Sekarang ini, anak-anak muda berusaha untuk dapat memperoleh pendidikan sebaik-baiknya. Mereka berusaha untuk dapat kuliah di perguruan tinggi favorit, kalau bisa yang terbaik di dunia. Dan tentu saja, biasanya perguruan tinggi yang berkualitas baik, juga biayanya besar. Dan orang-orang yang bisa kuliah di sana akan bangga kalau bisa menjadi mahasiswa dan almamaternya. Kalau di film silat, ada orang-orang yang bangga menjadi murid dari orang sakti yang tersohor, guru yang hebat, walau berapapun harga yang harus dibayar dan syarat yang harus dipenuhi. Karena semua itu merupakan nilai hidup mereka.
Hidup ini adalah kesempatan untuk meraih nilai-nilai kekekalan, dan nilai kekekalan kita ada di dalam manusia batiniah kita. Di dalam 1 Petrus 3:4 berbunyi, “Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa, yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Allah.” Percayalah bahwa ini adalah kebenaran, yaitu manusia batiniah kita inilah harta abadi, harta termahal dalam hidup ini. Manusia batiniah kita harus diolah, harus didewasakan. Dan banyak guru yang menawarkan diri untuk itu, yang karenanya lahir banyak agama, banyak filsafat. Mereka mencoba menawarkan bagaimana membuat manusia menjadi baik, santun, beradab, rohani, saleh, suci, atau apa pun namanya, dengan versi mereka masing-masing.
Kita memiliki seorang Guru yang ditawarkan Alkitab, yaitu Tuhan Yesus. Guru yang sebenarnya juga adalah arsitek jiwa. Dia bisa menuntun kita bagaimana membentuk, membangun manusia batiniah yang benar, yang baik menurut Dia, yaitu manusia batiniah yang berstandar Anak Allah. Yakobus 4:5 katakan bahwa Roh-Nya ditempatkan dalam diri kita. Ada filsafat yang mengatakan bahwa manusia adalah percikan Allah, dan hal itu ditentang habis oleh para teolog Kristen. Tapi hari ini, ketika kita belajar kebenaran firman, kita bisa menangkap kebenaran dari pernyataan itu, karena roh manusia itu berasal dari Allah, entah namanya percikan atau apa, sebab ketika manusia diciptakan, Allah yang menghembuskan nafas-Nya. Yang oleh karenanya dalam Yakobus 4:5 firman Tuhan berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa kitab suci tanpa alasan berkata, roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingininya dengan cemburu.”
Mengapa diingini dengan cemburu? Karena Allah berhak. Bicara soal kecemburuan itu, bicara soal keberhakaan Allah. Dia berhak atas roh manusia yang berasal dari Dia, oleh hembusan-Nya yang ditaruh dalam setiap individu. Allah menghendaki roh ini kembali kepada-Nya. Oleh sebab itu, roh atau nesyamah—yang di dalamnya ada nurani, ada manusia batiniah—harus didandani dengan standar Anak Allah. Dan hanya di dalam kekristenanlah ada relasi antara Allah dan umat; sebagai Bapa dan anak. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Bapa di surga, yang bisa menuntun kita untuk memiliki manusia batiniah yang benar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku, bukan muridmu. Beri kesempatan, buka peluang, ciptakan kondisi di mana Aku bisa mengajar mereka dan mereka menjadi murid-Ku.”
Ketika Tuhan berkata, ‘Segala kuasa di surga dan di bumi dalam tangan-Ku,’ artinya Dia memiliki otoritas untuk mengontrol dan mengendalikan. Dengan kebangkitan Tuhan Yesus dan kemenangan-Nya dari maut—yaitu setelah Dia taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib—Iblis tidak mendapat tempat lagi di surga. Tetapi Tuhan Yesus bukan hanya memiliki kuasa di surga—yang oleh karenanya Iblis tidak mendapatkan tempat (Why. 12:10-11)—namun Tuhan Yesus juga memegang kendali dunia ini, sehingga sekarang ‘permainan’ di tangan Tuhan. Sebab Dia yang mengendalikan. Dia sudah menang. Kuasa di situ bukanlah kuasa untuk bertindak secara fisik, melainkan kuasa untuk mengubah.
Jadi, dunia ini diubah oleh Tuhan Yesus. Yang diubah bukan fisiknya untuk menjadi lebih baik, melainkan manusianya untuk disempurnakan. Kalau fisiknya, dengan kedatangan Tuhan Yesus, dengan kemenangan-Nya di kayu salib, justru dunia dibawa kepada keadaan yang tidak nyaman. Tuhan yang mengizinkan, Tuhan yang melegalisir berbagai pergolakan dengan adanya krisis ekonomi, perang dan bencana. Tuhan yang mengadakan; sebagaimana Dia katakan, “Aku datang bukan membawa damai, melainkan membuat bencana-bencana atau mengizinkan bencana-bencana ini terjadi, sebab semua ini harus terjadi sebelum zaman baru.”
Oleh karena itu, situasi dunia yang akan semakin memburuk menjadi sarana Tuhan untuk mempersiapkan orang-orang yang akan mendiami Kerajaan Bapa di surga bersama dengan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Tuhan memuridkan orang-orang, supaya mereka menjadi anak-anak Allah. Dialah Anak Tunggal Bapa, Dia tahu bagaimana selera Bapa, dan Bapa juga menyatakan bahwa Dia adalah Anak yang Bapa kasihi, Anak yang berkenan, Anak yang menyenangkan. Dia bisa mengubah kita bagaimana kita menjadi anak-anak yang berkenan seperti Diri-Nya.