Skip to content

Hidup Berkenan

Dalam kehidupan, sering kita merasa atau ada banyak orang merasa Tuhan tidak membela dirinya. Hal itu terjadi ketika kita ada di dalam satu persoalan dan Tuhan tidak kunjung menolong. Kita sudah berdoa, sudah minta tolong kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kunjung menolong. Apalagi kalau kita menghadapi keadaan yang benar-benar mengancam nyawa dan kehidupan, lalu keadaan itu berlarut-larut. Hal inilah yang membuat kita merasa Tuhan tidak membela kita atau ketika kita diperlakukan tidak adil; orang menjahati diri kita, dirugikan, dilukai, dll. Kita berdoa, tetapi Tuhan seakan-akan tidak bertindak apa-apa. Orang yang menyakiti kita malah kelihatan lebih kuat, lebih dibela orang, dianggap benar oleh orang, sementara kita tersudut atau terpojokkan. 

Tuhan tidak pernah tidak mendengar doa kita. Tuhan adalah Tuhan yang membelaskasihani orang. Masalahnya, apakah kita layak dibelaskasihani oleh Tuhan? Tuhan bukanlah Pribadi yang bisa diperlakukan suka-suka manusia. Tuhan adalah Pribadi Agung yang memiliki tatanan. Dia tidak bertindak di luar tatanan dan aturan-Nya. Tuhan berfirman dalam Yesaya 59 bahwa yang menjadi pemisah antara Allah dan umat adalah dosa. Jadi, bagaimana kita bisa menerima pembelaan Tuhan kalau kita hidup tidak berkenan di hadapan Tuhan? Kalau orang yang hidup sewenang-wenang dan kejam terhadap sesama, lalu minta perlindungan Tuhan dan dengan mudahnya Tuhan melindungi, berarti Tuhan diperbudak oleh orang-orang ini. Tuhan bisa dibawahi oleh orang-orang jahat ini. Orang-orang jahat ini dikendalikan oleh Iblis. Maka, jelas tidak mungkin.

Memang ada orang-orang Kristen baru yang karakternya masih buruk, tetapi Tuhan bisa memberikan pembelaan walaupun dia masih tidak dewasa bahkan melakukan kesalahan. Namun, karena ketidakdewasaan. Kalau sudah dianggap mestinya dewasa, tetapi ia masih tidak hidup berkenan kepada Allah, kehidupannya memberontak dan melawan Allah, maka ia tidak layak dilindungi, tidak layak dibela, tidak layak dibelaskasihani. Tuhan tidak bisa dimanfaatkan. Tentu Tuhan lebih dari bermanfaat. Tuhan itu segalanya di dalam hidup kita. Namun, Tuhan tidak bisa dipermainkan atau diperalat. Tuhan punya aturan, punya format baku dalam bertindak. 

Jadi, kalau kita mau dibela oleh Tuhan, maka kita harus hidup benar, hidup berkenan di hadapan Tuhan. Supaya layak diberkati, layak dilindungi, layak dibelaskasihani oleh Tuhan, ingat kalimat ini: Tuhan tidak bisa diperalat. Kita tidak bisa memanfaatkan, mengeksploitasi Tuhan sesuka kita. Namun, kalau kita hidup berkenan di hadapan Tuhan, kita tidak meminta pertolongan pun akan ditolong Tuhan, karena kita adalah kekasih Tuhan. Jadi, jangan memberontak. Jangan berbuat dosa. Kita yang sekarang dalam keadaan terjepit, tersudut dalam persoalan, dalam ancaman, merapatlah kepada Tuhan, dan hiduplah di dalam kekudusan dan kesucian. Selanjutnya, jadikan Tuhan kebahagiaan kita satu-satunya. 

Kita bersyukur kalau menghadapi masalah, sampai kita dibawa ke situasi yang memang tidak ada jalan keluar, tidak ada kebahagiaan selain Tuhan. Lalu kita merapat kepada Tuhan, dan bisa menikmati Tuhan. Ini adalah berkat, sebenarnya. Ada orang-orang yang harus diperlakukan seperti itu, baru ia bisa menjadikan Tuhan kebahagiaan dan bisa memiliki pengalaman spiritualitas atau pengalaman rohani di mana Tuhan menjadi kebahagiaannya. Ini yang sebenarnya Tuhan kehendaki dalam hidup kita, yaitu Tuhan menjadi kebahagiaan kita. Sebab kalau kebahagiaan kita itu hidup tanpa masalah, hidup dalam ketenangan, hidup dalam kenyamanan di bumi ini, kita bisa masuk neraka. Kalau seseorang tidak merasa Tuhan sebagai kebahagiaannya dan surga sebagai tujuan pengharapan, ia akan memberhalakan sesuatu.

Suami, bisa jadi berhala. Tidak salah memiliki suami yang baik, yang cinta Tuhan, mencintai keluarga. Namun, kalau dengan keadaan suami yang begitu baik lalu jadi tidak lagi menghargai Tuhan, merasa cukup dengan suami, dan rasanya ingin hidup seribu tahun di bumi dengan suami yang baik seperti itu, artinya dia memberhalakan suami. Anak juga bisa menjadi berhala. Begitu fokus ke anak, sampai tidak memiliki waktu untuk Tuhan. Ini salah. Fokus ke anak itu mutlak, harus, tetapi fokus untuk Tuhan harus lebih mutlak. Orang tua juga bisa jadi berhala. Jadi, kalau kita merasa bahagia dan kebahagiaan itu menjadi puncak kebahagiaan kita, berarti kita memberhalakan sesuatu itu. 

Hal ini adalah hal yang tidak pantas bagi anak-anak Allah. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kalau kamu tidak membenci ayahmu, tidak membenci ibumu, tidak membenci saudaramu laki-laki dan perempuan bahkan nyawamu sendiri, kamu tak dapat, kamu tidak layak bagi-Ku.” Jadi, kecintaan kita kepada Tuhan harus melebihi kecintaan kita kepada siapa pun dan apa pun. Ketertarikan kita dengan Tuhan harus melebihi ketertarikan kita terhadap apa pun dan siapa pun. Kita harus terikat dengan Tuhan begitu rupa, karena itu adalah cara mengasihi Tuhan dengan benar. 

Kalau kita hidup berkenan di hadapan Tuhan, kita tidak meminta pertolongan pun akan ditolong Tuhan, karena kita adalah kekasih Tuhan.