Setelah sekian lama para murid berjalan bersama Yesus, mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan pelayanan-Nya, dan melihat bagaimana Ia melayani orang banyak, tiba saatnya Yesus memberikan kepada mereka sebuah tanggung jawab. Matius berkata bahwa Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat untuk mengusirnya serta untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Perhatikan urutannya. Yesus memanggil sebelum mengutus. Mereka tidak terlebih dahulu membuktikan bahwa mereka mampu, baru kemudian dipanggil. Mereka dipanggil oleh Yesus, kemudian diperlengkapi oleh Yesus, dan setelah itu dilibatkan dalam pekerjaan-Nya. Inilah salah satu kebenaran penting mengenai kehidupan seorang murid Kristus: Allah tidak hanya menyelamatkan kita untuk menikmati keselamatan, tetapi juga memanggil kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya.
Para murid sebenarnya adalah orang-orang biasa. Mereka bukan kelompok yang secara manusiawi tampak sempurna. Di antara mereka ada Petrus yang kelak menyangkal Yesus, Tomas yang pernah meragukan, dan Yudas Iskariot yang akhirnya mengkhianati Yesus. Namun, Yesus tetap memanggil mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan bukan pertama-tama mengenai siapa kita, melainkan mengenai siapa yang memanggil kita. Sering kali kita memiliki alasan untuk tidak terlibat dalam pekerjaan Tuhan. “Saya tidak pandai berbicara.” “Saya tidak punya pengalaman.” “Saya bukan pendeta.” “Saya masih memiliki banyak kelemahan.” “Ada orang lain yang lebih mampu.” Semua alasan itu mungkin benar secara manusiawi. Namun, panggilan Tuhan tidak pernah didasarkan semata-mata pada kesempurnaan manusia. Tuhan memanggil orang yang bersedia dibentuk dan dipakai-Nya.
Lebih menarik lagi, Yesus memberi para murid kuasa untuk menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka. Artinya, ketika Tuhan memberikan panggilan, Ia juga menyediakan pertolongan yang diperlukan untuk menjalankan panggilan tersebut. Mereka tidak pergi atas nama mereka sendiri. Mereka pergi sebagai orang-orang yang membawa otoritas dari Yesus. Di sinilah kita perlu membedakan antara melakukan pekerjaan Tuhan dan melakukan pekerjaan untuk Tuhan dengan kekuatan sendiri. Seseorang dapat sangat sibuk melayani, tetapi sebenarnya tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Ia bekerja, mengatur, berbicara, memimpin, bahkan menghasilkan banyak hal, tetapi perlahan-lahan merasa bahwa keberhasilan pelayanan bergantung pada kemampuan dirinya.
Pelayanan Kristen tidak pernah dimulai dari kemampuan manusia. Pelayanan dimulai dari panggilan Kristus dan berlangsung dalam kuasa yang Kristus berikan. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk Tuhan?” tetapi juga, “Apakah saya menyadari bahwa hidup saya telah dipanggil untuk menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan?” Di rumah, kita dapat menjadi rekan kerja Allah ketika mendidik anak dalam kebenaran. Di tempat kerja, kita menjadi rekan kerja Allah ketika menghadirkan integritas, kasih, dan kesaksian hidup. Di gereja, kita menjadi rekan kerja Allah ketika melayani bukan demi kedudukan, melainkan demi membangun tubuh Kristus. Bahkan, dalam perjumpaan sederhana dengan seseorang yang sedang terluka, kita dapat menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan penghiburan.
Menjadi rekan kerja Allah tidak berarti kita setara dengan Allah. Justru sebaliknya, kita adalah alat di tangan-Nya. Allah tetap menjadi Pribadi yang bekerja; kita diberi anugerah untuk mengambil bagian dalam pekerjaan tersebut. Karena itu, jangan terlalu sibuk mempertanyakan apakah kita cukup hebat untuk dipakai Tuhan. Lebih baik bertanya, “Apakah saya bersedia dipanggil, dibentuk, dan dipakai Tuhan?” Sebab, Tuhan tidak mencari manusia yang merasa dirinya mampu melakukan segala sesuatu. Tuhan mencari orang yang mau berkata, “Tuhan, pakailah hidup saya.” Panggilan itu adalah kehormatan. Kita yang sebenarnya tidak layak diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Kerajaan Allah.