Skip to content

Fokus pada Kerajaan Kekal

 

Filipi 3:18–21

“Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.”

 

Setiap kita pasti merindukan kehidupan yang damai, aman, dan penuh kebahagiaan. Namun, faktanya, semakin lama kita hidup di dunia ini, semakin kita menyadari bahwa dunia tidak pernah mampu memberikan kebahagiaan yang sempurna. Di tengah kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan, manusia masih tetap bergumul dengan perang, bencana, penyakit, ketidakadilan, serta berbagai macam persoalan yang mengingatkan kita bahwa bumi bukanlah tujuan akhir kehidupan.

Oleh karena itu, Tuhan Yesus berulang kali mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk berfokus pada perkara-perkara yang kekal. Ia mengajarkan agar setiap orang percaya mengumpulkan harta di surga, bukan hanya mengejar harta di bumi yang dapat rusak dan lenyap. Fokus hidup orang percaya bukan untuk menikmati dunia ini, melainkan mempersiapkan diri menyambut Kerajaan Allah yang kekal. Dalam Doa Bapa Kami kita mengaku, “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” Pengakuan ini mengingatkan bahwa hanya Kerajaan Allah yang akan tetap berdiri untuk selama-lamanya, sementara segala kemegahan dunia akan berlalu.

Perjalanan Abraham dalam Alkitab menjadi teladan yang indah tentang hidup yang berorientasi kepada kekekalan. Ketika Allah memanggilnya keluar dari Ur-Kasdim, Abraham meninggalkan kota yang maju, nyaman, dan makmur menuju tempat yang belum pernah ia lihat. Ia melangkah bukan karena mengetahui semua jawaban, melainkan karena mempercayai Pribadi yang memanggilnya. Hal ini juga ditegaskan dalam Ibrani 11:10, yang menjelaskan bahwa Abraham menantikan sebuah kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Menariknya, sepanjang hidupnya Abraham tidak pernah melihat kota itu secara nyata. Namun, ia tetap hidup sebagai musafir yang setia karena imannya tertuju kepada janji Allah, bukan kepada kenyamanan dunia.

Sikap Abraham menjadi cermin bagi setiap orang percaya. Dunia sering kali menawarkan rasa aman, kenyamanan, dan kenikmatan yang membuat kita enggan melangkah bersama Tuhan. Seperti bangsa Israel yang keluar dari Mesir, tidak sedikit orang mulai merindukan “kenikmatan Mesir” ketika perjalanan iman terasa sulit. Mereka lebih memilih kepastian semu daripada janji Allah yang menuntut iman. Akibatnya, banyak yang gagal memasuki penggenapan janji Tuhan karena hati mereka lebih terikat kepada dunia daripada kepada Allah.

Sebagai anak-anak Allah, identitas kita berbeda dengan dunia. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita adalah ahli waris bersama Kristus jika kita juga bersedia menderita bersama Dia, supaya kita dipermuliakan bersama-Nya (Roma 8:17). Penderitaan yang kita alami karena kesetiaan kepada Kristus bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan bagian dari proses mempersiapkan kita untuk menerima kemuliaan yang kekal. Oleh sebab itu, marilah kita menjalani hidup sebagai musafir rohani. Jangan sampai hati kita terlalu melekat pada dunia yang sementara ini. Gunakan setiap kesempatan untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, hidup dalam kekudusan, dan setia melakukan kehendak-Nya.