Skip to content

Dimulai dari Hal-hal Kecil dan Sederhana

 

Orang percaya adalah orang yang memiliki kehidupan yang tidak diatur oleh siapa pun kecuali oleh Allah Bapa sendiri. Sebab pemerintahan-Nya dihadirkan oleh Roh Kudus dalam hidup kita. Kita tidak lagi berada di bawah hukum, tetapi bukan berarti hukum tidak diperlukan; hukum umum harus terlebih dahulu dilalui. Jika kita membaca Alkitab Perjanjian Baru, seolah-olah Tuhan tidak menekankan hukum. Namun kita jangan lupa bahwa Tuhan Yesus berhadapan dengan orang-orang Israel yang sangat tertib hukum dan fanatik terhadap hukum. Karena itu Tuhan tidak perlu lagi berbicara tentang hal-hal yang terlalu detail. Pada akhirnya yang ditekankan bukanlah hal lahiriah, melainkan batiniah.

Masalahnya, bagaimana seseorang dapat diatur oleh Allah jika ia tidak memiliki kapasitas seperti Allah? Bagaimana seseorang dapat berjalan seiring dengan Allah jika ia tidak memiliki kemampuan untuk melangkah bersama dengan-Nya? Karena itu, pada tahap awal hukum berfungsi sebagai tutor atau pembimbing supaya manusia hidup tertib. Setelah moralnya ditertibkan secara umum, barulah seseorang masuk ke wilayah kesempurnaan. Tuhan menghendaki orang percaya memiliki kualitas moral seperti Allah sendiri. Hal ini dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak terlambat datang ke kantor, tidak korupsi, menghormati atasan, memanusiakan sesama, dan lain sebagainya.

Namun jika kita sudah belajar firman Tuhan, secara jujur kita harus mengakui kesalahan kita dan meninggalkan yang salah sampai pada akhirnya kita memiliki naluri seperti Allah Bapa. Sebab ketika Tuhan berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa,” di balik pernyataan itu Tuhan ingin menyatakan bahwa kita adalah keturunan Allah. Kita memanggil Dia Bapa karena kita adalah anak-anak-Nya. Tuhan Yesus sendiri menyebut Bapa di awal khotbah-Nya. Untuk apa? Supaya kita diingatkan bahwa kita ini adalah keturunan Allah. Karena itu, hal-hal kecil harus kita bereskan terlebih dahulu.

Kualitas moral Allah harus berada di atas moral umum. Inilah yang Bapa kehendaki dimiliki oleh anak-anak-Nya: kesempurnaan. Dengan demikian, menjadi sempurna berarti orang percaya hidup sepenuhnya di bawah pengaturan Tuhan. Jika Roh-Nya ditempatkan dalam diri kita, apa maksudnya? Jika hanya untuk melakukan hukum, sebenarnya kita tidak perlu Roh Allah tinggal di dalam kita. Buktinya, kita dapat melihat banyak orang non-Kristen yang juga memiliki perilaku baik, bahkan sangat baik. Kita melihat bagaimana mereka membela keadilan, membela kebenaran, hidup jujur, dan itu sangat mengagumkan. Jadi, jika kita memiliki Roh Kudus, tujuannya adalah supaya kita dapat menjadi sempurna seperti Bapa—segala sesuatu yang kita lakukan seiring dengan kehendak Bapa. Kita tidak lagi diatur oleh hukum, melainkan oleh Allah Bapa.

Jika kita masih hidup liar dan bahkan belum lulus dalam hukum umum, bagaimana kita dapat menjadi anak-anak Allah? Tidak ada anak Tuhan yang hidup di luar kontrol Allah melalui Roh-Nya. Roh Kudus ditempatkan dalam diri kita untuk mengontrol kehidupan kita. Dahulu Taurat berfungsi sebagai tutor; sekarang Roh Kudus menuntun kita sampai hati kita menjadi lembut. Sampai kita memiliki filosofi hidup Tuhan Yesus seperti yang tertulis dalam Yohanes 4:34: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Irama hidup-Nya adalah melakukan kehendak Bapa. Sebenarnya sejak semula Allah tidak merancang manusia untuk hidup di bawah bayang-bayang hukum atau aturan. Itulah sebabnya ketika Allah menciptakan manusia dan meletakkan dasar bumi ini, Allah tidak merumuskan hukum.

Ada agama-agama yang merasa bangga karena memiliki banyak peraturan. Namun dalam kekristenan, peraturan bukan tujuan utama; jika ada peraturan, itu hanya sebagai tutor atau pembimbing awal. Karena manusia telah rusak oleh dosa, maka hukum harus dilalui terlebih dahulu. Allah memberikan kemampuan moral kepada manusia untuk memahami pikiran dan perasaan Allah sehingga manusia dapat sepikiran dan seperasaan dengan-Nya. Sekarang kita dipulihkan oleh Tuhan supaya kita selaras dengan Allah Bapa. Jadi ketika Allah berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” itu berarti kita harus memiliki perasaan seperti Bapa. Hal ini berlaku bagi orang yang telah diselamatkan—orang yang dipulihkan kembali kepada rancangan Allah yang semula. Namun kenyataannya tidak banyak orang yang memperhatikan hal ini; hanya sedikit orang yang benar-benar mengejarnya. Karena itu, janganlah kita menjadi lemah!