Ada dinamika yang Roh Kudus kehendaki kita alami setiap hari atau ada irama yang Roh Kudus kehendaki kita alami atau kita jalani. Ibarat sebuah tarian, ada gerakan yang Roh Kudus kehendaki kita alami dan kita jalani. Dari peristiwa-peristiwa hidup setiap hari, Roh Kudus memiliki dinamika atau irama dan mestinya kita mengerti dinamika, irama, atau gerak yang kita harus jalani dan alami. Kalau dalam satu hari ada lima peristiwa besar yang terjadi, pasti peristiwa yang satu ke peristiwa yang kedua itu memiliki urutan yang namanya kronos (di dalam bahasa Yunani), atau kita mengenalnya sebagai kronologi dalam bahasa Indonesia. Di dalam kronologi itu, Allah bisa merancang apa yang baik dan berguna untuk kita. Maka Allah merancang bagaimana peristiwa demi peristiwa itu memberkati kita. Yang kalau hari itu berlalu, kita sudah memperoleh maksimal berkat yang Tuhan sediakan.
Bukan tidak mungkin peristiwa yang pertama, lalu peristiwa yang kedua dan seterusnya memiliki urutan yang pasti sempurna. Jika sejak pagi kita sudah menghadap Tuhan, kita minta tuntunan Tuhan, kita minta kepekaan Tuhan, maka Tuhan akan menuntun kita dari satu peristiwa ke peristiwa yang berikut, yang berdinamika ilahi, berdinamika Roh Kudus. Kalau kita bisa melewati peristiwa yang pertama dengan baik, maka peristiwa yang kedua akan melengkapi. Kalau peristiwa kedua melengkapi berkat yang telah kita terima di peristiwa pertama, maka peristiwa ketiga atau kejadian ketiga melengkapi. Dan jika kita mengikuti dinamika tersebut, maka sehari itu berkat yang Tuhan sediakan lengkap utuh kita terima.
Namun, sering kali kita tidak mengikuti dinamika Tuhan, tapi kita mengikuti dinamika kita sendiri. Peristiwa pertama kita berhasil, peristiwa kedua kita gagal. Mungkin tidak gagal total, tapi tidak utuh, sehingga berkat yang kita terima mestinya penuh, menjadi tidak penuh. Peristiwa ketiga, kemungkinan kita juga tidak akan mendapatkan berkat yang utuh, kemungkinan. Tapi bisa saja Tuhan kemudian menolong kita untuk bisa memiliki pengertian, hikmat, tuntunan, sehingga kita bisa memiliki berkat yang utuh. Tapi karena yang kedua sudah gagal atau tidak utuh, sehingga berkat yang kita terima hari itu tidak atau kurang penuh. Hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita. Jadi, betapa kita benar-benar membutuhkan pimpinan Roh Kudus, dari bangun tidur kita menghadap Tuhan, dari peristiwa atau kejadian pertama yang kita alami, kita mulai waspada.
Kejadian pertama kita lewati, muncul kejadian kedua, kita juga lewati. Itu luar biasa, sebab dengan pikiran manusia kita tidak tahu, tapi Tuhan dalam kecerdasan-Nya bekerja dalam segala hal, mendatangkan kebaikan bagi kita. Tuhan mendesain kejadian-kejadian dalam hidup keseharian untuk kebaikan kita, dan itulah yang dikatakan sebagai dinamika Allah, dinamika Roh Kudus. Tidak ada satu kejadian yang tidak ada berkatnya. Kalau Allah bekerja dalam segala sesuatu, pasti kehadiran Allah di dalam peristiwa hidup itu ada berkatnya, sebab tidak ada sesuatu yang bisa dikatakan kebetulan. Kalau firman Tuhan mengatakan, “Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu,” itu berarti Tuhan mengukur, menakar setiap kejadian yang terjadi, Tuhan sudah membuat jaring, screening apa yang bisa kita alami, dan apa yang Allah tidak kehendaki kita alami. Pasti Tuhan sudah mendesain itu.
Maka kita harus merespons setiap kejadian demi kejadian dengan sikap hati yang benar, dengan keputusan atau pilihan yang benar. Hanya Roh Kudus yang bisa menuntun kita. Dan ajaibnya, di setiap peristiwa ada suara Tuhan, kecuali kalau kita merespons peristiwa itu sesuka kita, kecuali kita menanggapi peristiwa tidak dalam pimpinan Roh Kudus, maka kita kehilangan suara Tuhan; suara yang pasti mengandung nasihat, pengarahan, tuntunan. Jadi, berkat kekal tersedia di setiap peristiwa demi peristiwa. Firman Tuhan juga mengatakan, “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Berarti di setiap kejadian, Allah memberikan rhema. Tuhan sudah tahu peristiwa-peristiwa apa yang akan terjadi, dan Tuhan menyiapkan suara-Nya, nasihat-Nya. Kecuali kita tidak menanggapi peristiwa dengan sikap hati yang benar, maka kita akan kehilangan suara itu, kehilangan berkat itu.
Apalagi kalau kita mengeraskan hati, tidak mau mengerti proses pembentukan Tuhan, maka kita jadi tidak mendengar dan tidak melihat kemuliaan Allah. Peristiwa-peristiwa hidup mengandung kemuliaan Allah, karena ada suara Tuhan, nasihat Tuhan di situ, yang adalah berkat kekal. Jadi, Allah membutuhkan peristiwa atau kejadian untuk memberkati kita, untuk membuat dinamika. Dan di dalam dinamika itulah Tuhan menyempurnakan kita. Peristiwa demi peristiwa merupakan rangkaian proses yang bertahap, dan sangat sempurna. Dan itulah anugerah yang tidak diberikan Tuhan kepada orang lain yang bukan umat pilihan, tetapi diberikan hanya kepada umat pilihan yang mengasihi Tuhan.