Orang yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan terlihat dari sikap hidup yang mengingini segala sesuatu demi kepuasan dirinya (Yak. 4:1–4). Orang seperti ini bersahabat dengan dunia; mereka adalah pengkhianat terhadap Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah (Luk. 4:5–8). Dan memang demikianlah kenyataan hari ini: banyak orang merasa berhak atas hidupnya, lalu menaruh berbagai keinginan dalam diri tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki hidup tersebut.
Satu hal yang sering dilupakan manusia adalah bahwa kita berasal dari ketiadaan.
Allahlah yang mengadakan kita—menghadirkan seorang pribadi yang disebut “saya.”
Hal ini harus selalu diingat: kita ada dari tidak ada (creatio ex nihilo). Dengan demikian kita sebenarnya tidak berhak atas hidup kita, sebab hidup yang kita miliki adalah milik Tuhan yang mengadakannya. Jika kita sungguh-sungguh menghayati realitas ini, kita tidak akan berkeberatan untuk hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya secara mutlak.
Dalam penciptaan setiap pribadi, Allah pasti memiliki agenda. Agenda Tuhan itulah yang harus kita pedulikan, bukan agenda diri sendiri. Orang yang terus mengumbar keinginannya adalah orang yang merasa berhak atas agenda pribadi. Orang seperti ini pada dasarnya berstatus pemberontak—hidup untuk memenuhi kegiatan yang bersumber dari agenda diri sendiri. Kita harus sadar bahwa kita tidak berhak ada. Kalau kita dapat mengadakan diri kita, barulah kita berhak memiliki keinginan sesuka hati. Tetapi karena kita tidak dapat membuat diri kita ada, dan Tuhanlah yang mengadakannya, maka Tuhan sepenuhnya berhak atas diri kita.
Karena itu kita harus berani berkata tegas: “God doesn’t exist for me; I exist for the Lord.” Tuhan bukan untuk saya; saya ada untuk Tuhan. Orang percaya yang benar akan belajar tidak merasa berhak memiliki keinginan apa pun di luar kehendak Bapa. Ia akan terus berkata dalam doanya: “Bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mulah yang jadi. Bukan kerajaanku yang datang, melainkan Kerajaan-Mu. Kehendak-Mu lah yang jadi di bumi seperti di surga.”
Manusia yang ditebus darah Tuhan Yesus tidak berhak memiliki spirit atau gairah dunia, kecuali spirit dan gairah yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus. Tubuh yang kita hidupi ini harus digerakkan oleh gairah atau spirit Tuhan Yesus (Gal. 2:19–20). Jika kita menghadirkan gairah Anak Allah dalam diri—menyerap semangat hidup-Nya—kita menghadirkan Dia dalam hidup kita. Sebaliknya, jika tidak, kita sebenarnya sedang meniadakan Tuhan dalam hidup. Itulah sebabnya, bagi orang yang sungguh-sungguh melayani kehendak Tuhan, Tuhan menjadi sangat nyata; tetapi bagi mereka yang tidak mau melayani-Nya, Tuhan seperti tidak ada.
Tuhan Yesus pernah dicobai Iblis untuk memiliki spirit yang salah, yaitu spirit dunia. Iblis menunjukkan keindahan dunia untuk menjerat-Nya, tetapi Tuhan Yesus menolak. Penolakan ini berarti Ia tidak mau menyembah Iblis. Dan seperti Dia menang, kita pun harus menang. Karena itu Tuhan Yesus disebut Pokok Keselamatan yang menjadi teladan bagi kita (Ibr. 5:7–9). Dalam hal inilah kita mengerti mengapa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5–7). Sebab memiliki pikiran dan perasaan Kristus berarti kita hidup di dalam gairah-Nya, bukan gairah dunia.