Skip to content

Habitat Kerajaan Surga

 

Kalau kita mengalami Tuhan, menghayati kebesaran-Nya sampai kita bisa menjadikan, Tuhan satu-satunya harta kita, sejatinya, barulah kita bisa memenuhi firman, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan.” Itu adalah standar mengasihi Tuhan. Dan kalau kita kaitkan dengan status kita sebagai mempelai Tuhan Yesus, maka tidak ada seseorang atau sesuatu pun yang ada di hati kita lebih dari Tuhan. Menjadi perawan suci seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan di 2 Korintus 11: 2-4, artinya kita benar-benar tidak memiliki keinginan, kecuali keinginan itu Tuhan kehendaki untuk kita ingini. 

Harta kita yang sesungguhnya atau sebenarnya ada di langit baru bumi baru, dan itu yang harus kita ingini, yaitu kehidupan bersama dengan Tuhan di kekekalan. Apa pun yang kita miliki hari ini, itu milik Tuhan. Tidak ada yang berhak kita klaim menjadi milik kita karena kita telah ditebus dengan harga yang lunas dibayar. Jadi kita bukan milik kita sendiri. Lalu untuk apa kita mengingini sesuatu kalau sesuatu itu juga akhirnya bukan milik kita? Maka, semestinya kita mengingini sesuatu yang Tuhan menghendaki kita mengingininya, supaya ketika kita memperolehnya, itu milik Tuhan karena diingini oleh Tuhan. 

Ya, ini perjalanan berat, karena kita sudah biasa suka-suka sendiri, liar, menjadi raja bagi diri kita sendiri. Harta kita sendiri itu nanti bukan saat ini. Jadi paling aman kalau kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Sebaliknya, adalah bahaya kalau kita mempunyai keinginan dan keinginan tersebut tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadi, apa yang kita ingini harus sesuatu yang diingini Tuhan, yang mana kita menjadi bejana Tuhan untuk mengekspresikan keinginan-Nya. Dan itu bukan berlebihan, sebab firman Tuhan mengatakan, “Baik kau makan atau minum atau melakukan suatu yang lain, lakukan semua itu untuk kemuliaan Allah.”

Salah satu ciri orang yang sesat adalah orang itu memiliki dirinya sendiri. Dia pasti hanyut dengan banyak kesenangan, gadget, dia menikmati sesuatu yang mana Tuhan tidak menikmatinya. Akan tetapi dia merasa sah-sah saja berbuat itu. Memang tidak apa-apa, karena itu keputusan dan pilihannya, tapi orang seperti itu bukan anak-anak Allah. Karena sebagai anak-anak Allah, seseorang harus berkarakter Allah, dan untuk berkarakter Allah, ia harus mengkondisi habitat atmosfer di sekitarnya. Kita harus menciptakan habitat Kerajaan Surga, sesuai dengan kalimat, “Datanglah Kerajaan-Mu.” 

Ketika kita menghadirkan atmosfer atau habitat Kerajaan Surga, maka kodrat kita berubah selangkah demi selangkah. Kodrat kita tidak akan berubah kalau kita tidak mengubah habitat. Buka pintu, biar atmosfir Kerajaan Surga turun lewat doa. Ironi, banyak orang malas berdoa—termasuk para hamba Tuhan. Sehingga tanpa disadari, pelayanannya hanya untuk supaya ia mempunyai hidup. Bukan tidak boleh, tapi atmosfer Kerajaan Surga tidak hadir dalam hidupnya. Dan sebenarnya, orang seperti ini belum sampai pada habitat anak-anak Allah yang semestinya keinginan kita itu semua sesuai dengan keinginan Tuhan. Karena kita harus menjadi bejana Tuhan yang mengekspresikan perasaan Tuhan. 

Pada akhirnya, memang setiap kita harus mengalami Tuhan. Apa pun konsep teologi kita, apa pun pandangan dan asumsi kita tentang Dia, kita harus menemui Tuhan, harus bisa merasakan perjumpaan itu. Namun jangan pikir berdoa itu gampang. Orang bisa ada di ruang perpustakaan dari Senin sampai Sabtu, 5-7 jam. Namun berdoa setengah jam belum tentu dia mampu. Setan membuat dia begitu, supaya dia pintar, dia menalar Tuhan, tapi tidak berjumpa Tuhan. Sebab menalar Tuhan di perpustakaan tidak menuntut kesucian, tidak menuntut kerendahan hati. Akan tetapi kalau kita sudah berjumpa Tuhan, menghayati kebesaran-Nya, Tuhan akan menantang: “siapa yang kau pilih?” Dan kita bisa tidak keberatan kehilangan apa pun demi memiliki Tuhan.