Tuhan menghendaki agar kita menaruh percaya kepada-Nya melalui pengalaman langsung, mulai dari proses pendewasaan hingga sepenanggungan dengan Tuhan dalam penderitaan demi pekerjaan-Nya. Namun, banyak orang membatasi diri. Mereka tidak berani membayar harga mahal dalam pengiringannya kepada Tuhan, sehingga mereka tidak mengalami proses. Padahal, melalui pengalaman hidup dan proses pendewasaan itulah kita dilatih untuk memercayai Tuhan. Setelah itu, seseorang akan masuk ke dalam proses yang lebih berat, yaitu sependeritaan dengan Tuhan, sepenanggungan dengan Tuhan di dalam pelayanan.
Mengapa Tuhan tidak membawa bangsa Israel langsung ke tempat yang berair? Mengapa Tuhan justru membawa mereka menghadapi bangsa Amalek dan harus menembus tembok Yerikho? Sampai akhirnya, bangsa Israel yang tidak mengerti mulai tidak memercayai Tuhan dan berkata, “Apakah tidak ada kuburan di Mesir?” Mereka bahkan menuduh Tuhan hendak membinasakan mereka di padang gurun.
Kehidupan bangsa Israel sebagai sebuah komunitas tidak dapat dijadikan standar kehidupan rohani kita. Memang, kita dapat belajar dari sejarah mereka, tetapi standar hidup kita adalah orang-orang istimewa seperti Abraham, Yusuf, Daud, Daniel, dan puncaknya, Yesus sendiri. Standar hidup bangsa Israel berorientasi pada berkat jasmani dan bersifat komunal, tanpa hubungan eksklusif antara Allah dan individu. Jika mereka taat, mereka diberkati; jika mereka tidak taat, mereka dihukum. Namun, bagi orang percaya yang dipanggil untuk memiliki hubungan eksklusif dengan Allah, ketaatan tidak selalu berujung pada kenyamanan. Bahkan ketika taat, mereka tetap dapat mengalami aniaya.
Orang-orang Kristen pada abad mula-mula hidup taat, suci, dan menyerahkan diri untuk membela Kristus. Apa yang mereka peroleh? Kekayaan? Tidak. Kehormatan? Tidak. Mereka justru mengalami aniaya hingga mati. Pada masa kini, kita mungkin tidak mengalami aniaya fisik seperti mereka, tetapi pergumulan itu tetap ada, hanya bentuknya yang berbeda.
Hidup kita hanya satu kali. Oleh karena itu, mengapa kita tidak membangun hubungan dengan Allah se-eksklusif mungkin, sedekat mungkin, dan seerat mungkin? Dengan demikian, kita akan mengalami proses di mana “Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Kitalah yang menentukan pilihan hidup kita; kitalah yang memilih apakah kasih kita kepada Allah hanya konstan atau justru semakin membara. Dalam kasih yang membara itulah Allah memproses karakter dan watak kita, lalu membawa kita masuk ke dalam sependeritaan dengan Yesus.
Tuhan mengetahui bahwa jika segala sesuatu dibuat mudah, manusia tidak akan memiliki kepercayaan yang berkualitas kepada Allah. Karena itu, Ia membawa kita ke dalam dunia yang terasa asing dan tidak nyaman. Maka, percayalah: Allah layak dipercayai. Namun, jika kita tidak berani hidup kudus dan tidak berani meninggalkan percintaan dunia sepenuhnya, sesungguhnya kita masih meragukan Dia. Kita belum percaya seperti yang dimaksudkan Tuhan Yesus ketika Ia berkata, “Jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Apakah kita memiliki integritas senekat janda itu? Di tengah dunia masa kini yang standarnya semakin jauh dari kesucian Allah, apakah kita tetap mempertahankan integritas, kesetiaan, dan ketaatan kita?
Allah berjanji akan segera membenarkan. Namun persoalannya ada dua. Pertama, apakah Ia mendapati orang-orang Kristen yang benar-benar berani hidup dalam kekudusan dan meninggalkan percintaan dunia? Kedua, apakah Ia mendapati orang-orang Kristen yang berani menaruh hidupnya tanpa batas bagi pekerjaan Tuhan—bahkan ketika Tuhan seolah-olah tidak membela mereka? Seperti orang-orang Kristen pada abad mula-mula, yang bagian hidupnya adalah penderitaan dan aniaya, tetapi mereka tetap setia sampai akhir. Seakan-akan Yesus kalah oleh dewa Zeus karena kekuatan Roma tampak jauh lebih besar daripada para murid Yesus. Namun, para murid itu tetap percaya kepada-Nya. Hal ini tidak dialami oleh semua orang Kristen, melainkan hanya oleh mereka yang mengasihi Tuhan secara konstan dan terus membuat kasihnya semakin membara.