Jika perasaan kita masih mudah dimainkan oleh perkara-perkara dunia, maka kita tidak akan pernah mengalami dukacita menurut kehendak Allah. Dukacita semacam ini hanya dimiliki oleh orang yang hatinya peka terhadap dosa dan haus akan kesucian. Artinya, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kekudusan Tuhan, hati kita akan menyesal, sedih, bahkan meratap: “Mengapa aku melakukan hal ini?” Kita menjadi trauma atas perbuatan kita sendiri. Bila perasaan semacam ini terus dikembangkan dalam kesadaran rohani, maka kita akan menjadi pribadi yang semakin bertumbuh di hadapan Allah.
Menjelang akhir tahun 2025, tentu banyak orang akan menaikkan ucapan syukur. Namun, kita perlu bertanya: atas apa kita bersyukur? Apakah atas hari-hari yang Tuhan berikan, atau atas cara kita mengisi hari-hari itu? Jika hari-hari yang kita jalani diisi dengan perbuatan yang tidak menyukakan hati Allah, tidakkah itu ironis—bahkan keliru—ketika kita mengucap syukur atasnya? Lebih baik kita datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, mengakui dosa dan kesalahan kita, dan memohon ampun. Bertobatlah, sampai kita memiliki dukacita menurut kehendak Allah—dukacita karena menyadari bahwa keadaan kita belum seperti yang Allah kehendaki.
Orang yang memiliki dukacita seperti ini akan menjadi pribadi yang makin hari makin berkenan kepada Tuhan. Allah, yang menguji batin manusia, akan menunjukkan keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan-Nya. Dan selama kita masih mau membuka diri dan bertobat, anugerah Allah tidak akan pernah habis. Ironis sekali jika kita belum mau bertobat hanya karena merasa berat meninggalkan kesenangan dunia. Memang benar, meninggalkan dunia itu berat. Tetapi begitu kita mulai melangkah, kita akan menemukan bahwa hal itu bukan mustahil—bahkan keniscayaan bagi orang yang mengasihi Tuhan.
Kita bisa berubah, sebab Tuhan melihat kesungguhan hati kita, meskipun mungkin kita belum berubah sepenuhnya. Perubahan tidak terjadi seketika, tetapi melalui proses yang panjang. Namun, niat dan tekad untuk berubah adalah bukti bahwa kita mengasihi Tuhan. Sebab ketika kita bertekad tulus untuk hidup benar, Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Maka, di penghujung tahun ini, marilah kita membereskan diri di hadapan Tuhan. Katakanlah dengan tulus, “Tuhan, ampunilah setiap dosaku, kesalahanku, perbuatanku yang tidak senonoh, tindakanku yang tidak tepat. Ampunilah aku.” Namun, permohonan ampun itu harus disertai kesadaran bahwa kita rusak dan komitmen untuk mengubah diri. Tanpa komitmen, pengakuan hanya menjadi formalitas kosong. Sungguh ironis melihat banyak orang yang mengaku percaya kepada Yesus, tetapi tidak mau mengikut Yesus. Mereka tahu kebenaran, tetapi tidak mau melakukannya. Padahal, iman sejati selalu ditandai oleh komitmen untuk hidup sesuai kebenaran yang sudah diketahui.
Dalam kecerdikannya, Iblis menggiring banyak orang Kristen hidup seperti Petrus ketika ia jatuh: ceroboh, tidak berjaga-jaga, dan merasa aman. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini adalah medan peperangan rohani. Mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan apakah tindakan, keputusan, dan pilihan hidupnya sesuai dengan kehendak Bapa atau tidak.
Ingatlah, bagi orang percaya, tidak pernah ada gencatan senjata dengan kuasa kegelapan. Tidak ada daerah netral dalam hidup rohani. Setiap waktu adalah suasana perang—antara kehendak Allah dan godaan dunia. Karena itu, jangan lengah! Berjagalah senantiasa, supaya dukacita kita bukan karena kehilangan dunia, tetapi karena telah melukai hati Tuhan. Sebab dari dukacita yang demikianlah lahir pertobatan sejati, dan dari pertobatan sejati lahir ucapan syukur yang benar di hadapan Allah.