Skip to content

Hidup dengan Orientasi Kekekalan

 

Filipi 3:20

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.”

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh orang percaya adalah hidup seolah-olah dunia ini merupakan hunian yang kekal. Tanpa disadari, kita sering kali begitu sibuk mengejar keberhasilan, kenyamanan, pencapaian, dan pengakuan manusia sehingga lupa bahwa semua itu hanya bersifat sementara. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kewargaan kita bukan berasal dari dunia ini, melainkan dari Kerajaan Surga. Kita memang masih hidup di bumi, tetapi tujuan hidup kita yang sesungguhnya adalah kekekalan bersama Kristus.

Orientasi atau arah hidup seseorang akan menentukan bagaimana ia menggunakan waktu, tenaga, dan seluruh kehidupannya. Orang yang hanya berorientasi pada dunia akan mengukur keberhasilan dari banyaknya harta, jabatan, atau pencapaian yang berhasil dimiliki. Sebaliknya, orang yang memiliki orientasi pada kekekalan akan bertanya, “Apakah hidupku semakin menyenangkan hati Tuhan? Apakah aku sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Kristus?”

Rasul Petrus mengingatkan agar kita meletakkan seluruh pengharapan kepada kasih karunia yang akan dinyatakan pada saat Yesus Kristus datang kembali (1 Petrus 1:13). Artinya, pengharapan terbesar orang percaya bukanlah memperoleh kehidupan yang lebih nyaman di dunia, melainkan menyambut penyataan penuh kemuliaan Kristus. Pengharapan seperti inilah yang akan memberi kekuatan untuk tetap setia, sekalipun harus menghadapi pencobaan dan penderitaan karena iman.

Sebagai warga Kerajaan Surga, kita dipanggil untuk memiliki hidup yang berbeda dari dunia. Perbedaan itu bukan terutama terlihat dari banyaknya berkat jasmani yang kita terima, tetapi dari karakter yang semakin serupa dengan Kristus. Kita belajar mengasihi ketika dunia membenci, tetap jujur ketika kebohongan dianggap biasa, tetap rendah hati ketika dunia mengejar popularitas, dan tetap setia ketika ketaatan menuntut pengorbanan. Inilah kehidupan yang menunjukkan bahwa hati kita benar-benar tertuju kepada Kerajaan Allah. Setiap hari merupakan kesempatan untuk mempersiapkan diri. Tuhan mempercayakan waktu, talenta, pekerjaan, keluarga, dan pelayanan agar semuanya dipakai untuk memuliakan Dia. Tidak ada satu pun yang sia-sia ketika dikerjakan bagi Tuhan. Sebaliknya, segala sesuatu yang hanya dikerjakan demi kepentingan diri sendiri akan berakhir bersama dunia yang fana ini.

Karena itu, marilah kita mengevaluasi arah hidup kita. Apakah hati kita lebih terpaut pada perkara-perkara dunia atau kepada janji Allah yang kekal? Jangan sampai kita menjadi ahli membangun kehidupan di bumi, tetapi lalai mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal. Sebab, pada akhirnya, yang akan bertahan bukanlah apa yang kita kumpulkan di dunia, melainkan siapa kita di hadapan Tuhan. Orang percaya tidak dipanggil untuk hidup dengan orientasi dunia, tetapi dengan orientasi kekekalan. Ketika hati kita tertuju kepada Kerajaan Allah, setiap keputusan, pengorbanan, dan kesetiaan yang kita lakukan hari ini akan memiliki nilai yang kekal di hadapan Tuhan.