Skip to content

Dipanggil oleh Tuhan (1)

 

Matius 4:18-19

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Penggalan narasi di atas dapat ditafsirkan dari dua sisi, yakni dari sisi relasi Tuhan Yesus dengan manusia dan relasi manusia dengan manusia. Keduanya memiliki implikasi yang serius dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Di samping implikasi, keduanya mendatangkan tantangan yang tidak mudah bagi iman kita. Pada hari ini, kita akan menggali kebenaran dari narasi tersebut dalam perspektif relasi Tuhan Yesus dengan manusia.

Ada dua hal menarik dalam narasi ini. Pertama, pemanggilan Simon dan Andreas tampak digambarkan sebagai suatu hal yang tidak terencana. Dalam ayat ke-18 dikatakan bahwa ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia memanggil Simon dan Andreas. Tidak dijelaskan bahwa Yesus sengaja melewati danau Galilea untuk memanggil keduanya. Oleh karenanya, dapat kita katakan bahwa mereka yang terpanggil tidak pernah mengira atau mengantisipasi panggilan tersebut. Mereka dipanggil secara mendadak tanpa sempat mempersiapkan apa pun.

Pemanggilan secara mendadak tersebut menunjukkan kepada kita bahwa sering kali panggilan Tuhan terhadap kita, yang ditunjukkan melalui kehendak dan rencana-Nya dalam kehidupan sehari-hari, tidak selalu datang sesuai dengan keinginan dan waktu kita. Kita tidak bisa memilih kehendak Tuhan yang mana yang akan terjadi pada kehidupan kita di suatu waktu. Kita juga tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk melakukan kehendak Tuhan. Ketika kehendak Tuhan itu tiba, saat yang terbaik untuk mengerjakannya adalah saat itu. Sebaliknya, saat kehendak Tuhan itu dibukakan adalah waktu yang terbaik dan paling tepat bagi rencana Tuhan tersebut. Oleh karenanya, jika hari-hari ini Tuhan mengetuk hati kita dengan lembut melalui Roh Kudus, mari izinkan Dia bekerja dengan cara melakukannya saat ini juga. Relasi dengan Allah tidak dapat kita kendalikan sepenuhnya. Di sinilah ketaatan bekerja. Ketaatan adalah persetujuan untuk melaksanakan kehendak Allah pada momentum yang tepat.

Hal kedua yang menarik dari narasi itu adalah penggambaran kontras dari Matius. Pada dua ayat tersebut, Matius membuat perbandingan. Pada ayat ke-18 digunakan diksi bahwa Simon dan Andreas adalah “penjala ikan”, sedangkan pada ayat selanjutnya digunakan “penjala manusia”. Kontras ini dibuat dengan sengaja untuk menunjukkan pergeseran peran dan fokus dari Simon maupun Andreas. Kalau dulu peran mereka adalah nelayan yang berfokus mencari ikan, maka sekarang mereka menjadi murid yang berfokus pada jiwa manusia. Hal ini menunjukkan bahwa menjalin hubungan dengan Tuhan berarti memiliki kesadaran tentang perubahan peran dan fokus kita.

Kalau sebelum mengikut Tuhan peran dan fokus kita hanya sebatas pada seorang ayah yang mencari nafkah bagi keluarga atau seorang karyawan yang mengerjakan pekerjaan kantor, maka sadarilah bahwa hubungan dengan Tuhan akan mengubahkan hal tersebut. Kita tetap menjadi seorang ayah yang mencari nafkah, tetapi kita memperoleh peran baru sebagai ayah surgawi yang berfokus bukan hanya pada nafkah jasmani keluarga, melainkan warisan kekal melalui teladan hidup yang mengasihi Allah. Kita tetap menjadi karyawan yang rajin bekerja untuk mendapatkan penghidupan, tetapi bukan untuk penghidupan itu saja kita bekerja. Kita menyadari bahwa ada panggilan Allah di sana dan menjadi berkat bagi karyawan lainnya. Ada pergeseran peran dan fokus secara batiniah.

Berelasi dengan Tuhan berarti siap dengan pergeseran peran dan fokus secara batiniah. Banyak orang hanya mengalami perubahan kolom agama di KTP, tetapi tidak menghayati peran dan fokusnya di dalam Tuhan. Hendaknya kita meneliti dalam hati kita apakah fokus yang kita miliki akhir-akhir ini telah bergeser dari “penjala ikan” menuju “penjala manusia”.