Matius 6:34
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
Banyak orang mengatakan bahwa mereka percaya kepada Allah, tetapi tindakannya tidak menunjukkan bahwa mereka benar-benar percaya Allah itu ada. Bagaimana kita dapat melihat diri kita sendiri apakah kita masih ragu-ragu atau kurang yakin bahwa Allah itu ada? Ketika kita berada dalam kekhawatiran dan ketakutan yang tidak perlu. Periksa apakah ada ketakutan dan kekhawatiran yang perlu? Jika kita percaya bahwa Allah itu ada, maka kita pasti memiliki ketakutan yang kudus dan kekhawatiran yang benar. Misalnya khawatir tidak masuk surga atau takut tidak masuk surga. Hal ini tentu harus berangkat dari takut akan Allah. Dan takut akan Allah harus berangkat dari sikap hormat serta kasih kita kepada Allah. Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Lukas 12:5, “Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!”
Tidak mungkin seseorang tidak takut akan Allah jika ia menghayati bahwa Allah itu dahsyat. Jika kita benar-benar menghayati keberadaan Allah, pasti akan ada kegentaran yang luar biasa di dalam diri kita. Kegentaran itulah yang membuat kita takut terpisah dari Dia. Terpisah dari Dia berarti masuk neraka. Karena itu kita berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang melukai hati Tuhan, yang dapat mengakibatkan kita terbuang dari hadirat Allah. Itulah takut yang kudus dan kekhawatiran yang positif. Hal ini sama seperti seorang siswa atau mahasiswa yang ceroboh, yang tidak takut tidak naik tingkat dan tidak memiliki kekhawatiran. Biasanya anak-anak seperti ini hidup sembarangan atau sembrono. Pada saat pengumuman kelulusan barulah muncul ketakutan dan kegentaran. Seharusnya kegentaran itu muncul di depan, bukan belakangan. Ketika seseorang takut tidak naik tingkat, ia akan belajar dengan rajin. Ia dapat mengesampingkan hal-hal yang tidak perlu dilakukan.
Kita harus takut akan Allah sehingga kita menata hidup kita hari ini dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, ketika kita berada di ujung maut, kita tidak takut menghadapi kematian. Ketika kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, kita juga tidak takut, karena kita sudah terbiasa menjalani hidup dengan benar. Ini bukan hal yang sederhana. Mengaku percaya bahwa Allah ada, tetapi tetap khawatir terhadap banyak hal dan takut terhadap banyak hal, adalah sikap yang keliru. Kita harus percaya bahwa Allah itu ada, yakin, dan terus menghayatinya. Kita harus memerintahkan jiwa kita, bahkan saraf-saraf kita, untuk selalu meyakini bahwa ada Allah yang hidup, yang mata-Nya melihat kita dan yang memperhatikan seluruh perilaku serta perbuatan kita.
Orang yang sungguh-sungguh meyakini bahwa Allah itu ada tidak akan takut menghadapi keadaan apa pun, sebab Allah lebih besar dari segala sesuatu. Memang setiap kita masih belajar. Kadang-kadang ketika menghadapi keadaan sulit yang mengancam, hati kita bisa menjadi gentar dan kecil hati. Kita bahkan bisa meragukan apakah Allah mau campur tangan, seolah-olah Allah tidak ada. Kadang-kadang Tuhan seperti membiarkan masalah kita berlarut-larut. Namun sebenarnya semua itu merupakan ujian untuk melihat apakah kita benar-benar meyakini bahwa Allah itu ada. Kita harus yakin bahwa Allah yang besar dan dahsyat sanggup mengatasi segala sesuatu.
Jika kita masih memiliki ketakutan atau kekhawatiran yang tidak perlu, biasanya hal itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, kita tidak memercayai kuasa Allah. Kedua, kita masih memiliki kehidupan yang belum beres atau belum berkenan di hadapan Tuhan. Jika kehidupan seseorang belum beres di hadapan Tuhan, maka ia tidak dapat memiliki iman yang kokoh, karena ia tidak terbiasa meyakini bahwa Allah itu ada. Kedua hal ini saling berkaitan. Jika seseorang benar-benar yakin bahwa Allah itu ada, maka ia akan berusaha hidup suci dan tidak melukai hati Tuhan dengan tindakan yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Jika demikian, imannya akan semakin kokoh. Penghayatan iman itu akan terlihat dalam kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Dengan demikian imannya akan semakin kuat.