Seberapa banyak kita mengalami Tuhan, serta memiliki Tuhan dan dimiliki Tuhan, tergantung seberapa banyak kita melepaskan segala sesuatu, atau seberapa banyak kita mempertaruhkan segala sesuatu. Kalau kita menjadi umat pilihan Perjanjian Baru yang percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita tidak bisa hidup wajar, dan memang kita tidak boleh hidup wajar. Namun sulit untuk menjelaskannya kepada orang Kristen hari ini. Kalau kita memperhatikan murid-murid Yesus terkait dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan sejak perjumpaan mereka dengan Yesus, hidup mereka benar-benar diubah. Mereka tidak bisa lagi hidup sama seperti sebelum mereka berjumpa dengan Yesus, dan mereka tidak boleh lagi hidup sama seperti orang lain hidup.
Coba kita perhatikan bagaimana Tuhan Yesus menyuruh Yohanes, Petrus, Yakobus meninggalkan jalanya, dan Tuhan Yesus berkata, “Aku akan menjadikan kamu penjala jiwa.” Perhatikan bagaimana Yesus memanggil Lewi dengan meja cukainya, “Ikut aku.” Lalu Tuhan Yesus berkata, “Kamu tidak layak jadi murid-Ku kalau kamu tidak melepaskan segala milikmu.” Namun, mengapa orang tidak berani mempertaruhkan hidupnya sebanyak-banyaknya dan sepenuhnya bagi Tuhan? Karena tidak menghayati atau gagal menghayati kebesaran dan kemuliaan Allah. Dan memang itu tidak bisa kita urai hanya dengan pikiran atau nalar, namun harus kita alami dalam perjumpaan langsung dengan Tuhan.
Dia adalah Allah yang sudah ada dari kekal sampai kekal, tidak terbayangkan. Dia bisa ada di luar waktu, di luar semua dimensi yang bisa kita pahami. Dia melampaui yang kita pikirkan dan bayangkan, atau dengan kalimat apa pun. Dan seiring dengan penghayatan kita terhadap keagungan Allah—di dalamnya termasuk pengalaman pribadi dalam perjumpaan dengan Tuhan—maka kita rela melepaskan segala sesuatu. Kita rela mempertaruhkan segala sesuatu untuk Dia, sampai kepada satu pernyataan, satu tekad, satu komitmen, satu langkah nyata bahwa tidak ada yang berharga dalam hidup kita selain Tuhan. Dia adalah satu-satunya harta kita.
Kalau kita tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya harta, kita merasa berkhianat, merasa tidak pantas. Akan tetapi, kalau Tuhan menjadi satu-satunya harta kita, maka kita baru bisa mengerti apa maksud bahwa Tuhan adalah kehormatan kita, kemuliaan kita, martabat kita, kebahagiaan kita dan kesenangan kita satu-satunya. Sebagaimana pemazmur bisa berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Orang seperti ini barulah ada dalam perhentian di mana Tuhan menjadi perhentian atau pelabuhannya. Orang seperti ini baru benar-benar selesai dengan dunia dan selesai dengan dirinya sendiri. Lalu berlanjut menjadi kekasih Tuhan, menjadi sahabat Tuhan.
Sejatinya, tidak ada yang perlu kita banggakan. Banyak orang sesat tanpa menyadari dirinya sesat, karena semuanya hanya di wilayah nalar tanpa perjumpaan dengan Tuhan yang terus-menerus, sampai bisa menghayati keagungan dan kemuliaan Tuhan. Jika sampai tingkat di mana kita mengakui bahwa, “Hanya Engkau yang kuingini,” barulah kita bisa berkata, “Tuhan cukup bagiku.” Di titik ini, kita baru benar-benar merdeka. Dan inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus di Matius 11:28-29 tentang kelegaan yang sama dengan perhentian, bahasa Yunani sabbaton (Σάββατον), atau anapauso (ἀναπαύσω).
Tentu kita akan menjadi kuat menghadapi apa pun di depan karena kita tidak memiliki kepentingan dalam hidup ini selain Tuhan. Tetapi kalau seseorang bisa sampai pada level ini, dia lebih dari konglomerat mana pun. Dia lebih dari seorang yang sukses dalam studi akademis. Dia lebih sukses dari apa pun dan siapa pun, karena tidak ada yang lebih berharga dalam hidup ini selain Tuhan.