Banyak orang memandang surga masih hanya tempat pembuangan yang nyaman. Selama hidup, mereka tidak merindukan surga, karena masih menikmati kenyamanan dunia. Ciri orang seperti ini adalah: takut mati. Sebaliknya, bagi orang yang merindukan bertemu Tuhan Yesus, merindukan pulang ke surga, maka kematian bukanlah masalah. Sebab kerinduannya betul-betul sudah dibangun sejak ia hidup di bumi ini. Maka, mari bersama-sama kita menjadikan kematian sebagai sebuah keindahan. Masalahnya, tidak banyak orang yang serius memikirkan hal ini. Jadi tidak heran jika orang yang sungguh-sungguh dalam Tuhan akan mengalami apa yang disebut social withdrawal; menjauhi pergaulan. Karena dia tidak akan bisa “nyambung” dengan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya; yang masih mencintai dunia. Ingat! kita adalah bangsawan surgawi. Kenali pribadimu.
Oleh sebab itu, jangan karena soal kecil kita berantem, ribut, bocor mulut, saling memfitnah. Kita adalah bangsawan-bangsawan surgawi yang satu hari kelak Tuhan akan menyatakan (ὁμολογέω; homologeo), “Inilah anak-Ku yang Kukasihi.” Kiranya kita harus selalu memperkarakan hal ini, apakah kita layak masuk Kerajaan Surga atau tidak. Karena target kita bukan hanya masuk surga, melainkan masuk Kerajaan Surga. Masalahnya, apakah kita sudah hidup berkenan? “Program” kita sebagai anak-anak Allah adalah kembali ke Kerajaan Bapa. Maka bagi anak-anak Allah yang dianggap sebagai paranoid, tidak perlu takut, tidak perlu malu dan gelisah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa, “Biarlah mereka melihat perbuatanmu dan melihat kota yang terletak di atas bukit.” Yang artinya, biar orang sekitar melihat surga melalui hidup kita. Akan tetapi kalau kerinduan kita akan surga tidak kuat, maka orang tidak bisa melihat surga. Harus kencang, harus kuat, sampai orang berkata, “Orang ini nyari apa sih kok sampai begini?” Di situlah mereka bisa melihat surga.
Mereka biasanya menjadi agak aneh, bahkan sampai sangat aneh. Sebab merasa ada satu kekuatan menguasai dirinya. Penilaian orang pada umumnya terhadap orang percaya yang normal, yang selesai dari sikap hidup logika terbalik juga demikian. Orang percaya menyatakan bahwa dirinya mendapat meterai Roh Kudus seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Orang percaya yakin bahwa Tuhan menyertai mereka dalam segala keadaan sesuai dengan janji-Nya. Hidup orang percaya yang mengandalkan kekuatan Roh Kudus dan bergantung secara proporsional terhadap Tuhan, akan nampak dalam gaya hidupnya. Terlihat dari keberaniannya menghadapi ancaman. Bukan berarti membawa dirinya dalam ancaman, tetapi saat dia menghadapi ancaman, kesulitan, kebutuhan besar, maka ia bisa tetap tenang dan kokoh karena dia percaya ada Bapa yang melindungi dia; ada kekuatan di luar dirinya yang melindungi dia.
Namun jangan lupa, ada orang-orang yang merasa Roh Kudus pimpin dia, lalu punya prinsip: “Allah berperang ganti kita.” Namun dia sendiri tidak bertanggung jawab atas hidupnya, kurang atau tidak memaksimalkan potensi dengan alasan Roh Kudus akan bekerja mengambil alih, atau Allah yang berperang ganti dirinya. Mereka justru malah menjadi tidak efektif dan tidak potensial menjadi saksi Tuhan. Faktanya, tidak sedikit mereka yang tidak bertumbuh dalam kebenaran firman, sebab tidak belajar firman yang murni. Dan ironisnya, dalam kebutuhan finansial, mereka mengandalkan kekuatan manusia. Menyuarakan “Allah berperang ganti kita,” tetapi takut menghadapi segala masalah. Kalau Allah berperang ganti kita, percaya saja Tuhan lindungi. Apa pun yang terjadi, Tuhan pasti jaga kita. Sebagai anak-anak Bapa di surga, kita juga yakin Allah pasti pelihara dan jaga kita. Maka kita harus tenang dalam segala situasi. Tenang yang bertanggung jawab. Bahkan di ujung maut sekalipun, kita bisa tersenyum.
Berdasarkan penelitian dan observasi yang diakui sebagai fakta empiris, didapati bahwa penderita paranoid memiliki halusinasi yang kuat. Begitu kuatnya halusinasi tersebut sampai dikesankan bahwa mereka telah benar-benar mengalami apa yang dikhayalkan tersebut. Bagi penderita paranoid, fantasi mereka adalah fakta. Demikianlah orang-orang paranoid ini menjadi orang yang sukar dimengerti orang lain atau lingkungannya karena fantasinya. Bertalian dengan hal ini orang percaya yang benar dan normal di mata Allah juga dianggap sebagai pemimpi. Mereka sangat yakin terhadap apa yang firman Tuhan katakan, bahwa dunia akan dihancurkan menjadi lautan api dan akan adanya langit baru dan bumi baru (2Ptr. 3:9-13, “Langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api”). Keyakinan itu begitu kuat sampai seakan-akan akan terjadi dalam waktu dekat. Bagi mereka, apa yang dikatakan oleh firman Tuhan itu merupakan fakta. Dan memang demikian.
Orang percaya yang memiliki keyakinan kuat terhadap Tuhan dan apa yang difirmankan-Nya, hidupnya akan diwarnai, dipengaruhi, dan dicengkeram secara kuat oleh perkataan Tuhan. Pertanyaannya, seberapa kuat pengaruh atau warna perkataan Tuhan di dalam diri kita? Kalau kita menghormati Tuhan, kita menghormati perkataan-Nya, dan kita yakin sepenuhnya atas apa yang dikatakan, sehingga menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada kebenaran yang diucapkan. Hal ini akan membentuk perilaku yang berbeda dengan mereka yang tidak memercayai perkataan Tuhan dengan benar. Orang-orang Kristen seperti ini, seperti memiliki khayalan atau fantasi untuk membuat persiapan akan hari besar itu sejak sekarang. Ia seperti Nuh yang sibuk membuat bahtera, walau saat itu belum pernah ada hujan. Kita harus sibuk membuat bahtera hidup. Bahtera Nuh dibuat dengan panjang, lebar, tinggi yang tepat. Kita juga harus sibuk membuat diri tepat seperti apa yang Allah kehendaki.