Skip to content

Diutus untuk Mencari yang Terhilang

 

Ada sesuatu yang sangat jelas dalam perintah Yesus kepada kedua belas murid: mereka tidak diutus tanpa arah. Yesus memberikan tujuan pelayanan kepada mereka. Mereka harus pergi dan memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Ini berarti pelayanan murid-murid bukan sekadar aktivitas keagamaan. Ada manusia yang harus ditemui. Ada manusia yang perlu mendengar. Ada manusia yang perlu dipanggil untuk kembali kepada Allah. Dalam pelayanan Yesus, manusia tidak pernah diperlakukan sebagai angka. Mereka adalah pribadi-pribadi yang berharga.

Karena itu, ketika Yesus mengutus murid-murid, sebenarnya Ia sedang mengajar mereka untuk memiliki hati yang mencari manusia. Sering kali gereja dapat menjadi sangat sibuk dengan dirinya sendiri. Kita sibuk dengan jadwal, program, rapat, kegiatan, gedung, pelayanan, dan berbagai kebutuhan internal. Semua itu penting. Namun, ada bahaya ketika gereja terlalu sibuk mengurus orang yang sudah ada di dalam sehingga lupa kepada mereka yang belum datang.

Gereja bukan hanya komunitas yang berkumpul, tetapi juga komunitas yang diutus. Kata “pergilah” selalu mengandung gerakan keluar. Ada orang-orang yang tidak akan pernah masuk ke gereja jika tidak ada orang percaya yang terlebih dahulu hadir dalam kehidupan mereka. Ada orang yang mungkin tidak membaca Alkitab, tetapi mereka membaca kehidupan kita. Ada orang yang tidak memahami khotbah, tetapi mereka dapat melihat bagaimana kita memperlakukan sesama. Karena itu, misi dimulai ketika kita melihat manusia bukan sekadar sebagai “orang di luar gereja”, melainkan sebagai pribadi yang dikasihi Allah.

Mungkin ada anggota keluarga kita yang menjauh dari Tuhan. Ada sahabat yang kecewa terhadap gereja. Ada teman kerja yang terluka. Ada seseorang yang hidupnya sedang kacau dan tidak tahu harus kembali ke mana. Jangan hanya bertanya, “Mengapa mereka tidak datang?” Pertanyaan yang lebih sesuai dengan semangat pengutusan adalah, “Apakah saya bersedia datang kepada mereka?” Inilah pergeseran cara pandang yang penting. Yesus mengutus murid-murid bukan hanya untuk menunggu orang datang, tetapi untuk pergi menemui mereka.

Namun, mencari yang terhilang tidak berarti membenarkan segala sesuatu yang mereka lakukan. Berita yang dibawa para murid adalah berita Kerajaan Allah. Ada panggilan untuk bertobat. Ada perubahan hidup. Ada penyerahan diri kepada pemerintahan Allah. Karena itu, kasih dan kebenaran tidak boleh dipisahkan. Kasih tanpa kebenaran dapat berubah menjadi pembiaran. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi penghakiman. Namun, Injil menghadirkan keduanya: manusia dikasihi Allah sekaligus dipanggil untuk meninggalkan jalan yang salah.

Di sinilah hati seorang pelayan diuji. Apakah kita hanya mau melayani orang yang mudah dilayani? Apakah kita hanya mau mendekati orang yang menyenangkan? Apakah kita hanya mau mencari orang yang dapat memberikan keuntungan bagi pelayanan kita? Yesus mengajar kita untuk melihat mereka yang membutuhkan keselamatan. Mencari yang terhilang membutuhkan kesabaran. Tidak semua orang langsung berubah. Tidak semua orang langsung menerima. Bahkan, ada yang mungkin menolak berkali-kali. Namun, kita tidak boleh mengukur nilai seseorang berdasarkan seberapa cepat ia merespons pelayanan kita. Sebab, sebelum orang itu berubah, Allah sudah lebih dahulu melihatnya sebagai pribadi yang berharga.

Mungkin hari ini Tuhan sedang memperlihatkan seseorang kepada kita. Bukan kebetulan kita bertemu dengannya. Mungkin ada orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita supaya kita menjadi jembatan bagi mereka untuk mengenal Kristus. Karena itu, jangan hanya menjadi orang yang menunggu. Pergilah. Carilah. Datangilah. Dengarkanlah. Kasihilah. Beritakanlah Kristus. Sebab, hati seorang murid bukan hanya bertanya, “Bagaimana saya dapat bertumbuh?” tetapi juga, “Siapa yang Tuhan percayakan kepada saya untuk saya bawa semakin dekat kepada-Nya?”