Doa orang percaya tidak selalu sampai kepada Allah. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa ketika anak-anak Allah masih menyimpan kejahatan dan dosa yang belum diselesaikan, doa mereka terhalang. Dalam kondisi demikian, doa tidak lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan ke ruang hampa, sebab Allah tidak hadir di sana. Ketika seseorang menyimpan kejahatan, sesungguhnya Allah telah menarik diri darinya. Oleh karena itu, orang percaya perlu senantiasa berada dalam kesadaran rohani, agar mampu mengenali kejahatan dan dosa yang masih tersimpan di dalam dirinya untuk segera dibereskan, diperbaiki, dan ditinggalkan. Tanpa pertobatan yang sungguh, keterpisahan dari Allah yang kudus menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Allah tidak dapat dijangkau oleh anak-anak-Nya yang masih berlumuran dosa yang belum diselesaikan. Maka, penyelesaian persoalan dosa dan kejahatan menjadi prasyarat penting dalam relasi dengan Allah. Orang percaya dipanggil untuk berkomitmen hidup suci dan kudus, meninggalkan segala bentuk kejahatan dan dosa, barulah kemudian datang kepada Allah dalam doa dan dialog. Prinsip ini tampak jelas ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya, khususnya dalam kalimat, “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Kalimat ini menegaskan bahwa sebelum seseorang datang kepada Allah untuk memohon pengampunan, ia harus terlebih dahulu menyelesaikan kesalahannya dengan sesama.
Ungkapan ampunilah kami akan kesalahan kami menunjukkan adanya kesadaran bahwa manusia memiliki kesalahan, dosa, dan pelanggaran. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi sikap dasar orang percaya. Yakobus 3:2 menyatakan, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal.” Pernyataan ini menuntut kerendahan hati, agar orang percaya tidak memandang dirinya lebih benar daripada orang lain. Setiap orang memiliki potensi untuk bersalah dan karena itu harus terus berjaga-jaga terhadap dirinya sendiri. Fokus utama kehidupan rohani bukanlah mencari kesalahan orang lain, melainkan menyingkirkan “balok” kesalahan dalam diri sendiri.
Upaya pembenaran diri sendiri di hadapan Allah merupakan proses yang panjang dan menuntut kesungguhan. Namun, proses ini kerap terganggu ketika seseorang mulai lebih sibuk memperhatikan kesalahan orang lain dan merasa memiliki hak untuk memperbaikinya. Ironisnya, ketika hidup pribadi belum beres, seseorang justru berusaha membereskan hidup orang lain. Sikap semacam ini merupakan bentuk kemunafikan yang berbahaya dan dapat merusak kehidupan rohani orang percaya.
Yesus dengan jelas mengajarkan prinsip ini dalam Matius 5:23–24. Ia menyatakan bahwa jika seseorang hendak mempersembahkan persembahan kepada Allah, tetapi teringat bahwa saudaranya memiliki sesuatu terhadap dirinya, maka persembahan itu harus ditinggalkan terlebih dahulu. Orang tersebut harus pergi berdamai dengan saudaranya sebelum kembali mempersembahkan persembahan kepada Allah. Pernyataan ini sangat lugas dan tidak memerlukan penafsiran yang rumit. Allah tidak menerima ibadah orang percaya yang relasinya dengan sesama belum diselesaikan. Sekalipun seseorang membawa persembahan, Allah tidak bergeming, sebab yang diperhatikan Allah bukanlah apa yang dibawa manusia, melainkan keadaan hidup dan relasi rohaninya.
Datang kepada Allah merupakan keharusan bagi orang percaya, tetapi kedatangan itu harus disertai dengan kehidupan yang telah dibereskan. Tanpa penyelesaian relasi dengan sesama, Allah tidak akan merespons doa dan ibadah orang percaya. Relasi dengan sesama manusia memiliki dampak langsung terhadap relasi dengan Allah. Ketika relasi horizontal bermasalah, relasi vertikal pun sesungguhnya sedang terganggu.
Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Allah tidak mengampuni orang-orang percaya yang masih menyimpan kepahitan, dendam, dan kemarahan terhadap sesamanya. Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan, termasuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, apa yang kita harapkan orang lain lakukan kepada kita, seharusnya kita lakukan terlebih dahulu kepada mereka. Dengan demikian, pengampunan yang Allah kerjakan dalam kehidupan orang percaya berkaitan erat dengan pengampunan yang ia berikan kepada sesamanya. Pada akhirnya, perkara pengampunan berada dalam pilihan dan tanggung jawab setiap orang percaya.