Roma 5:10 mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kalimat, “lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya”? Untuk memahami ayat ini, kita harus membaca keseluruhan pasal, yaitu Roma 5 dan Roma 6. Ungkapan “lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya” dalam bahasa Yunani adalah pollō mallon katallagentes sōthēsometha en tē zōē autou (πολλῷ μᾶλλον καταλλαγέντες σωθησόμεθα ἐν τῇ ζωῇ αὐτοῦ). Apa maknanya?
Kata mallon berarti more atau rather. Kata pollō berarti much atau many. Kata katallagentes berarti to be reconciled (diperdamaikan). Kata sōthēsometha berarti to be saved (diselamatkan). Frasa en tē zōē autou berarti by His life (oleh hidup-Nya). Dalam terjemahan Latin Vulgata tertulis salvi erimus in vita ipsius. Dengan demikian, terjemahan bahasa Indonesia sejalan dengan teks asli Yunani dan juga terjemahan Latin Vulgata.
“Diselamatkan oleh hidup-Nya” berarti bahwa melalui kebangkitan Yesus, orang percaya dapat memperoleh hidup-Nya atau kehidupan Yesus, yaitu kehidupan yang sesuai dengan maksud Allah ketika kehidupan itu dirancang. Diselamatkan oleh hidup-Nya mengandung pengertian bahwa oleh kesalehan, kesucian, dan ketaatan-Nya, kita dapat memiliki kehidupan seperti kehidupan yang Ia jalani. Kehidupan yang Ia jalani adalah kehidupan dalam kesalehan, ketaatan, dan kesucian.
Untuk memahami hal ini, kita harus menyadari bahwa kebangkitan Yesus terjadi karena ketaatan Yesus kepada Allah Bapa. Jika Yesus tidak taat sampai mati, Ia tidak akan mengalami kebangkitan. Artinya, Yesus akan tetap berada dalam kubur kematian jika Ia tidak taat sampai mati. Karena kesalehan, kesucian, dan ketaatan-Nya kepada Allah, Ia memperoleh kebangkitan-Nya. Oleh sebab itu, kita harus membaca Alkitab dengan cerdas dan teliti, dengan hati yang jujur dan pikiran yang sehat. Jangan kita dibelenggu oleh premis atau asumsi ajaran yang sudah ada, seolah-olah ajaran tersebut lebih kuat daripada suara Alkitab—ajaran tokoh mana pun, sehebat apa pun.
Ibrani 5:7 mengatakan, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Yesus tidak dapat membangkitkan diri-Nya sendiri. Ia berdoa dengan ratap tangis dan keluhan. Ia tidak bersandiwara. Ini bukan kisah yang sudah diskenariokan, seolah-olah seluruh kehidupan Yesus telah memiliki skrip dan Ia hanya menjalankannya. Firman Tuhan mengatakan bahwa “karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan,” bukan karena ratap tangis-Nya. Ia boleh meratap dan menangis, tetapi tanpa kesalehan, itu tidak cukup.
Ibrani 5:8 mengatakan, “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.” Kata “belajar” menunjukkan adanya perjuangan dan proses, serta progresivitas dalam ketaatan. Ini bukan sesuatu yang mudah. Allah Bapa tidak bertindak nepotis.
Ibrani 5:9 melanjutkan, “Dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Jadi, jangan kita berpikir bahwa Yesus dengan mudah menyelesaikan tugas kemesiasan-Nya. Ia harus memperjuangkan hidup-Nya dan kebangkitan-Nya. Ini bukan proses yang mudah, sebab Allah tidak menskenariokan perjuangan Yesus. Kemenangan Yesus bukan hasil rekayasa ilahi. Jika demikian, Allah akan tampak licik. Namun Allah kita bukan Allah yang licik. Justru karena itu, Allah dapat berkata dalam firman-Nya bahwa kita dibentuk oleh Bapa untuk menjadi serupa dengan Yesus. Yesus adalah yang sulung di antara kita, orang-orang percaya. Ibarat seseorang yang berhasil menyeberangi Selat Sunda dengan pelampung, lalu setelah berhasil ia menyuruh orang lain menyeberang tanpa pelampung, hal itu tidak adil. Itu licik. Allah tidak demikian.
Alkitab mengatakan bahwa Yesus dapat menolong orang-orang yang menghadapi berbagai pencobaan, karena Ia sendiri telah mengalami hal yang sama, dalam kondisi kemanusiaan yang sama. Itulah sebabnya Ibrani 2:17 mengatakan bahwa “dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia.” Dengan demikian, kehidupan Yesus adalah kehidupan yang penuh perjuangan, bukan sandiwara. Kehidupan Yesus sejajar dan paralel dengan proses keselamatan kita. Keselamatan bukan skenario Allah yang mekanis, melainkan perjuangan nyata yang harus dijalani, yaitu mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.