Skip to content

Harus Sempurna

 

Matius 5:48

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna”

Dari banyak ayat dalam Alkitab, ini merupakan salah satu ayat yang sering kita dengar: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Kalimat “sempurna seperti Bapa” itu menjadi persoalan yang belum selesai dalam kehidupan gereja Tuhan. Jika jujur, banyak orang Kristen menutup mata terhadap ayat ini. Atau mereka tidak menutup mata, tetapi menganggap ayat itu hanya menghiasi lembaran Injil Matius sehingga tidak diperkarakan dengan serius. Banyak perdebatan terjadi seputar kalimat ini: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “sempurna seperti Bapa”? Apakah manusia bisa sempurna seperti Bapa? Perhatikan kalimat “Karena itu haruslah.” Kata “harus” di sini berarti bukan sesuatu yang bisa atau boleh dihindari. Jadi kita tidak boleh menutup mata; ini pasti sesuatu yang bernilai mutlak.

Jangan kita menanggapi ayat ini dengan mata curiga, seakan-akan Tuhan memaksa kita melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Justru kata “harus” mesti kita lihat dari sudut pandang yang baik. Hal ini mengisyaratkan kabar baik, sebab kata “harus” di sini menunjukkan bahwa kita bisa melakukannya. Tuhan bukanlah Tuhan yang tidak bijaksana. Tuhan yang bijaksana tidak mungkin memberi perintah yang bersifat mutlak untuk dilakukan sementara kita tidak mampu melakukannya. Jika Tuhan berkata, “kamu harus sempurna,” itu berarti Tuhan memberikan kepada kita peluang untuk melakukannya. Kita harus optimis bahwa kata “harus” bukan sesuatu yang menyakitkan, melainkan merupakan kabar baik.

Kita harus berani masuk ke dalam suatu atmosfer yang baru, yaitu atmosfer Kerajaan Allah. Namun bukan berarti bisnis, usaha, dan pekerjaan kita diabaikan. Kita tetap harus bertanggung jawab memikul semua tanggung jawab dan beban yang Tuhan percayakan kepada kita—sebagai pekerja, sebagai anggota keluarga, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai suami, sebagai istri, dan sebagai anggota masyarakat. Tetapi di tengah semua itu, kita harus masuk ke wilayah sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah yang mempersoalkan hal-hal kekal. Jadi ketika Tuhan berkata, “kamu harus sempurna,” itu merupakan kabar baik, karena di balik kata “harus” kita menemukan satu isyarat bahwa Tuhan memampukan kita melakukannya atau Tuhan memandang kita mampu melakukannya.

Dalam Matius 5:45 tertulis, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Dari ayat ke-21 Tuhan membuat perbandingan: dalam hukum Taurat, membunuh berarti menghabisi nyawa; tetapi dalam hukum kasih, membenci saja sudah dianggap sebagai pembunuhan. Ada perbandingan yang jelas. Lalu Tuhan berkata bahwa dengan demikian kita menjadi anak-anak Allah apabila kualitas hidup kita sempurna seperti Bapa. Berkenaan dengan hal ini kita dapat menghubungkannya dengan Yohanes 1:12 dan 2 Petrus 1:3–4 yang pada intinya menjamin bahwa kita dapat menjadi sempurna. Tuhan menjamin bahwa kita mampu memiliki ciri atau tanda sebagai anak-anak Allah. Kita ingin menjadi manusia yang agung, tetapi hal itu tidak dapat dicapai dengan mudah. Yohanes 1:12 mengatakan bahwa mereka yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Artinya, pasti ada tanda-tanda sebagai anak Allah.

2 Petrus 1:3–4 berkata: “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”

Orang percaya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Kita diberi kemungkinan untuk mengenakan kodrat ilahi. Dalam Ibrani 12:7, 9 juga dikatakan tentang “mengambil bagian dalam kekudusan Allah.” Semua ini memiliki makna yang sama, yaitu memiliki ciri sebagai anak-anak Allah. Allah memanggil kita untuk menjadi anak-anak-Nya, tetapi apakah kita sah menjadi anak-anak Allah atau tidak bergantung pada pencapaian kita di hadapan Allah. Di sini mungkin terkesan bahwa keselamatan adalah hasil jerih payah pekerjaan kita. Bukan demikian! Keselamatan hanya kita peroleh karena anugerah Tuhan Yesus. Perbuatan baik apa pun tidak dapat membuat seseorang selamat. Namun dengan keselamatan yang Ia berikan, melalui penebusan-Nya, kita menjadi milik Tuhan dan dibentuk menjadi murid-murid-Nya yang diubahkan menuju kesempurnaan. Pencapaian kesempurnaan itulah yang mengesahkan kita sebagai anak-anak Allah atau tidak.