Skip to content

Dipanggil oleh Tuhan (2)

 

Melanjutkan renungan sebelumnya, penggalan narasi Matius 4:18-19 tentang Simon dan Andreas yang dipanggil menjadi penjala manusia dapat dilihat dari sisi relasi antarmanusia. Sebelum masuk pada implikasinya terhadap relasi antarmanusia, mari kita memeriksa analogi “menjala” dari konteks budayanya. Dalam kehidupan para nelayan, menjala adalah salah satu cara memperoleh penghidupan dari laut. Namun, secara filosofis, dari sudut pandang hewan laut yang ditargetkan, menjala tidak pernah berbicara tentang suatu hal yang baik bagi diri mereka. Terjala oleh jala nelayan berarti akhir kehidupan bagi hewan-hewan laut tersebut. Oleh karenanya, jala adalah musuh mereka yang sebisa mungkin dihindari.

Kengerian jala nelayan ini juga disinggung oleh Pengkhotbah 9:12, “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” Di sini, jala digambarkan sebagai sesuatu yang mencelakakan layaknya perangkap hewan. Penggunaan analogi jala di sini hendak menunjuk pada kemalangan yang secara tiba-tiba menimpa seorang manusia. Seekor ikan tidak pernah tahu kapan jala tiba-tiba menghampirinya, begitu pula dengan manusia yang tidak pernah tahu kapan penderitaan akan menimpanya. Jala tidak pernah menunjukkan sesuatu yang menyenangkan bagi yang terjala olehnya.

Jika kita kembali pada narasi Matius 4:18-19 tentang undangan Yesus kepada Simon dan Andreas menjadi penjala manusia, maka undangan ini tidak berbicara tentang sesuatu yang membanggakan dan nyaman semata. Memang, menjadi orang yang bisa dipercaya Tuhan untuk menjala manusia lain adalah suatu kebanggaan, namun di baliknya ada ketidaknyamanan yang tersirat. Sebagaimana hewan-hewan laut menjauhi jala, begitu pula jiwa-jiwa yang hendak dijala akan tidak menyukai mereka. Mereka bahkan akan dianggap sebagai musuh, seperti ikan menganggap jala sebagai musuh. Bahkan Tuhan berpesan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita aniaya (Luk. 21:12) dan bahkan dibunuh (Yoh. 16:2). Undangan menjadi penjala manusia adalah tantangan yang berat. Terdapat konsekuensi untuk tidak disukai, dijauhi, dikucilkan, bahkan dibunuh karena menyampaikan kebenaran. Undangan ini adalah “bola panas” bagi setiap orang yang menerimanya. Ia harus menggiring bola itu menuju tujuan atau terbakar olehnya. Para murid yang menerima undangan ini harus menyelesaikan panggilan ini dengan baik atau tidak sama sekali.

Panggilan menjadi penjala manusia kepada para murid juga merupakan panggilan yang sama bagi kita. Kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi jiwa-jiwa dan mengumpulkan mereka dalam Kerajaan Allah. Namun, apabila berkaca dari apa yang telah kita gali, tugas ini ternyata bukan tugas yang mudah. Kita akan menghadapi benturan-benturan, gelombang ketidaksukaan, bahkan peminggiran dari sekitar kita saat menjadi seorang “penjala”. Di satu sisi ada kehormatan dan kemuliaan yang menanti, namun di sisi lain ada kesulitan dan penderitaan dalam menjalaninya.

Sewaktu kita menjadi berkat bagi orang lain, pasti akan ada sangkaan buruk atau ketidaksukaan yang mungkin timbul. Misalnya, ketika kita berketetapan hati untuk menjaga integritas, banyak orang yang mungkin tidak menyukai kita, bahkan ingin meminggirkan kita karena dipandang mempersulit. Atau mungkin ketika kita membantu orang lain yang sedang susah, ada saja yang menafsirkan perbuatan kita sebagai “mencari muka”. Apa pun yang kita lakukan bisa saja menjadi pergunjingan bagi orang lain. Hal ini adalah konsekuensi logis. Perbuatan terang selalu menelanjangi kegelapan dan hal tersebut tidak disukai.

Relasi kita dengan sesama manusia mungkin akan terganggu ketika kita berkomitmen merespons panggilan Tuhan menjadi penjala manusia. Kita bisa ragu dan berpikir untuk mundur dari kebenaran yang kita perbuat karena seakan-akan semua sia-sia. Namun, sebagaimana yang dikatakan rasul Paulus dalam Galatia 6:9, teruslah berbuat yang benar. Ada saatnya kita akan menuai apa yang telah kita tabur. Tidak ada mahkota tanpa salib. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan.