jika mendengarpun tidak secara utuh. Sementara kita, yang terlahir sebagai orang Kristen, sebenarnya menerima kesempatan besar—kesempatan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, dan untuk dimuliakan bersama Kristus. Tetapi kesempatan ini datang dengan harga yang mahal.

Ketika kita terlahir sebagai orang Kristen, sesungguhnya kita sudah menerima cap ilahi: “Kamu bukan berasal dari dunia ini.” Maka tanggung jawab orang tua sangat besar — sejak dini harus mewarnai jiwa anak-anak agar mereka menghayati kenyataan bahwa mereka bukan berasal dari dunia ini. Namun sayangnya, generasi milenial sudah kehilangan kesadaran ini. Jangankan anak-anak, banyak orang tua pun tidak mengenalnya lagi. Mereka lupa bahwa kita dipanggil bukan untuk hidup menurut daging, melainkan menurut Roh. Karena itu, kita berutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging.

Betapa besar tanggung jawab orang tua untuk memperkenalkan iman sejati kepada anak-anaknya. Namun, sekali lagi, iman tidak bisa diwariskan. Anak-anak harus memilih sendiri. Orang Yahudi tidak perlu memilih; sejak lahir status mereka melekat sebagai umat pilihan berdasarkan keturunan. Tetapi umat pilihan Perjanjian Baru berbeda — ini adalah perjuangan rohani. Jalan hidup yang harus dijalani bukanlah berdasarkan hukum yang dilatih secara otomatis, melainkan berdasarkan kesadaran dan kerelaan untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Orang yang telah kehilangan kemuliaan Allah masih bisa hidup bermoral karena pengaruh hukum dan budaya masyarakat. Namun bagi orang percaya, moral bukan standar tertinggi. Ia harus mengikut jejak Tuhan Yesus. Sebab Alkitab tidak berkata, “Jadikan semua bangsa orang bermoral,” melainkan “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Menjadi murid berarti membangun hubungan langsung dengan Allah, bukan sekadar dengan gereja, pendeta, atau orang tua. Gereja dan hamba Tuhan adalah alat, tetapi setiap individu harus berinteraksi langsung dengan Allah.

Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh rhema Allah. Sebab manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah. Rhema berarti ucapan pribadi dari Allah kepada manusia. Di balik pernyataan ini, kita diajar bahwa seseorang harus menerima nutrisi rohani langsung dari Allah melalui perjumpaan pribadi dengan-Nya. Karena itu, setiap individu harus memilih dan mengambil keputusan untuk memiliki hubungan langsung dengan Allah, yaitu hubungan timbal balik yang nyata dan hidup, bukan sekadar pengetahuan agama semata. Hanya dengan cara inilah hidup kita benar-benar dapat disita oleh Allah untuk kemuliaan-Nya.